Setelah bertutur tentang kisah kelahiran di album perdana, “Celebration of Birth” yang dirilis pada 2012 silam, unit rock progresif asal Jakarta, Montecristo kini menganyam cerita dengan tema sebaliknya. Lewat album terbarunya, “A Deep Sleep” yang diedarkan via label Demajors, tema kematian diulas dari berbagai sudut, dan disenandungkan lewat komposisi ‘rock yang berkisah’, konsep yang telah menjadi ciri khas Montecristo.

Eric Martoyo (vokal), Rustam Effendy (gitar), Fadhil Indra (kibord, piano), Alvin Anggakusuma (gitar), Haposan Pangaribuan (bass) dan Keda Panjaitan (dram) mulai menggarap “A Deep Sleep” pada awal 2013 di beberapa studio di Jakarta, dan baru berhasil dirampungkan tiga tahun kemudian. Sementara untuk proses mastering dieksekusi oleh Steve Smart di Studio 301, Sydney, Australia.

Sementara penulisan lirik dilakukan Eric dalam kurun waktu terpisah-pisah. “Karena saya suka travelling, jadi biasanya saya mulai menulisnya saat berada dalam penerbangan berjam-jam. Saat berada dalam pesawat, saat itu kan saya tidak bisa dihubungi siapa pun, jadi saya menulis lirik di saat orang-orang lainnya (di pesawat) tertidur,” ungkapnya kepada media, saat melangsungkan peluncuran resmi “A Deep Sleep” di Hard Rock Cafe, Jakarta, kemarin (7/12) sore.

Lirik memang menjadi titik sentral dari suguhan musik Montecristo. Sepuluh lagu yang disuguhkan mengurai kisah-kisah variatif dari berbagai latar belakang inspirasi, mulai dari cerita perjalanan dan perjuangan Alexander The Great yang hidup di era 350 tahun sebelum Masehi, tentang curahan hidup ilmuwan Stephen Hawking yang secara total menguak misteri alam semesta, serapan fiksi seorang wanita terpidana mati dari novel “Perempuan di Titik Nol” hingga percakapan menjelang kematian di lagu “A Deep Sleep”.

Montecristo memang sangat mengedepankan formula ‘rock yang berkisah’, lewat penyampaian cerita, menggarisbawahi pesan dan mengajak pendengar berkontemplasi. “Kami percaya musik adalah kendaraan yang tepat untuk itu,” cetus Eric meyakinkan.

Oh ya, perilisan “A Deep Sleep” yang sangat kental dengan ramuan rock progresif sekalian dipersembahkan untuk mendiang Andy Julias, musisi dan tokoh yang dianggap berjasa mengembangkan rock progresif di Tanah Air, yang sudah berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa pada 17 Februari silam. “Album ini sebagai penghormatanatas jasa-jasanya lewat komunitas Indonesian Progressive Society (IPS),” imbuh Rustam Effendy.

Susunan lagu di album “A Deep Sleep”: 1) Alexander, 2) Mother Nature, 3) The Man In A Wheelchair, 4) Simple Truth, 5) Ballerina, 6) A Deep Sleep, 7) A Blessing Or A Curse?, 8) Point Zero, 9) Rendezvous, 10) Nanggroe

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY