Sejak terbentuk pada November 2003 silam di Jakarta Selatan, Sweet As Revenge benar-benar bertekad terus mempertahankan eksistensinya, kendati terus terjadi perubahan formasi. Sejak 1 Juni 2017 lalu, Sweet As Revenge dengan line-up terbarunya, yakni Ananda (dram), Dian (gitar) dan Dinand (vokal) mengawali gebrakannya di 2017 ini dengan meluncurkan single keras bertajuk “We Are Fucking Dead”. Video pendahuluan untuk mempromosikan single tersebut juga telah diluncurkan via kanal YouTube, hasil garapan Matheus Pradana.

Penggarapan lagu “We Are Fucking Dead” itu sendiri dieksekusi Sweet As Revenge dengan bantuan Adi “Easy Tiger” Saptadi sebagai produser dan pengarah musik. Sementara untuk liriknya dikerjakan oleh Ananda Fitria. Menurut pihak band, lirik lagu ini mengekspresikan kegelisahan mereka melihat situasi Indonesia sekarang, dimana orang-orang saling benci, merasa paling benar, sibuk mencari perbedaan. Lupa kalau pun berbeda-beda, tapi tetap satu.

“Lagu ‘We Are Fucking Dead’ kami buat karena kami lelah melihat SARA digunakan untuk memecah belah bangsa ini,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS.

Lewat “We Are Fucking Dead”, Sweet As Revenge mengakui kembali ke akar bermusiknya, dimana sejak awal mereka dikenal sebagai salah satu penggeber paham emo/post-hardcore yang pernah sangat membahana di era 2000an. “Kami terpengaruh band-band Punk Rock dan Hardcore serta band band emo/post hardcore tahun 2000an, selain musik pop tentunya. Siapa yang tidak,” ulas pihak band lagi, menegaskan.

Dalam waktu dekat, Sweet As Revenge juga berharap bisa segera merilis album. “Kebetulan lagu ‘We Are Fucking Dead’ memang merupakan salah satu lagu yang kami siapkan untuk album baru. Ya mudah-mudahan kami bisa rilis secepatnya. Kami juga sedang menyiapkan video klip untuk ‘We Are Fucking Dead’ ini.”

Geliat karir Sweet As Revenge dimulai dari pertemuan Max Praditya, Qzoot (gitar) dan Febri (bass) di sebuah distro di Jakarta. Ketiganya rupanya sama-sama tertarik pada genre post-hardcore, yang akhirnya berujung pada keinginan untuk membentuk band. Pemilihan nama Sweet as Revenge sendiri terinspirasi pengalaman pribadi mereka yang pernah merasakan pengalaman pahit dengan band-band mereka sebelumnya, dan bertekad menjadikan Sweet as Revenge sebagai ajang pembuktian sebagai band yang lebih baik. Formasi ini lantas melahirkan satu single bertajuk “Broken Lines and Empty Smile” dan sempat terabadikan di album kompilasi “Anthems of Tomorrow” (2004) rilisan dE Records.

Empat tahun kemudian, Sweet As Revenge berhasil melahirkan album mini (EP) berjudul “Birth of Expectations” yang dirilis pada 5 Januari 2008. Salah satu single kuat dari album ini adalah “Potret Kehampaan” yang kerap terdengar di radio dan membawa mereka tampil di berbagai event seperti acara komunitas, pensi SMA, acara kampus, bahkan hingga menggelar konser di luar negeri, tepatnya di Malaysia dan Singapura. Pada 2012, Sweet As Revenge merilis album “Live Life. Regret Nothing” yang antara lain melejitkan lagu “Hilang”, “Bebas” dan “Summer”. (MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY