Sejumlah rencana seru telah dicanangkan unit rock alternatif asal Jakarta, Sajama Cut tahun ini. Antara lain perilisan album dengan materi baru, EP (album mini) serta perilisan beberapa single. Namun sebagai langkah pemanasan, pada akhir Februari ini, Sajama Cut mengawalinya dengan merilis ulang dua album awalnya, yakni “Apologia” dan “The Osaka Journals” via label Kebun Suara, yang dikemas dengan tambahan trek bonus.

Walau kedua album tersebut memiliki karakter berbeda dari sudut pandang musikal, namun pihak band memutuskan untuk merilisnya secara bersamaan. Karena pada hakekatnya, menurut vokalis Marcel Thee, “Apologia” dan “The Osaka Journals” adalah sebuah kesatuan. “Meskipun masing-masing memiliki presentasi yang berbeda, tekstur emosional dan nilai historisnya bagi gue merangkum era Sajama Cut yang spesifik dan sama,” ulasnya lewat press release.

“Apologia” sendiri awalnya dilepas pada 2001 silam. Tapi hingga kini, Sajama Cut masih kerap mendapat pertanyaan seputar “Apologia” dan harga kasetnya meroket tinggi. “‘Apologia’ dibuat tanpa audiens sama sekali. Kami hanya ingin menuangkan kecintaan pada musik-musik yang kami dengarkan pada zaman itu, khususnya Norwegian Black Metal seperti dua album pertama Burzum dan Emperor, serta musik-musik industrial seperti Cabaret Voltaire, Coil, dan Einstürzende Neubauten,” papar Marcel lagi.

“The Osaka Journals” dirilis empat tahun kemudian via Universal Music Indonesia, dan dirilis ulang oleh Elevation Records dalam format vinyl dan kaset pada 2013. “‘The Osaka Journals’ adalah refleksi langsung dari itu semua. Kami berhenti menggunakan distorsi, bernyanyi dalam bahasa Inggris, dan mulai memasukkan banyak sekali elemen musik country dan folk seperti Hank Williams, Son Volt, Whiskeytown.

Kepada MUSIKERAS, Marcel mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang secara sadar dan tidak sadar menjadi alasan terjadinya ‘pergeseran’ sound Sajama Cut. Terutama setelah perilisan “Apologia”, dimana Marcel mendadak jatuh hati pada musik milik Hank Williams, Son Volt, Wilco (‘Being There’, ‘AM’) dan juga musisi-musisi yang disebut ‘Outsider Music’ seperti Jandek, Daniel Johnston, dan lain-lain.

“Ini semua (terjadi) karena pada era 2000an – saat ‘Apologia’ kami rilis – saya pindah untuk tinggal di Perth, Australia – di daerah yang sangat sepi dan dikelilingi semacam hutan kecil. Saya juga hanya memiliki satu gitar akustik untuk menemani saya di sana. Jadi kombinasi semua hal itu yang membuat nuansa menulis lagunya lebih sendu dan minimalis. Saya juga menjadi cukup malas ketika semakin mendalami politik rasis atau fasis dari band-band black metal Norwegia seperti Burzum dan lain-lain – meskipun sampai sekarang saya masih menyukai musik mereka.”

“Apologia” dan “The Osaka Journals” kini sudah bisa didapatkan lewat mail order dengan harga Rp 60.000 per keping. Juga disediakan family pack, berupa paket dua CD sekaligus dengan harga yang lebih murah, hanya Rp. 100.000. Untuk merayakan reissue ini, Sajama Cut yang kini dihuni Marcel Thee (vokal), Dion Panlima Reza (gitar), Randy Apriza Akbar (bass), Hans Citra Patria (kibord) dan Banu Satrio (dram) juga memberi trek bonus, yakni versi rekam ulang lagu “Mari Bunuh Diri” dari album “Apologia”.

Lantas kenapa mereka memilih “Mari Bunuh Diri” untuk direkam ulang? “Karena lagu itu sudah menjadi semacam legenda sendiri, dipenuhi dengan mitos-mitos tentang arti liriknya. Lucunya tentu saja, banyak orang yang belum pernah benar-benar mendengar lagunya sendiri. Kontradiksi antara lirik dan musiknya adalah sebuah hal yang sangat ‘khas’ Sajama Cut. Lagunya juga menyenangkan untuk dimainkan – khususnya bagian solo dan (pada bagian) nyanyian ramai-ramainya. Kami merasa bahwa ini adalah lagu yang akan seru untuk dibawakan dan dinyanyikan bersama fans di panggung. Rekamannya dikerjakan di studio kami sendiri, dan cukup cepat (prosesnya), mungkin hanya sekitar seminggu.”

Sajama Cut terbentuk pada 1999 silam di Jakarta. Mereka telah merilis empat album, yakni “Apologia” (2001), “The Osaka Journals” (2005), “Manimal” (2010) dan “Hobgoblin” (2015), sejumlah album mini serta berpartisipasi di beberapa soundtrack dan album kompilasi, termasuk di antaranya  film “Janji Joni” dan “JKT: SKRG” yang legendaris. Single mereka, “Less Afraid”, “Fallen Japanese”,  “Alibi”, “Painting/Paintings,” dan “Fatamorgana” bahkan berhasil menembus peringkat pertama di beberapa chart radio.

Sejauh ini, Sajama Cut tercatat telah bekerja dengan beberapa musisi dan videografer dari Amerika Serikat, Inggris, Luxembourg, Jerman, Singapura, Jepang, Norwegia, Swedia dan Belanda dan tampil di berbagai konser, berbagi panggung dengan band-band kelas dunia dan lokal seperti Asobi Seksu, MGMT, The Whitest Boy Alive, Ruins Alone, Ken Stringfellow, The Radio Dept., Sore, White Shoes and the Couples Company dan The Brandals.

Cetakan pertama album teranyar Sajama Cut, “Hobgoblin” yang dirilis pada Juni 2015 lalu, yakni sebanyak 1000 keping, berhasil terjual cepat. Album tersebut dirilis di bawah naungan label Elevation Records dalam format vinyl 12″, CD, dan kaset. Dalam album ini, Sajama Cut berkolaborasi dengan 20 pelukis, ilustrator, penulis puisi, videografer dan sutradara sebagai bentuk kampanye promosinya. (mdy)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY