Setelah ditinggal dua personelnya, yakni gitaris Coki Bollemeyer dan dramer Eno Gitara pada awal Juni 2017 lalu, band rock ugal-ugalan Blackteeth lantas bergerak cepat mencari penggantinya. Kini, kedua personelnya yang tersisa, vokalis Said Satriyo dan bassis Jerremia L. Gaol (Jerry) telah menemukan pengisi kekosongan tersebut, paling tidak untuk kebutuhan pembuatan video live dari single yang baru saja diluncurkan, “Pesta Di Neraka”.

I Gusti Vikranta (Viki) yang lebih dikenal sebagai penabuh dram di band rock Kelompok Penerbang Roket salah satunya yang diajak untuk memperkuat formasi Blackteeth. “Lagu ‘Pesta Di Neraka’ ini emang punya unsur rock & roll yang kental. Menurut gue, Viki adalah orang yang sangat tepat untuk bermain dram di lagu ini,” cetus Satriyo meyakinkan.

Alasan senada juga dicetuskan Jerry. “Gue kenal Viki sebagai teman, jauh sebelum ada ide untuk bikin video live ini, dan menurut gue nggak akan sulit buat Viki untuk beradaptasi. Dan emang terbukti, begitu jamming di studio langsung bisa blend-in.”

Viki sendiri mengaku memang menaruh kekaguman pada Blackteeth. Salah satu alasannya adalah masalah attitude yang ia anggap sempurna. “Musikalitas maksimal, dan apa adanya. Kebetulan saat ini mereka butuh dramer dan gue juga tau banget harus seperti apa mengeksekusi lagu ini. Gue kenal mereka sebagai teman, jadi dengan senang hati gue bantu. Band keren seperti ini harus ada di permukaan supaya semua orang tau.”

Satu lagi personel yang ditampilkan di video “Pesta di Neraka” adalah Arya Novanda, seorang gitaris berambut panjang yang sepaham dengan Satriyo dalam konteks musik blues.  “Gue penggemar berat blues, Om Coks (Coki Bollemeyer) juga penggemar berat blues. Gue ngeliat ada anak umur 19 tahun bisa main blues dengan attitude kayak gini, ya gue nggak mikir panjang untuk ngajak (dia) jamming,” urai Satriyo.

Tapi kepada MUSIKERAS, Satriyo menegaskan kehadiran Viki dan Arya bukan dimaksudkan sebagai personel tetap Blackteeth. “So far masih gue berdua Jerry dulu,” cetusnya.

Lagu “Pesta Di Neraka” versi live itu sendiri direkam di studio Palm House, dengan bantuan Pandji Dharma, pentolan band Sirati Dharma, yang berperan sebagai penata suara. Menurut pandji, Blackteeth ini adalah sebuah band live, jadi ia ingin menangkap energi itu. “Gue mau capture mereka bermain musik dengan benar-benar menggambarkan mereka sedang berpesta di neraka!”

Di versi album, single “Pesta Di Neraka” tentunya masih menyuguhkan kontribusi musik dari Coki dan Eno. Di situ, Blackteeth menggeber nafas rock and roll yang kental. “Untuk ‘Pesta di Neraka’, gue coba mengadaptasi lagu ‘Neraka Jahanam’ (Duo Kribo) dan ‘Highway To Hell’ (AC/DC). Harapannya supaya orang bisa benar-benar merasakan serunya pesta di neraka, hahaha,” seru Satriyo dengan nada bercanda.

“Pesta di Neraka” terdapat di album kedua Blackteeth yang bertajuk “Bleki” dan bisa didapatkan dalam format cakram padat (CD) atau via berbagai portal digital seperti iTunes, Spotify, Deezer, Joox, dan layanan music streaming lainnya.

Kasak-kusuk kelahiran Blackteeth dimulai oleh Said Satriyo ketika mengunggah lagu-lagu ciptaannya di SoundCloud pada 2013 lalu. Karena tidak ingin dikenal sebagai musisi solo, maka konsep awal sebagai one-man project pun bergeser menjadi band. Satriyo lalu mengajak Coki Bollemeyer (NTRL/Sunyotok), bassis Jerremia L. Gaol (Sunyotok) dan dramer Eno Gitara (NTRL) untuk bergabung pada awal Januari 2014 dan memilih Blackteeth sebagai nama band. Pada September 2014, Blackteeth merilis album perdananya yang didistribusikan oleh Demajors, yang diperkenalkan lewat single “Bodo Amat” yang sangat mewakili karakter musik Blackteeth yang ugal-ugalan dan tanpa basa-basi. Album ini lumayan menuai kontroversi karena lirik-liriknya yang sangat vulgar dan tanpa sensor.

Kredit foto: Hakim Satriyo

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY