Terbayar  sudah penantian selama hampir satu dekade. Sejak 20 Oktober 2016 lalu, kuartet Danang Prihantoro/Unbound (vokal), Muhammad Syafii (gitar), Patra Gumala (bass) dan Zaini Arasyid (dram) yang tergabung dalam formasi Speedkill, telah merilis resmi album terbarunya yang bertajuk “Buas” via Sang Hitam Records. Agresi terbaru dari unit thrash metal asal Jakarta yang dibentuk pada 2004 silam ini akhirnya menuntaskan rasa penasaran setelah perkenalan mereka via album debut berjudul “Metallium A. D” (2007).

Kini, Speedkill kembali memacu adrenaline lewat tensi musik berkecepatan tinggi dengan karakter sound yang lebih modern dan segar plus sentuhan old school sehingga terdengar lebih groovy. Selain dikerjakan sendiri oleh Unbound selaku ilustrator untuk artwork cover di album kedua ini, Speedkill juga berkolaborasi dengan dua ilustrator lain, yakni Anggarez dan Riza Oyoy untuk mengisi artwork di sisi lain sleeve cover album.

“Buas” sendiri merupakan album yang mengangkat tema tentang bagaimana cara menikmati hidup dan bersenang-senang versi Speedkill. Memang membutuhkan proses dan persiapan yang sangat matang untuk materi album kedua mereka ini. “Secara spesifik kami ingin menunjukkan bahwa musik rock itu, dari segi musikal, seharusnya dimainkan dengan penuh amarah dan liar,” ungkap pihak band kepada MUSIKERAS, tentang alasan di balik pemilihan judul “Buas”.

Dan untuk mewujudkan ekspresi itu, mereka butuh waktu cukup lama untuk berkesperimen dan bereksplorasi. “Di album kedua ini, kami bereksplorasi dengan sound. Ketika proses mixing dan layer gitar dibuat lebih lebar, karakter sound dram di album ini lebih ‘nampol’ dari materi Speedkill sebelumnya, dan untuk bass di album ini kami pakai tiga layer ditodong dua mik sama direct.”

Selain itu, mereka juga menyebut proses pemilihan lagu yang akan dimasukan ke dalam album turut berkontribusi pada melarnya durasi penggarapan “Buas”. “Pengaturan jadwal musisi tamu juga, yang terkadang jadwal rekamannya bentrok dengan kegiatan lain mereka. Juga proses mixing yang memakan waktu lama.”

Tapi sepanjang proses rekaman tersebut, para personel Speedkill mengaku menjalaninya dengan penuh semangat. Apalagi, ini pertama kalinya mereka berkolaborasi dengan musisi yang berbeda genre, yaitu hiphop, seperti yang tertuang di lagu “Dan Biarkan Menghitam”. “Output yang dihasilkan di luar ekspektasi kami. Di lagu ini sisi groovy-nya lebih menohok! Berkolaborasi dengan musisi lain menjadi pengalaman yang asik buat kami selama rekaman.”

Walau melabeli genre-nya sebagai penggeber thrash metal, namun Speedkill justru memperkaya referensi musiknya dari pengaruh-pengaruh genre lain. Di antaranya, mereka menyebut album “Appetite for Destruction” (Guns N’ Roses) dan “Dr. Feelgood” (Motley Crue) dengan tambahan bumbu dari Midnight, Wolfbrigade, Faith No More hingga Turnstile. Sementara untuk bass cenderung mengarah ke gaya Frank Bello (Anthrax) dan Lemmy (Motorhead), sedangkan dari segi sound gitar, lebih mengacu ke Metallica. Semuanya dieksekusi dengan memadukan instrumen bass Fender Aerodyne, gitar Fender Stratocaster dan Telecaster Jim Root Series, ampli Mesa/Boogie dan Orange serta dram Sonor.

Album “Buas” tersedia dalam dua versi, deluxe (di-bundling dengan bendera dan canvas slipcase) serta format regular CD. Susunan lagunya sebagai berikut: 1) Buas, 2) Dengarkan Saja Speedkill”, 3) Kumainkan Ronk n Roll Untukmu, 4) Menebar Angkara, 5) Melebarkan Luka, 6) Lagu Merdu Penyambut Masa Depan, 7) Dan Biarkan Menghitam

 

 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY