Kehilangan salah satu personel yang telah berjuang bersama selama lebih dari satu dekade, serta banyaknya kendala teknis yang harus mereka hadapi dengan sabar di Kalimantan tidak menyurutkan bara semangat Kapital, salah satu unit cadas dahsyat dari bumi Tenggarong, untuk terus menghasilkan karya musik. Bertekad untuk tak berhenti bernyanyi, menari, dan berputar mengelilingi api!

Berpijak kuat pada sebuah quotes dengan diksi tegas yang cukup membakar dari pahlawan nasional Tan Malaka – ‘Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh seorang pemuda’ –  telah menjadi sumbu yang membuat Kapital bertekad untuk terus berproses hingga hari ini, di tengah segala keterbatasan. Hasilnya, sebuah album baru bertajuk “Semesta Rawa” (Distorsi Records) dengan penggarapan yang hampir tiga tahun tertunda siap dirilis pada awal September 2017 mendatang.

“‘Semesta Rawa’ mulai kami kerjakan pada saat Ramadhan 2015 lalu,” ungkap vokalis Akbar Haka ketika dihubungi MUSIKERAS. Proses rekamannya sendiri terbagi dua tahap, dimana beberapa lagu dikerjakan di Backstage Studio Samarinda, dan beberapa lagu lagi digarap di Distorsi Studio Tenggarong. Sementara untuk proses mixing dan mastering, eksekusinya dipercayakan pada gitaris Ari Wardhana.

Mundurnya bassis Wibi Wibawa Swadharma atau Beng menjadi salah satu hal yang membuat tertundanya penggarapan “Semesta Rawa”. Beng memutuskan meninggalkan kegiatan bermusik dan memilih jalan dakwah serta memperdalam ajaran agama. Bagi Akbar Haka, Ari Wardhana, Dhani Arinda (gitar) dan Indra Kusuma (dram), keputusan Beng harus mereka hargai. Karena bagaimana pun, sejak awal Kapital terbentuk mereka menekankan keyakinan menjadikan band sebagai kendaraan ‘silaturahmi’, bertemu kawan-kawan baru, bahkan seperti keluarga saat mereka berada di jalan untuk bertamu ke kota-kota lain saat menjalani rangkaian pertunjukan.

Berbasis di Kalimantan juga membutuhkan kesabaran ekstra untuk menggarap sebuah album. Menurut Akbar, berbagai kendala teknis harus mereka hadapi. Sebutlah misalnya, koneksi internet yang super lambat, kondisi geografi yang jauh ke mana-mana, serta seringnya pemadaman listrik bergilir yang berpengaruh terhadap penjadwalan studio rekaman. “Jadi kami pernah berasumsi, mungkin jika seandainya Burgerkill itu berasal dan tinggal di Kalimantan, bisa jadi bakal bubar… hehehe.”

Dari lini pengonsepan musik, Kapital kali ini memutuskan kembali ke roots di “Semesta Rawa”, seperti album-album Kapital yang terdahulu, namun dengan sound yang lebih fresh dan kekinian. Pengaruh-pengaruhnya antara lain mereka dapatkan dari band-band seperti Iron Maiden, Megadeth, Killswitch Engage hingga band-band hardcore seperti Madball dan Hatebreed.

“Kemarin kami bermain idealis di (album mini) ep ‘Anonymous’, akhirnya kami sepakat kembali membuat album yang merupakan representasi Kapital banget, dengan pengaruh heavy metal yang kental, sedikit sentuhan hardcore metal, namun tetap dengan nuansa etnik yang kental sebagai identitas kedaerahan kami yang bersal dari Kalimantan.”

Sementara di lini lirik, Kapital masih mengedepankan pesan-pesan dari dunia sekelilingnya, dari apa yang mereka lihat dan rasakan di sekitar kehidupan sehari hari. Masih berbicara tentang kerusakan alam di Kalimantan, tentang hutan, dan juga tentang Indonesia yang saat ini darurat perkawanan. “Negara kita sedang krisis perkawanan, sosial media menjelma menjadi senjata untuk menghujat satu sama lain, hanya karena berbeda pemahaman, taklik buta akan ketokohan, banyak yang akhirnya saling un-follow pertemanan, tidak saling bertegur sapa dan yang lebih gegaba, memutuskan silaturahmi. “Isu-isu itulah yang kami angkat di ‘Semesta Rawa’.” (MK01)

Susunan lagu di “Semesta Rawa”: 1) Prosa Sintesa – 2) Meredam Hujatan – 3) Sajak Matahari – 4) Seperti Api – 5) Deru Perahu – 6) Mutu Manikam – 7) Hybrid Kanibalis – 8) Karma – 9) Semesta Rawa – 10) Supernova – 11) Bangun dan Beranjak

.

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY