Tepat di perayaan Hari Pahlawan”, 10 November 2016, band rock indie OMNI mengumumkan dramer baru mereka, yakni Robby Wahyudi, asal Medan yang baru berusia 22 tahun. Amank Syamsu (vokal), Romy Sophiaan (bass) dan Rully Worotikan (gitar) memperkenalkan Robby di panggung “Rockadelic” yang berlangsung di Foodism, Kemang, Jakarta Selatan.

Robby Wahyudi akhirnya dipilih dari semua pendaftar yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Dramer muda ini berhasil meyakinkan Rully, Amank dan Romy setelah diaudisi di tiga show event. Menurut Rully, OMNI butuh dramer yang masih muda, punya karakter dan juga skill, dan Robby memiliki kriteria itu.

Sejak 2012, Robby merantau dari Medan ke Jakarta khusus untuk belajar dram. Ia merupakan anak didik dari dramer senior Inang Noorsaid dan Handy Salim, yang ditempat selama dua tahun untuk menjadi dramer berkualitas. Bersama Robby, kini OMNI semakin optimis untuk memanaskan berbagai panggung lewat geberan rock yang berenergi tinggi.

OMNI, yang dalam bahasa Latin berarti “semua”, terbentuk pada April 2012, dengan Rian Bamiftah di posisi dramer. Awalnya, kuartet indie yang menyebut aliran musiknya dengan istilah rock magnetic ini menempatkan OMNI sebagai proyek sampingan, karena para personelnya telah disibukkan dengan band mereka masing-masing. Amank Syamsu sebelumnya lumayan malang melintang di dunia café dan juga menjadi rapper pendamping duo Mahadewi. Lalu ada Romi Sophiaan, putra Almarhum aktor kenamaan Sophan Sophiaan, telah memiliki band beraliran grunge bernama Konspirasi. Sementara Rully Worotikan tercatat sebagai seorang produser yang di antaranya pernah menangani album milik Armada, RAN, Marcell Siahaan, hingga Vicky Shu.

Seiring dengan perjalanan waktu serta jalinan chemistry yang semakin kuat membuat OMNI semakin serius beraktivitas sebagai sebuah band yang solid. Dan hasilnya, sebuah album penuh mereka rilis pada 2013, bertajuk “Medulla Oblongata” yang banyak terinspirasi spirit rock era ‘90an.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY