Setelah hampir tiga tahun berjalan sejak dibentuk pada pertengahan Januari 2014 silam, unit metalcore asal Jakarta, Hellfreezed akhirnya meletuskan sinyal perilisan album. Saat ini, proses rekamannya sudah merampungkan tujuh lagu, dan mungkin akan berkembang menjadi 10 lagu. Dan awal Februari 2017 lalu, mereka telah meluncurkan single baru bertajuk, “Parade Malapetaka”, melengkapi dua single sebelumnya, yakni “Warzone” dan “Coretan Pemberontak”.

Lewat “Parade Malapetaka”, para personel Hellfreezed, yakni Dhanu Arviansyah (vokal), Rifki Handani (dram), Agra Damia Saputra (bass), Yan Akbar Nugraha (gitar) dan Yudis Monoarfa (gitar) merasa yakin telah menemukan formula musik yang benar-benar mewakili mereka. Tidak seperti di penggarapan “Warzone”, dimana waktu mereka masih banyak tersita untuk penguasaan materi. Kondisi itu baru mulai membaik di penggarapan “Coretan Pemberontak”, dimana mereka lebih matang dalam penguasaan materi, lebih dewasa dan lumayan detail dalam urusan pengolahan sound. 

“(Saat itu) Kami mulai detail, mulai dari tuning dram, frekuensi Hi-Mid-Low– nya benar-benar kami teliti dan sound gitar terbilang sangat simpel. Kami hanya memakai Mesa/Boogie Road King II head dan di-micing dengan Sennheiser e906. Untuk bass cukup memakai sistem direct dengan Tech 21 SansAmp,” ungkap Yan Akbar kepada MUSIKERAS.

Saat menjalani proses rekaman “Parade Malapetaka”, Hellfreezed bisa memaksimalkan waktu rekaman. Mereka memulainya dengan melakukan workshop selama sebulan, yang terbagi atas penggarapan guide untuk gitar, lalu running semua part di studio, finishing lirik dan terakhir memutuskan recording. “Karena kami tidak mau menunda-nunda,” tandas Yan lagi.

Dari segi sound, Hellfreezed mengeksplorasi sound dengan sangat presisi. Mulai dari dram yang dibuat tidak terlalu metal. Mereka melakukan tuning dan mocking. Begitu juga dengan gitar, dimana Yan memakai dua unit head amplifire, yakni Peavey 6505 dan Mesa/Boogie Roadking II untuk mendapatkan sound ritem dan lead yang berbeda.

Di luar urusan musik, Hellfreezed melirik masalah-masalah seputar kehidupan sosial dan politik sebagai inti mengungkapan lirik. Seperti pada “Parade Malapetaka” yang menceritakan aksi damai 411 dan juga 212 yang berlangsung di Jakarta belum lama ini. Di lagu ini, Hellfreezed mengasumsikan bahwa kejadian tersebut bisa saja memecah belah kesatuan NKRI.

“Sebenernya,” ungkap Yan, “proses kreatif album pertama ini, untuk lirik, tidak terpaku sama tema. Kami memang spontan untuk penulisan lirik. So, Apa yang terjadi hari ini langsung kami catat. Tapi tidak jauh-jauh dari segi sosial-politik, karena kami tidak bisa lepas dari dua hal itu.”

Geliat Hellfreezed bermula dari jamming iseng yang dilakukan Yan, Agra dan Yudis di UKM Musik Kastik Perbanas, membawakan lagu-lagu dari Metallica, Stone Sour dan Paramore. Karena jenuh, mereka lantas mengajak teman satu kampus, Rifki untuk  mengisi posisi dram. Setelah Dhanu, teman SMA Yan bergabung, mereka pun mulai sering memainkan lagu-lagu milik Lamb of God. Referensi musik pun berkembang, antara lain dari Trivium, As I Lay Dying, Killswitch Engage, Behemoth, Within Tempetation, Alter Bridge, Veil of Maya, Periphery, Architecs, Structures, Animals As Leaders dan bahkan The Aristocrats. Mereka juga mendengarkan pahlawan-pahlawan metal lokal seperti Burgerkill, Deadsquad, Seringai, Parau, Aftercoma, Jasad, Straight Out, Hellcrust, Revenge the Fate, dan masih banyak lagi.

Benang merah musik Hellfreezed sendiri bisa dibilang mengental di metalcore. Selain simpel, karena mereka ingin memasukkan berbagai elemen musik. Selain dari sub-genre metal, juga ada sentuhan jazz, blues dan genre lainnya. “Kami menggabungkan semua kebutuhan para personel. Setiap hari referensi itu datang terus. Terus terang kami tidak mau terpaku pada satu konsep. Kami ingin tetap terus bereksplorasi dari segi kreatif dan teknikal.” (Mdy)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY