Setelah merilis album debut bertajuk “Bloody Orange” pada 2014 lalu dengan lumuran elemen rock yang sangat kuat, kini gitaris solo asal Jakarta, Zendhy Herdian Kusuma mencoba melebarkan eksplorasi musikalnya. Lewat album terbarunya, “Encore” yang dirilis secara independen, Zendhy mencoba menggerayangi elemen lain, yakni fusion sambil tetap menjaga kestabilan spirit rocknya.

“Dasarnya semuanya rock, kelihatan dari aksen setiap lagu. Karena memang dasar permainan gitar gue rock. Cuma (kali ini) dengan sound yang tidak terlalu distortif,” seru Zendhy kepada MUSIKERAS, memperjelas.

Butuh waktu sekitar setahun bagi Zendhy untuk merampungkan album yang memuat sembilan komposisi instrumental ini. Salah satu faktor yang membuatnya butuh waktu lama adalah adanya perubahan konsep yang membuat Zendhy harus mengubah pola pikirnya dalam bermusik. “Menciptakan nuansa yang berbeda dibnading album pertama – yang 90% bertema rock. Kali ini gue bereksperimen dengan mindset yang berbeda.”

Saat penggarapan “Encore”, Zendhy banyak mendapat dukungan dari beberapa musisi yang cukup dikenal mumpuni di bidangnya. Gitaris dan produser Denny Chasmala menangani teknis produksi rekaman, serta ada pembetot bass senior Bintang Indrianto yang memainkan fretless bass di komposisi “Tears of the Smile” dan “The Sweet and Sour of You”. Untuk sebagian besar eksekusi musiknya, Zendhy dibantu oleh bassis Franky Sadikin serta dramer Yandi A. (Groovader) dan Ganda Saputera.

Zendhy memulai persentuhannya dengan musik dan khususnya gitar lewat studi musik-musik klasik. Lalu seiring perjalanan waktu, ia mulai mengembangkan permainan musiknya lewat instrumen gitar elektrik. Sejauh ini, Zendhy sudah mengantongi gelar musik internasional dengan major gitar elektrik, di antaranya dari LRSL (Licentiate of Rockschool Level) London dengan predikat terbaik, lalu FLCM (Fellow of The London College Music) University of West London serta dari Institut Kesenian Jakarta. Selain itu, Zendhy juga berhasil meraih beberapa penghargaan kompetisi gitar elektrik, antara lain menjuarai Fender Guitar Festival, MOB Jazz & Blues Guitar Festival serta beberapa penghargaan lainnya.

Di luar itu, Zendhy yang sehari-hari juga mengembangkan sekolah musik bernama Istana Nada Music School di kawasan Jakarta Selatan, antara lain meramu musiknya dari berbagai pengaruh dan inspirasi. Di antaranya dari musisi internasional seperti Hiromi Ueda, Tigran Hamasyan, Steve Vai, Richard Marx, Allan Holdsworth,  OST Final Fantasy, Joe Satriani hingga Richie Kotzen ini juga telah melakukan beberapa kolaburasi musik dengan musisi luar. Di antaranya dengan Marco Sfogli (gitaris James Labrie dan Virgil Donati Band), Ron Thal (Bumblefoot) dari Amerika Serikat, Jeroen Simmons (dramer band  Epica, Belanda), Leonardo Guzman (gitaris asal Kolumbia), Steven Agnew (Rockschool UK Examiner) hingga Fayeed Tan (gitaris Filipina). (Mdy)

Susunan lagu di “Encore”: Encore, Splashing Water, Fruit Punch, The Broken Code, Tears of the Smile, Scrambled Egg, The Sunflower, It’s A Wonderful Day, The Sweet and Sour of You

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY