Unit deathcore asal Bogor yang telah eksis sejak 2009 silam, Ruin, akhirnya melepas karya album rekamannya yang bertajuk “Zerstorung Beginnt”. Album mini tersebut memuat enam lagu, yakni “Zerstorung Beginnt”, “Ambisi Jiwa”, “Answer of Revenge”, “Flawless”, “Take Back The Throne” dan “Terasingkan”.

Para personel Ruin saat ini, Fajar (vokal), Falis (gitar), EL (dram), Jundi (gitar) dan Rio (bass) menggarap rekaman “Zerstorung Beginnt” bersama produser Bryan di studio Black Record, di Cibinong, Bogor. Judul diambil dari bahasa Jerman, yang mengandung arti ‘kehancuran dimulai’. “Kami pikir (judul) itu unik, biar beda dari yang lain,” ungkap Fajar kepada MUSIKERAS.

Sejak terbentuk hingga merilis album, banyak kendala yang harus dilewati band ini. Yang paling krusial adalah perubahan formasi yang juga akhirnya membawa pergeseran pada genre yang dianut. Awalnya, Ruin dibentuk dengan geberan musik berpaham metalcore hingga 2013. Saat diputuskan berubah menjadi deathcore, konsekuensinya ada beberapa lagu yang te;ah mereka buat tak adapat diikutkan dalam album mini karena berbeda genre.

“Nah, semenjak kami ganti genre, keadaan musik metal indie di kota Bogor itu lagi turun, jadi kami sempet vakum sampe 2014. Vakumnya bukan berati kami nggak main musik, tapi kami sebenernya ngerancang lagu-lagu yang baru, mulai dari segi musik, instrumen sama tema apa yang bakal diusung di dalem ep nanti. Sebenernya sih sampai sekarang juga kondisi musik indie metal di Bogor ini belum seramai dulu waktu pertama Ruin dibentuk, tapi karena gebrakan dari pentolan Ruin, Fajar yang cukup nekat mau ngeluarin ep ketika metal di Bogor lagi drop, baru deh ep Ruin ini bisa terealisasikan dengan beberapa lagu yang udah di persiapkan cukup lama,” ulas pihak band memperjelas.

Untungnya, saat merilis “Zerstorung Beginnt”, respon audiens metal di Bogor lumayan positif. Terutama lagu “Terasingkan” yang justru baru dibikin paling akhir. “Itu lagu paling baru, bener-bener baru dan dadakan bikinnya, belum sempet dibawa ke panggung. Jangankan panggung, latihan aja belum pernah kami bawain, terus liriknya juga dibikin H-3 sebelum track vokal. Tapi uniknya malah lagu ini yang responnya paling banyak diminati sama para pendengar.”

Sisi negatif dalam diri manusia seperti peperangan, konflik, dendam, menjadi titik sentral pembuatan lirik di album Ruin, dimana liriknya kebanyakan dieksekusi oleh Fajar. “Kami ambil sisi negatif karena biar kita sebagai manusia itu ingat bahwa kita punya sisi negatif yang sangat kejam, yang bisa menuai berbagai masalah kalau kita nggak bisa kontrol diri. Makanya diharapkan, saat orang yang denger lagu kami akan sadar dengan sisi negatif mereka dan bisa berubah menjadi lebih baik dan mengurangi sisi negatifnya.”

Dengan mengambil referensi musikal yang telah dikembangkan, yakni dari band-band dunia seperti Suicide Silence, Whitechaple hingga The Black Dahlia Murder, Ruin bertekad membangkitkan lagi demam metal di Bogor. Namun menurut mereka, ada satu ciri Ruin yang membedakannya dengan band-band deathcore lainnya. “Kami lebih soft ya, lebih halus, enggak terlalu berat untuk didengar, ramah di telinga juga, karena instrumennya juga simple, mulai dari lick-lick gitar dan ketukan-ketukan dramnya, nggak rumit, supaya para pendengar lebih mudah memahami musik Ruin.”

Bisa dibilang, Ruin awalnya terbentuk dari keisengan Fajar dan teman-teman di sekitar rumahnya. Namun ternyata ketika manggung, mereka malah mendapat respon yang positif dari audiens. Namun dalam perjalanannya, kerap terjadi pergantian formasi. Bahkan sempat dihuni dramer yang menyalahgunakan nama Ruin untuk kepentingan pribadinya. Pada 2013, dengan formasi yang solid saat ini, Ruin menggeser konsep musiknya ke deathcore dan mencoba merangkak lagi dari awal. Sempat bermunculan sindiran negatif dari audiens saat hijrah ke deathcore, tapi mereka tetap optimis untuk memajukan Ruin yang bahkan kini berhasil menghasilkan album “Zerstorung Beginnt”. (MK01)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY