Sejak Travis Smith hengkang dari formasi Trivium pada 4 Februari 2010 silam, permasalahan di lini dram sepertinya tak pernah tuntas di tubuh band heavy metal (sebelumnya dikenal ber-genre metalcore) asal Florida AS tersebut. Penggantinya, Nick Augusto yang pertama kali tampil mengawal konser Trivium di Jakarta pada 11 Februari 2010 tersebut lumayan bisa bertahan lama. Bahkan terlibat di penggarapan dua album, yakni “In Waves” (2011) dan “Vengeance Falls” (2013). Pada 7 Mei 2014, Nick mundur dari band dan digantikan oleh Mat Madiro. Usai perilisan album “Silence in the Snow” (2015), posisi dramer kembali berubah.

Pada 5 Desember 2015, Trivium yang dihuni Matt Heafy (vokal, gitar), Corey Beaulieu (gitar, vokal) dan Paolo Gregoletto (bass) lantas merekrut Paul Wandtke, atas rekomendasi dari Mike Mangini, dramer Dream Theater. Tapi belum sempat menghasilkan album, Paul dipecat dan digantikan oleh Alex Bent, yang diumumkan pada awal 2017. Alex sendiri telah mengantongi pengalaman bermain dram bersama band Battlecross, Decrepit Birth, Testament serta proyek band Eric Peterson (gitaris Testament) yang bernama Dragonlord. Penampilan Alex pertama kali bersama Trivium terjadi pada 11 Februari 2017 lalu, di sebuah konser di Dublin, Irlandia. Tahun ini juga, Trivium dengan Alex di belakang perangkat dram akan berkonsentrasi menggarap album baru.

Setelah perilisan album debut bertajuk “Ember to Inferno” (2003) – atau sekitar empat tahun setelah terbentuk – nama Trivium melesat tinggi berkat album keduanya, “Ascendancy” (2005) yang terjual sebanyak lebih dari 500 ribu keping di seluruh dunia. Album yang antara lain melejitkan lagu “Pull Harder on the Strings of Your Martyr”, “A Gunshot to the Head of Trepidation” dan “Dying in Your Arms” tersebut juga merupakan album pertama Trivium yang melibatkan gitraris Corey Beaulieu dan bassis Paolo Gregoletto. Album “Ember to Inferno” sendiri sempat dirilis ulang via label Lifeforce Records pada 2 Desember 2016 lalu.

Menurut Matt Heafy, tujuan merilis ulang album tersebut adalah untuk menunjukkan Trivium di era awal, dimana “Ember” merupakan titik awal perjalanan karir Trivium mulai dikenal di dunia. “Sangat bermakna buat saya, mengingat saya baru berusia 16-17 saat menulis dan merekam album tersebut.Saat ini, saya masih merasa tidak percaya orang-orang menyanyikan lagu-lagu yang saya tulis saat berusia 16 tahun. It’s an amazing feeling.”

Kredit foto: Jon Paul Douglass

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY