Album mini (EP) bertajuk “The Four Horsemen” karya Color Theory – unit rock asal Gianyar, Bali – yang sudah dirilis pada April tahun lalu, kembali mengemuka di kalangan komunitas rock. Khususnya di Bali. Namun jika sebelumnya dirilis dalam format cakram padat (CD), kali ini diluncurkan dalam kemasan kaset via label independen Skullism Records.

“The Four Horsemen” sendiri memuat empat amunisi panas, berjudul “Lucifer’s Vulture”, “Four Horseman”, “Hades” dan “Maggotism Anthem” dengan sentuhan stoner rock yang lumayan pekat. Di album tersebut, Color Theory berkisah tentang mitologi ‘four horseman’, yang mana setiap penunggangnya mewakili hal negatif menuju kiamat yaitu perang, kelaparan, wabah dan kematian. Hal ini merupakan sindiran terhadap gaya hidup, keserakahan, ketidakadilan, serta konflik internal dan eksternal pada hidup manusia.

“Kami dapat inspirasi untuk album ini dari problema sosial yang terjadi di sekitar kita. Intinya yang kami ingin sampaikan dari EP ini adalah kritikan yang digambarkan melalui sisi surealisme,” ungkap pihak band kepada MUSIKERAS.

Ketika ditanya mengenai alasan merilis ulang “The Four Horsemen”, pihak Color Theory mengaku terpicu oleh fenomena kembalinya minat para pecinta musik untuk mengoleksi kaset. “Karena setiap cita rasa rilisan fisik tentu fantasinya berbeda-beda, dan kami memilih merilis ulang lagi dalam format kaset karena sekarang kawan-kawan di sini mulai antusias mengoleksi rilisan fisik, terutama kaset.”

Berawal dari pertemanan sesama penggemar skateboard, berujung pada terbentuknya Color Theory pada 2015. Adalah Gus Adhi (gitar), Gus Arik (dram) dan Yus (bass) yang memulainya setelah terpikat lagu-lagu soundtrack skateboard yang kebanyakan rock. Saat Gus Adhi bermain ke rumah Bobby (gitar) yang juga seorang skater dan melakukan jamming, chemistry keduanya terjalin dan akhirnya Bobby pun bergabung di Color Theory. Akhir 2015, Yus mengundurkan diri, lalu digantikan Krisnayana aka Tugus hingga saat ini.

Sejak awal, Color Theory langsung membidik rock sebagai paham utamanya. Kebanyakan terinspirasi dari band-band seperti Black Sabbath, Graveyard, Radio Moscow, Pink Floyd dan The SIGIT. “Karena pada dasarnya kami bersatu lewat musik rock. Tapi konsepnya berubah-ubah seiring berjalannya waktu, sesuai keinginan dan feeling dari masing-masing personel.”

Saat ini, para personel Color Theory sedang mencoba melakukan workshop dan brainstorming untuk menentukan materi-materi lagu yang rencananya akan diabadikan dalam sebuah album. Namun hingga hari ini, belum ada penentuan jadwal perilisannya. (MK01)

.

 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY