Apa yang coba diwujudkan di “Jakarta Rockulture: The Headbanger Years”, sebuah event festival yang berlangsung di Hall L3 & L4 Kuningan City Mall, Jakarta, semalam, adalah mencoba menghadirkan nostalgia keseruan skena rock dan metal yang lebih terfokus pada era ‘80an hingga pertengahan ‘90an. Pihak penyelenggara pun mengemas dekorasi venue dengan atribut-atribut yang terkait dengan niat nostalgia itu.

Misalnya, mereka menebarkan selebaran info konser berbentuk flyer dan poster yang ditempelkan di pilar-pilar sekitaran panggung. Kita akan menemukan flyer fotokopian Metallica, Anthrax hingga D.R.I. yang mengundang penonton untuk melirik kendati saat itu sebuah band sedang beringas di panggung. Lalu sejak melewati pintu masuk pun, berbagai memorabilia album-album musik keras berformat cakram padat (CD) dan piringan hitam (vinyl) terpajang di sisi kanan jalur penonton, yang tentunya dimaksudkan memberi semacam pemahaman awal dari niat festival ini, agar ada kesamaan visi dengan penonton sebelum terjun menghadapi sensasi geberan distorsi di depan panggung. Maksud yang sama juga diterapkan di lantai atas yang difokuskan pada gerai-gerai penjualan CD dan merchandise.

Tentu saja, jualan utama hajatan ini terjadi di atas panggung yang dilengkapi layar multimedia. Ada leburan konsep antara nostalgia dan komersil. Sisi nostalgia diutarakan melalui penampilan band-band seperti Oracle, Arrowguns dan SYL yang bertugas membangkitkan kenangan pada era dimana musik dan attitude adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, dimana musik adalah ekspresi dan bukan kendaraan untuk menjadi selebriti, dimana musik adalah kebebasan tanpa kekangan dari pihak pelaku industri. Ketiga band tersebut menggetarkan panggung lewat suguhan nomor-nomor keras milik Metallica, Guns N Roses dan Iron Maiden era awal.

Berhasilkah misi mereka? Bagi penonton yang mengalami era itu, kelihatannya lumayan terhibur. Ade Hirmenio misalnya. Gitaris band grindcore senior Noxa yang juga tampil di Jakarta Rockulture ini mengaku sangat menikmati penampilan SYL. “Tadi lihat mereka keren banget, dapet banget,” serunya puas.

Ya… paling tidak, apa yang terhidang di Jakarta Rockulture ini jauh lebih greget dibandingkan menyaksikan penampilan band-band tersebut dari balik tembok cafe, dalam konsep acara berembel “Nite” atau “Tribute” yang cenderung klise dan membosankan.

Lantas konsep apa yang mewakili sisi komersil dari acara yang juga menampilkan Getah, Cosmix Vortex, Divine dan Sleep/Knot ini? Ya tentu saja kehadiran band-band seperti Deadsquad, Koil dan Seringai. Tak bisa dipungkiri – tanpa mengesampingkan kualitas performa band-band lainnya – ketiga band itulah magnet utama festival ini. Para pengagumnya berhasil ‘dididik’ menjadi militan dan loyal. Bahkan tidak sedikit yang hanya datang khusus untuk mendukung salah satu band tersebut, lantas tanpa ragu meninggalkan panggung dan venue setelahnya. Dan fenomena itu juga terjadi di arena Jakarta Rockulture ini. Benar-benar sebuah penggambaran nyata dari penggabungan ‘rock’ dan ‘kultur’.

Tapi… ada satu catatan penting untuk perhelatan ini, yakni pemilihan venue. Konsep ‘menyaksikan konser di lingkungan yang nyaman’ seperti yang didengungkan oleh Sacca Production sebagai penyelenggara rasanya kurang tercapai. Lokasi yang notabene berada di dalam sebuah mal sedikit membatasi akses. Dan posisi panggung yang dikelilingi dinding kaca membuat tim penata suara kerja keras mengakalinya agar gedoran distorsi tidak sampai memekakkan kuping dan menghilangkan detail suara yang justru menjadi esensi dari sebuah pertunjukan musik. Para penonton yang membawa istri atau suami dan anak pun terlihat tidak terlalu bisa menikmati suasana bising tersebut. Kendati ada pendingin ruangan dan bebas asap rokok. Sepertinya, untuk pelaksanaan berikutnya – terlepas dari perhitungan sisi bisnis dan teknis – menggelarnya di ruang terbuka (outdoor) adalah pilihan yang paling bijak.

Oh ya, penyelenggaraan “Jakarta Rockulture” ini sendiri merupakan hasil penuangan ide dari tim “Rockultura” yang diotaki Riza Satyagraha bersama Oddie (vokalis Getah), Abie Borneo dan Coki Singgih. Tekad utama tim ini adalah membawa Jakarta Rockulture Festival menjadi gelaran tahunan yang mempunyai ciri khas di antara acara-acara musik lainnya, dan menjadi perayaan yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya oleh para metalhead. (Mdy)

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY