Tema lirik yang terjalin dari penyaluran racauan diri yang ekpresif biasanya – tanpa disadari – menggiring ke pelepasan yang abstrak, lewat olahan komposisi musik yang sarat manuver, dan tak tersudutkan oleh pakem genre yang biasanya cenderung mengikat. Formula itulah yang dijalani Rekah, saat unit post-hardcore eksploratif ini menggarap album mini (EP) perdananya yang bertajuk “Berbagi Kamar”.

Materi lagu di album rilisan label independen asal Bandung, Royal Yawns tersebut ditulis oleh Tomo Hartono (gitar/vokal) sejak 2015 lalu, berisi ungkapan gangguan mental, yang lantas berujung pada usaha untuk melampauinya dengan cara berdamai dengan absurditas. Tomo mengurainya secara berkesinambungan lewat lagu-lagu bertajuk “Lihat Aku Menghancurkan Diri”, “Mengeja Langit-Langit”, “Seribu Tahun Lagi”, “Tentang Badai dan Pagi Setelahnya” dan “Belajar Tenggelam”.

“‘Berbagi Kamar’ bercerita tentang pengalaman hidup dengan gangguan mental, bagaimana kecemasan, ketakutan, dan kesepian menghantui pikiran tiap hari, jam, menit, detik, milidetik. Bukan hal yang mudah, tentu saja. Mungkin dengan menulis EP ini, kami bisa mulai memberikan suara pada mereka yang selama ini takut berbicara akibat stigma negatif di masyarakat tentang gangguan mental. Pada akhirnya, mungkin EP ini tak bisa menyelamatkan siapa-siapa, namun rasanya, merilis karya yang begitu telanjang seperti ‘Berbagi Kamar’ bisa menjadi awal yang bagus untuk memulai pembicaraan mengenai gangguan mental dalam keseharian,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, memperjelas.

Untuk mendapatkan dukungan sisi musikal yang mewakili ekspresi dari lirik-liriknya, Tomo, Faiz Alfaresi (vokal), Johan Junior (dram), Marvin Viryananda (gitar), dan Yohan Christian (bass) tidak segan-segan meregangkan segala referensi sefleksibel mungkin.

“Kami berusaha untuk menggabungkan semua bentuk musik yang pernah kami dengarkan – dari black metal, emoviolence, shoegaze, hardcore punk, hingga math rock – untuk menciptakan bentuk musik baru. Untuk setiap lagu, kami selalu mengerjakannya secara guyub dalam studio untuk memastikan transisi antar bagian tetap koheren dengan narasi yang kami ceritakan dalam tiap lagu.”

Formula itu, lanjut Rekah, sekaligus untuk menghindari keklisean bernama genre. Mereka lantas menyebut sejumlah nama yang mereka akui menjadi sumber inspirasi untuk melonggarkan area kreativitas musikal mereka, saat mematangkan konsep musik di “Berbagi Kamar”.

Dari ranah black metal misalnya, Rekah antara lain menyimak Alcest, Griefloss, Austere, Silencer dan Lantlôs. Lalu dari kumpulan skramz/post-hardcore/emoviolence ada Orchid, Suis La Lune, Daïtro, Envy dan Heaven in Her Arms. Untuk kontur shoegaze, ada Whirr, Nothing, dan My Bloody Valentine. Sedangkan dari arus emo revival, Rekah juga banyak terinspirasi oleh Snowing, Marietta dan The Cabs.

“Kami agak enggan menyimpulkan musik kami ke dalam suatu bentuk label yang rigid. Sebagai sebuah grup yang menganggap eksperimentasi bunyi dan bentuk sebagai suatu hal yang penting dan perlu, kami merasa pelabelan diri hanya akan membatasi manuver kreatif kami.”

Proses rekaman “Berbagi Kamar” sendiri dieksekusi Rekah di Kandang Studio, dimana teknisnya dibantu oleh Haryo Widi Adhikaputra, bassis Tarrkam dan Moonbeams. Seluruh proses tracking dimulai pada pertengahan 2016 di studio tersebut, termasuk penataan suara hingga penyelarasan akhir.

Wacana mewujudkan Rekah dimulai sekitar 2014 lalu, saat Tomo masih tergabung di Amukredam sebagai vokalis. Kebetulan ia memiliki beberapa materi yang ingin dikembangkan. “Ide awalnya adalah membentuk sebuah proyek sampingan di mana saya bisa mencari tahu sejauh mana saya bisa mengeksplorasi batasan-batasan musik agresif,” ucap Tomo beralasan.

Sejak awal terbentuk, Rekah memiliki visi untuk menulis lagu-lagu yang dapat diledakkan di panggung tanpa menjadi robot yang hanya tahu bagaimana menulis riff dalam 200 bpm. Dan tentunya, hal tersebut tak bisa diwujudkan sendirian. Pada tahap inilah proses pencarian personel dimulai. Tomo lantas mengajak Junior atas dasar kesamaan referensi musik black metal, Yohan untuk referensi math-rock Jepang serta rock progresif, Marvin dari unit shoegaze dan Marvin untuk pengolahan tekstur shoegaze dengan birama-birama yang tak biasa, untuk memperkaya musik Rekah. Terakhir, sebagai pelengkap energi eksplosif Rekah di panggung, Tomo pun mengajak Faiz untuk bergabung.

EP “Berbagi Kamar” kini sudah bisa didapatkan di berbagai macam kanal musik digital seperti Spotify, iTunes, Apple Music, Amazon, Deezer, Tidal dan Bandcamp. Selain itu, pihak label juga merilis format fisik berupa cakram padat (CD) dan pita (kaset) yang bisa dipesan melalui akun Instagram mereka, @rekahruah, atau via situs https://royalyawns.com. (MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY