“Hail Edan” melengkapi bahasan kami mengenai album kompilasi digital “MUSIKERAS CRACKED IT! VOL. 2” yang telah dirilis MUSIKERAS, bekerja sama dengan Locker Media, pada 22 Juni 2017 lalu. Sebuah nomor cadas pembangkit adrenalin dari Edane, unit rock yang masih disegani di Tanah Air yang dimotori oleh Eet Sjahranie, salah satu guitar hero Indonesia yang pernah memperkuat band rock legendaris, the mighty God Bless.

Album kompilasi “MUSIKERAS CRACKED IT! VOL. 2” sendiri sudah bisa dibeli via berbagai gerai digital seperti iTunes, Spotify, Joox dan lain-lainnya.

Single “Hail Edan” sebenarnya sudah sempat membahana pada 2015 lalu. namun hanya diedarkan dalam format video klip via YouTube. Videonya sendiri digarap Edane bekerja sama dengan tim Digilive. Komposisi aransemen diramu oleh Eet Sjahranie, sementara liriknya digarap Eet bersama personel Edane lainnya, yakni gitaris Hendra Zamzami dan vokalis Ervin Nanzabakri. Juga ada usulan-usulan lirik berbahasa Inggris dari Duncan Rance.

Eet, Hendra, Ervin, dramer Fajar Satritama dan bassis Oktav mengeksekusi rekaman “Hail Edan” di studio milik Fajar, yakni di Ec3 Studio dengan bantuan Cahyadi Harja untuk penataan suara. Sementara untuk mixing dan mastering kembali dipercayakan pada Stephan Santoso (Slingshot Studio), salah satu sound engineer terbaik negeri ini.

Sebenarnya apa yang melatari tercetusnya single “Hail Edan”? Menurut cerita Eet kepada MUSIKERAS, ide membuat lagu itu bermula ketika Edane dijadwalkan akan menjadi opening act konser Sepultura di Kuala Lumpur, Malaysia pada 2012 silm. Nah, dengan asumsi akan manggung di luar wilayah Indonesia, Edane ingin punya lagu dengan lirik yang mengumandangkan semacam sapaan kepada – katakanlah – para follower Edane di luar sana (Malaysia), sekaligus untuk memperkenalkan diri atau ‘menyapa dunia’ via lagu.

“‘Hail’ itu seperti layaknya sebuah sapaan ‘salam’ ala kaisar Roma. Sengaja dipilih kata ‘hail’ daripada ‘salam’, maksudnya supaya lebih greget aja. Namun Sepultura – for some reason – batal manggung di sana yang akhirnya malah manggung bareng Edane dan band-band lainnya di ‘Kukar Rockin’ Fest 2012’. Jadi bukan sebagai ‘opening act’, melainkan sebagai salah satu band pengisi acara. Jadi akhirnya lagu ‘Hail Edan’ tidak diteruskan (penggarapannya) dan baru tahun 2015 akhirnya single itu kami rilis via Youtube.”

Dari segi konsep musikal, Eet mengakui masih ada benang merah dengan album “Edan” yang dirilis pada 2010 silam. “Semacam back to early 90’s rock/metal gitulah, simple classic heavy riffs dan melodic. Bahkan tuned standar dan drop D gitulah. Nggak ada yang khusus, it’s pure just the way it is, simply a classic heavy metal’,” urai Eet lagi memperjelas.

Setelah single “Hail Edan”, ada rencana Edane untuk menggodok single-single baru lagi, yang mana nantinya – jika sesuai rencana – akan disatukan plus tambahan lagu baru untuk dijadikan sebuah album mini.

Sejauh ini, Edane yang bisa dibilang mulai terbentuk pada 1992 telah melahirkan enam album studio, yakni “The Beast” (1992), “Jabrik” (1994), “Borneo” (1996), “170 Volts” (2002), “Time to Rock” (2005) dan “Edan” (2010) serta sebuah album kompilasi bertajuk “9299” (1999). Dari album-album tersebut lahir deretan anthem panggung dahsyat seperti “Ikuti”, “Pancaroba”, “The Beast”, “Jungle Beat”, “170 Volts”, “Rock in 82”, “Cry Out” hingga “Living Dead”.

Oh ya, penjualan “MUSIKERAS CRACKED IT! VOL 1” sendiri saat ini juga masih berjalan, dan bisa dibeli atau didengarkan via kanal-kanal digital seperti iTunes, Spotify, Joox dan lain-lainnya. Sekadar mengingatkan, album tersebut juga melibatkan para pejuang musik cadas berbahaya, seperti band rock legendaris Roxx (Jakarta), Tremor (Jakarta), Arkenstoned (Jakarta), Aftercoma (Bandung), Holykillers (Tangerang) dan Godless Symptoms (Bandung). Lebih jauh tentang rilisan ini, silakan langsung intip di microsite “CRACKED IT!” di portal ini juga.

Dengan rilisan “Cracked It!” ini, MUSIKERAS (yang bekerja sama dengan Locker Media untuk proyek album kompilasi tersebut) semakin memantapkan posisi sebagai media penyaluran idealisme musik penggetar kuping. Kami tak hanya hadir sebagai penebar berita-berita bertensi tinggi, tapi juga telah memuntahkan album kompilasi digital beringas yang merangkum band-band independen di Tanah Air.

Kredit foto: Adi Wirantoko

.

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY