Bloody Underwear, unit metalcore asal desa kecil bernama Leles, yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, akhirnya berhasil meluncurkan album penuh perdananya yang bertajuk “Depresi” pada sebuah konser khusus, sekaligus pesta launching yang bertempat di GOR Putra Siliwangi, Garut, pada Minggu, tepatnya 13 November 2016. Pada kesempatan itu, Okuy Screamsick (vokal, gitar), Ale (bass), Indra (gitar) dan Almy (dram) juga mengajak beberapa musisi tamu yang telah membantu penggarapan “Depresi”, yakni Akew (Nectura), Addy Gembel (Forgotten), Diaz (Disinfected) dan Ega (Undergod).

Di albumnya sendiri, yang digarap selama setahun penuh, Bloody Underwear mengemas sembilan lagu plus satu intro. Akew dilibatkan di lagu “Satu Luka”, lalu Addy Gembel di lagu “Depresi”, Ega di “Aku dan Dosaku” dan Diaz di komposisi “Suram”. Lagu lainnya berjudul “Hina Tak Berharga”, “Kisah Kelam”, “Perih”, “Ragu” dan “Bunuh Aku”.

Jalan menuju penggarapan album dimulai sekitar tahun 2014. Waktu itu, menurut penuturan Okuy kepada MUSIKERAS, Bloody Underwear mengikuti salah satu proyek album kompilasi. Dan setelah itu, niat melahirkan album untuk mengemas semua hasil karya mereka sejak 2008 hingga 2016 pun menggebu. Pertemuan dengan Akew dari Nectura menjadi jawaban mimpi tersebut. Singkat cerita, sejak November 2015 lalu, Bloody Underwear pun mulai masuk studio rekaman di kawasan Ujungberung, Bandung di bawah bimbingan Akew.

“Kami memberanikan diri masuk studio rekaman dengan bekal seadanya dan sangat minim untuk mencukupi biaya rekaman. Alhamdulillah, kami disambut baik di studio itu oleh para senior di sana. Mereka turut membantu proses rekaman. Akew adalah orang yang sangat kami repotkan dalam penggarapan album. Selama di sana kami banyak bertanya tentang sounding dan Alhamdulillah semua sangat terbuka dan turut membantu. Semua berjalan begitu saja tanpa rencana. Demi Tuhan semua di luar ekspektasi kami, dan selama satu tahun proses album ini pun berakhir dengan biaya yang begitu besar menurut kami, dan kami membayarnya dengan uang hasil manggung sana-sini,” ulas Okuy mengenang.

Bloody Underwear sendiri terbentuk pada 18 Agustus 2008. Niat awalnya hanya untuk seru-seruan, untuk menyalurkan hobi dan menghilangkan kejenuhan, tanpa ekspektasi berlebih sama. Bahkan menurut Okuy, ia dan rekan-rekannya di band sempat bingung memilih nama band, hingga terlontar ide dari ayah Okuy untuk menamai bandnya, ‘kancut berdarah’. “Saya sempat risih dengan nama itu, dan saya pun inisiatif untuk mengganti namanya dengan bahasa Inggris.”

Sebelum mempunyai karya lagu sendiri, Bloody Underwear manggung di berbagai acara dengan meng-cover lagu-lagu metal milik band luar seperti Trivum, Gojira, Sepultura hingga Bullet For My Valentine. Lalu mulai coba-coba masuk studio rekaman untuk menggarap single ciptaan sendiri bertajuk “Bunuh Aku” dengan modal dana sebesar 250 ribu rupiah. Hasilnya lantas diunggah ke berbagai media sosial dan membiarkannya menjadi santapan gratis para metalhead. Metode itu terus diulang hingga tak terasa mereka punya lima lagu yang beredar luas di skena musik ‘bawah tanah’. Perlahan tapi pasti, tawaran mangggung pun berdatangan.

“Sejak saat itu kami memutuskan untuk lebih serius,” ulas Okuy meyakinkan. “Kami tidak berambisi untuk menjadi besar, hanya berharap orang-orang tahu bahwa ada band Garut yang bernama Bloody Underwear. Tapi ternyata semuanya di luar prediksi, kami terus-menerus mendapatkan tawaran manggung sana- sini. Kami sangat menikmatinya.”

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY