Karakteristik musik yang sangat dinamis dan tidak membosankan membuat Monoserus, trio cadas asal Pekanbaru, Riau memilih paham Post-Metalcore/Djent sebagai amunisi utamanya. Lewat album mini debut bertajuk “Blasted!” yang sebentar lagi mereka rilis, Giovano Caesar (vokal), Arie Delvin (gitar) dan Nurwahyanto Eko (dram) memadukan kerasnya dentuman khas metalcore dan Post-Hardcore dengan entakan polyrhythm khas Djent sehingga terciptalah nuansa baru dalam ragam musik underground di Pekanbaru.

Ada empat trek berbahaya yang digelindingkan Monoserus di “Blasted!”. Sebagai pembuka, sebuah single instrumental berjudul “Intro/The Agony” yang diharapkan dapat menggiring pendengarnya ke dalam keperihan dan kemarahan yang akan dikoarkan di trek-trek berikutnya. Urutan berikutnya adalah “Terror” yang sarat sindiran kepada sekelompok orang yang mengatasi masalahnya secara membabi buta serta penyebaran dogma radikalisme penuh kepalsuan yang mengganggu mental bertoleransi dalam negeri ini. Di trek ketiga, “Desolation”, Monoserus menyoroti penderitaan dan kehancuran yang disebabkan oleh kaum prestis terhadap kaum minoritas yang terjadi di negeri ini. Trek terakhir, “Hypocrite” menceritakan tentang wujud superior, yang menganggap jalan mereka yang paling benar, pelik tanpa memperdulikan sesama, sosok yang menjadi imej menakutkan bagi kaum minoritas.

Penggarapan “Blasted” sebenarnya sudah dilakukan Monoserus sejak pertama kali terbentuk pada akhir 2015. Hanya, salah satu kendala yang membuat proses eksekusinya melambat adalah dikarenakan Gio yang berada di kota berbeda.

“Setahun berselang barulah selesai tiga lagu dan satu intro (intrumental). Setelah semua materi lagu direvisi dan sudah fix pada pertengahan 2016, barulah Monoserus memulai proses rekaman (home recording) pada instrumen gitar dan bass. Pada dram dan vokal dilakukan di studio rekaman, dan sisanya editing, mixing dan mastering dilakukan secara independen selama kurang lebih setahun, hingga selesai pada pertengahan 2017,” urai pihak Monoserus kepada MUSIKERAS.

Saat penggarapan komposisi dan aransemen, Monoserus yang banyak menyerap pengaruh dari band-band luar seperti Architects, After The Burial dan Lamb Of God serta dari dalam negeri seperti Beside dan Deadsquad, mengaku sangat fleksibel dalam penentuan arah genre-nya. Mereka membiarkannya mengalir secara natural, dan baru menentukan konsep genre-nya setelah lagu-lagu terbentuk.

“Kami sesuaikan dengan karya-karya musik yang telah kami buat. Kelebihan dari genre kami ini adalah tidak pasaran jika dilihat dari kota tempat tinggal kami sendiri di Pekanbaru. Tantangan memainkannya sepertinya tidak ada, hanya saja membutuhkan kreativitas yang lebih dalam menciptakannya.”

Dengan dirilisnya “Blasted!”, Monoserus berharap dapat memberikan contoh attitude kepada generasi muda bahwa bermain musik keras tidak harus berprilaku negatif dan menyimpang. Mereka juga berharap “Blasted!” ini akan membawa warna baru dalam komunitas musik indie Pekanbaru dan meningkatkan gairah bagi pelaku indie lain untuk tidak berhenti dalam berkarya serta memotivasi musisi lain yang belum memiliki karya untuk segera  mengeluarkan karya orisinil mereka. (MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY