Mengawali 2017, usai mengintroduksi kehadiran lewat single berjudul “The Wanderers” beberapa waktu lalu, DUNIA akhirnya meluncurkan debut EP bertajuk “Semesta Fana” secara independen pada 2 Januari lalu. Untuk memaksimalkan promosinya, band beraliran progressive/djent metal berformat instrumental ini menggandeng komunitas sekaligus media non-profit internasional, It Djents. “Semesta Fana” yang memuat lima komposisi, yaitu “Evolvians”, “The Wanderers”, “Traverse The White Light”, “Be, and it is” dan “Ignition 1.6.” tersebut bisa didengarkan di kanal YouTube via akun ItDjentsTV.

Untuk memberi sentuhan berbeda pada album mini tersebut, Yutsi – gitaris sekaligus produser DUNIA – menggaet musisi tamu di dua lagu mereka untuk berkolaborasi. Gitaris asal Jepang, Soichiro Mizuno (Takenawa Intrigue/Sebon) dihadirkan di lagu “The Wanderers” untuk mengisi solo gitar. Sementara di bagian akhir akhir lagu “Ignition 1.6.”, terdapat tiupan saksofon solo dari Jeremiah Sormin (Jemi). Di ranah metal, permainan saksofon solo tentu saja bukan hal yang lumrah.

Keputusan menghadirkan musisi tamu, menurut Yutsi, adalah salah satu strategi mereka untuk bisa melibatkan diri di kancah internasional. Setidaknya, bisa menembus wilayah Asia sebagai pembuka. “Kami berinisiatif melibatkan Soichiro Mizuno karena kami melihat ada karakter yang sangat brilian pada Soichiro yang sangat pas bila dituahkan pada lagu ‘The Wanderers’, dan juga agar skena musik metal instrumental antara Indonesia dan Jepang bisa mulai saling mengenal, sehingga tidak lagi ragu untuk berkolaborasi di tingkat Asia,” papar Yutsi kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

Sementara di komposisi “Ignition 1.6.”, penempatan saksofon dilatari naluri eksplorasi para personel DUNIA, yang juga dihuni Joshua (dram) dan Redhy (additional guitar). “Kami penasaran bagaimana bila lagu metal yang heavy diisi oleh solo saksofon yang notabenesoft’.”

Proses rekaman “Semesta Fana” sendiri digarap para personel DUNIA di studio rumah masing-masing sejak terbentuk pada Januari 2015. Namun karena kesibukan kuliah mereka, DUNIA baru mulai serius digarap setahun kemudian. Untuk isian bass, sekaligus pengolahan mixing dan mastering dipercayakan pada Wisnu Ikhsantama, yang juga dikerjakan di rumahnya sendiri. Soichiro Mizuno sendiri mengirimkan file rekaman gitarnya dari Jepang lewat e-mail, sedangkan Jemi take di studio Joshua.

“Kami sebagai band baru dan independen harus belajar dan mengerti semua proses dari nol hingga menjadi musik,” ungkap Yutsi terus-terang. “Total proses penggarapan ‘Semesta Fana’ selama dua tahun. Kendalanya yaitu waktu dan jarak. Selain karena kesibukan masing-masing, juga karena saya tinggal di Depok, Joshua di Tangerang, Redhy di Pondok Ranji. Jadi kalau mau ketemuan untuk latihan dan meeting rekaman harus bener-bener dipastiin, hehehe.”

DUNIA sendiri memilih djent sebagai ‘agama’ musiknya karena terinspirasi band-band dan beberapa proyek instrumental progresif yang mengeksplorasi aspek-aspek musik yang luas, seperti time-signature, scale, chords, tone, dan karakter masing-masing individu. Antara lain, referensinya berkisar pada musik dari Periphery, Haunted Shores, Intervals, TesseracT, Meshuggah, hingga Liquid Tension Experiment.

“Awalnya, kami sepakat untuk membuat proyek DUNIA ini secara serius namun santai. Kami sempat memiliki vokalis, namun karena sang vokalis memiliki kesibukan yang tak terelakkan, dan setelah kami rembuk beberapa bulan, kami pun memutuskan untuk maju dengan format instrumental.”

Album “Semesta Fana” kini sudah bisa didengarkan di Bandcamp (dunia.bandcamp.com), atau dibeli di iTunes, Spotify dan distributor musik online lainnya. Versi kemasan fisiknya sendiri dalam waktu dekat juga akan dirilis. (MM)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY