Apakah band Anda pengguna jasa platform distribusi musik online Soundcloud?

Nah, mungkin sebaiknya mulai sekarang mulailah menyelamatkan data-data kalian yang termuat di platform tersebut. Karena sepertinya, perusahaan yang berbasis di Jerman tersebut sedang menghadapi krisis finansial dan terancam tutup.

Paling tidak, hal itu terindikasi dari keputusan mengejutkan dari perusahaan tersebut yang memberhentikan 40%, atau sekitar 173 orang tenaga kerjanya minggu lalu. Tidak itu saja, bahkan kantor mereka di San Francisco, AS dan di London, Inggris.

Dan yang lebih mengkhawatirkan, seperti yang dikutip dari pemberitaan di situs TechCrunch pada12 Juli 2017 lalu, pendiri Soundcloud, yakni Alex Ljung dan Eric Wahlforss mengakui pemberhentian itu terpaksa dilakukan agar bisa menghemat pendanaan Soundcloud. Itu pun kemungkinan hanya cukup bertahan hingga akhir 2017.

Namun, menurut keterangan dari pihak public relation Soundcloud, saat ini mereka juga tengah melakukan perundingan dengan investor untuk kelangsungan hidup Soundcloud. Dan disamping itu, Alex juga menegaskan sampai saat ini tak ada niat untuk menjual Soundcloud dan akan berusaha mempertahankannya sebagai perusahaan yang independen.

Masih menurut penelusuran TechCrunch, konon pemangkasan karyawan Soundcloud kemungkinan besar berkaitan dengan utang Soundcloud yang mencapai USD 70 juta yang diperoleh dari perusahaan (investor) Ares Capital, Kreos Capital dan Davidson Technology. Dana tersebut tadinya diharapkan bisa mendatangkan keuntungan hingga USD 100 juta.

Salah satu faktor yang membuat pergerakan Soundcloud semakin sulit adalah kehadiran perusahaan Spotify dan Apple Music yang juga mengedepankan jasa streaming, sementara Soundcloud sendiri lebih banyak mengakomodasi atau digunakan oleh musisi independen strata bawah, dan mengalami kesulitan mengubah kontennya menjadi berharga (monetizing). Konon, menurut data yang dikeluarkan Soundcloud tiga tahun lalu, sebanyak 175 juta orang mendengarkan lagu-lagu di Soundcloud setiap bulan. Dan kini, banyak analisa yang menyebutkan angka di data tersebut sudah jauh menurun, yakni di bawah 70 juta pendengar. Sampai saat ini, pihak perusahaan belum mengeluarkan data statistik terbaru.

SoundCloud sendiri mulai beroperasi di Berlin pada Agustus 2008 silam, hasil kolaborasi desainer sound asal Swedia, Alex Ljung artis yang juga berasal dari Swedia, Eric Wahlforss. Tadinya, konsep operasional Soundcloud adalah untuk menyediakan jasa bagi para musisi untuk saling berbagi info musik satu sama lain. Nalam dalam perkembangannya, konsep itu bergeser menjadi publishing tool yang memberikan akses musisi untuk mendistribusikan musiknya.

Selama 10 tahun pertama perjalanannya, Soundcloud sebenarnya berhasil meraup keuntungan lebih dari USD 200 juta, namun kini SoundCloud harus menghadapi tantangan baru dan tidak berhasil mempertahankan pola bisnis sebagai YouTube-nya musik. Pihak Soundcloud sendiri menolak jika mereka dibanding-bandingkan dengan perusahaan seperti Spotify, karena pada dasarnya Soundcloud lebih berkonsentrasi pada konten musik yang tak perlu berkaitan dengan label rekaman dalam urusan pembagian keuntungan.

Nah, bagaimanakah nasib Soundcloud selanjutnya? Kita tunggu! (MK03)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY