Lagi, sebuah band cadas potensial dari Pulau Dewata, Bali meneriakkan eksistensinya ke skena nasional. Baru-baru ini, band beraliran mathcore yang digerakkan formasi Agung (vokal), Windu (dram), Pandu dan Adi (gitar) serta Weda (bass) ini telah merilis single keduanya, yang bertajuk “Libido Angkara”.

Di lagu tersebut, Advark mencoba menggambarkan keadaan emosi, amarah dan ketidakpuasan atas beberapa kebijakan dan program dari pihak penguasa. Seperti yang dituturkan lewat siaran pers resminya, lirik yang mereka semburkan terinspirasi dari tragedi kemarahan rakyat Papua yang merasa tanah mereka yang kaya akan emas telah dikeruk habis oleh kepentingan bisnis pertambangan. Sementara rakyatnya sendiri tidak mendapatkan kontribusi langsung sehingga menyebabkan adanya gerakan Papua merdeka. Lalu juga Tragedi 1998, saat terjadi ledakan kemarahan rakyat dan mahasiswa atas rezim pemerintahan Orde Baru yang menuntut adanya revolusi. Tak lupa juga isu serupa yang terjadi di tanah Bali, dimana rakyat turun ke jalan untuk menolak reklamasi yang berkedok revitalisasi Teluk Benoa.

Dari segi musikal, menurut Adi yang dihubungi MUSIKERAS, kemarahan dalam lirik menjadi energi yang meluap-luap terhadap musiknya. “Kami merasa, kami dapat menyerap energi kemarahan ke dalam sebuah alunan nada dalam tempo cepat dan garang,” cetusnya.

Proses rekaman “Libido Angkara” sendiri dilakukan di Warehouse Studio, sementara khusus untuk dram dieksekusi di 49 Wreckord. Mixing dan mastering digarap oleh Utha di Warehouse studio.

Sambil melakukan promosi untuk single kedua tersebut, kini Advark juga sedang menjalani proses penggarapan EP perdana yang rencananya akan dirilis tahun ini. “Sejauh ini kami masih dalam proses tracking gitar. Rencananya pertengahan Maret kami sudah sangat matang untuk merilis EP. Jadi silakan ditunggu kabar terbaru dari kami,” ungkap Adi lagi.

Advark terbentuk di pertengahan 2015, dengan formasi Agung, Windhu, Adi, Pandu dan Harry (bass). Tak lama, Harry mengundurkan diri dan digantikan oleh Weda, yang sebelumnya tergabung di band Mort. Advark sendiri, bisa dibilang terbentuk karena ada rasa kejenuhan dari para personelnya terhadap band masing-masing sebelumnya. “Jadi bisa dibilang sebuah kejenuhan menyatukan kami,” ujar Adi sambil tertawa.

Tapi dari segi musikal, Advark dibangun dengan pengaruh berbagai genre, yang melekat pada masing-masing personel. Adi sendiri menyebut beberapa nama yang menjadi panutannya, di antaranya seperti Baptist, Converge, Deafheaven, Bachhus, Code Orange serta beberapa band lokal macam ALICE, Avhath, Haul dan Gerram. (MM)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY