Setelah vakum sejenak dan membereskan masalah perubahan formasi, band ber-genre gothic asal Semarang, Cultural langsung membuka lembaran karir mereka di 2017 dengan meluncurkan album split dengan band Histeria, bertajuk “Ada dan Tiada” via label CB Production Jakarta.

Kali ini, konsep musik mengarah ke style ala band Eropa, Within Temptation yang mengolah musik berdistorsi dengan progresi lagu yang easy listening. Hasil olahan itu tersirat jelas di single terbaru Cultural yang juga berjudul “Ada dan Tiada”, sebuah lagu yang bercerita tentang khayalan dan imajinasi seseorang yang menginginkan sesuatu yang tidak pernah dapat tersentuh, tetapi serasa selalu ada di dalam dirinya.

Cultural yang dibentuk pada Juni 2005 oleh Cahyo Sulistiyo – gitaris sekaligus komposer utama band ini – kini dihuni formasi Michelle (vokal), Cahyo (gitar), Anthony (gitar), Sanwar (bass) dan Wahyu (dram). Dengan formasi baru ini, Cahyo mengaku sedikit banyak berpengaruh terhadap olahan musiknya.

“Ada sedikit perubahan dibanding album pertama dan kedua,” cetus Cahyo kepada MUSIKERAS. “Untuk album yang ketiga ini, musik kami cenderung lebih soft, memasukkan string dan unsur orkestra. Sengaja kami buat supaya lebih easy listening.”

Selain lagu “Ada dan Tiada”, ada dua lagu lagi yang disuguhkan Cultural di album split tersebut, yaitu “Selamanya” dan “Sadness” dimana liriknya, kata Cahyo, berusaha mengekspresikan tema ‘love, beauty, darkness’. “Bertemakan cinta, tetapi tidak cengeng seperti tema musik pop. Konsep musiknya gothic symphonic, dan liriknya bercerita tentang keabadian.”

Proses penggarapan rekaman “Ada dan Tiada” sendiri terbilang singkat, hanya butuh sekitar dua bulan, sejak disepakati untuk eksis lagi. Menurut Cahyo, adanya dukungan dari banyak pihak yang membuat proses kebangkitan Cultural menjadi lancar. “Karena setelah sekian lama vakum, akhirnya kami sepakat berdiri lagi karena support dari teman-teman dan fans yang menginginkan kami berkarya lagi.” (Mdy)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY