Sudah dua kali datang ke Indonesia, namun antusiasme pecinta musik metal progresif tak pernah surut menantikan Dream Theater (DT) untuk kembali tampil live di sini. Hal inilah yang menjadi perhatian dari banyak promotor di Indonesia untuk berebut mendatangkan mereka kembali setelah penampilan terakhir pada 2014 lalu di Jakarta. Terlebih, DT sedang mengenang momen spesial menyambut ulang tahun ke-25 album kedua mereka, “Images & Words” yang menjadi karya rekaman legendaris bagi para pecinta DT.

Gayung pun bersambut, DT mengonfirmasi tampil di Indonesia kembali dalam tur bertajuk “Images & Words, Beyond (25th Anniversary)” pada 29 dan 30 September 2017. Tapi, untuk kali ini tidak di Jakarta, melainkan di kota gudeg, Yogyakarta dan dengan promotor berbeda dari dua penyelenggara mereka sebelumnya di Jakarta. Rajawali Indonesia yang sudah kerap mementaskan konser bertaraf internasional kali ini menjadi pengeksekusi, menjadi pilihan yang digadangkan akan membawa nostalgia mendalam terhadap album yang mengantar DT sukses dalam kancah musik mainstream. Membludaknya peminat pun membuat promotor menambah jadwal pertunjukan menjadi dua hari. Hal pertama yang terjadi bagi DT di show Asia.

Tetapi, sebelum konser yang merupakan bagian dari rangkaian festival “Jogjarockarta” tersebut, sempat diramaikan isu yang lumayan membuat bingung banyak pihak, terutama para penonton. Ya, apalagi kalau bukan isu lokasi venue yang beberapa kali berubah. Semula dijadwalkan berlangsung di Stadion Kridosono, lalu berpindah ke kawasan Candi Prambanan. Namun setelah diterpa protes dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), pihak yang mengkhawatirkan kekuatan candi jika diterpa gedoran musik rock dan metal, serta mendapat rekomendasi dari berbagai pihak, akhirnya diputuskan konser kembali digelar di Stadion Kridosono.

Kekecewaan pun banyak terlihat dari penonton yang sangat berharap DT tampil dengan latar belakang Candi Prambanan seperti yang promotor lakukan dalam Prambanan Jazz Festival. Termasuk dari pihak DT sendiri, seperti yang mereka ungkapkan via laman Facebook mereka. But the show must go on!

Mengobati kekecewaan penonton terhadap tidak konsistennya venue, James LaBrie (vokal), John Myung (bass), John Petrucci (gitar), Jordan Rudess (kibord) dan Mike Mangini (dram) tampil maksimal selama tiga jam penuh yang terbagi dalam tiga sesi. Sesi awal, mereka membawakan lagu-lagu dari album-album mereka secara acak. Dimulai dari lagu pembuka, “The Dark Eternal Night” dari album “Systematic Chaos” dan “The Bigger Picture” (Self-Titled). Mereka juga menyisipkan satu komposisi instrumental terbaik mereka dari album “Falling Into Infinity” yang berjudul “Hell’s Kitchen” ke dalam barisan setlist malam itu.

Show berlanjut dengan dua track dari album teranyar mereka, “The Astonishing” yaitu “The Gift of Music” dan “Our New World”. Sebelum memasuki “As I Am” (album “Train of Thought”), di sinilah John Myung unjuk kebolehan dalam menampilkan permainan solo bass terapiknya lewat “Portrait of Tracy” milik Jaco Pastorius sebelum masuk intro “As I Am”,  termasuk memainkan riff dari “Enter Sandman” milik Metallica di akhir lagu tersebut. Sesi pertama pun diakhiri dengan track “Breaking All Illusions” dari album “A Dramatic Turn of Events”. Ytsejammers – sebutan para penggila Dream Theater – pun nampak paham dengan setlist yang dibawakan karena tidak berubah sejak tur mereka di Asia tersebut dimulai.

Sesi kedua inilah menjadi pembuktian kualitas permainan dan vokal dari mereka benar-benar diuji pada usia yang tidak lagi muda untuk dapat persis seperti di album mereka yang rilis pada 1992 silam itu. Maklum, “Images & Words” lekat dengan lengkingan nada tinggi serta tempo permainan yang agresif mengikuti odd time signature padat sebagai ciri khas musikalitas Dream Theater. Malam itu, John Petrucci dkk bisa mengikuti pola permainan cepat dalam delapan track list “Images & Words” layaknya mereka di umur 30 tahunan saat album tersebut dirilis.

Ya, faktor usia tentu saja tidak bisa dihindari. Dan imbasnya sangat terasa pada performa James laBrie yang terlihat kesulitan untuk bisa mengejar lengkingan nada-nada tinggi tersebut di usianya yang menginjak 55 tahun sekarang. Namun bagi para ytsejammers, hal itu tidaklah menjadi masalah. Fans tetap terpuaskan dengan perform hari itu karena setlist yang dibawakan sangat ideal dan menarik. Termasuk beberapa gimmick seperti Jordan Rudess yang memainkan part “Gundul-gundul Pacul” saat intro lagu “Wait for Sleep” dan candaan LaBrie yang menyebut Jordan bukanlah manusia, tetapi seorang setengah manusia, seperempat robot, dan seperempat alien.

“A Change of Season” menjadi encore penutup malam itu. Inilah salah satu komposisi berdurasi panjang yang ditunggu-tunggu oleh fans DT  di Indonesia. Wajar saja, karena dalam sepanjang karir live mereka, lagu epic 23 menit tersebut sangat jarang dibawakan di panggung. Namun, konsisten tempo dan kualitas vokal tetap layak diacungi jempol untuk mereka setelah terbang di berbagai negara untuk mengadakan tur tersebut.

Akhirnya, tampil maksimal selama tiga jam menjadi sajian terindah para ytsejammers malam itu meski sempat diguyur hujan sejenak. DT mampu membawakan kenangan indah bagi ytsejammers, seakan tak percaya kebahagiaan malam itu berakhir dengan cepat. Banyak dari mereka berharap DT akan segera kembali ke Indonesia dalam waktu dekat. Tentu saja, dengan setlist berbeda dan sajian produksi pertunjukan yang jauh lebih baik.

Selain penampilan DT sebagai headliner, di panggung megah “JogjaRockarta” tersebut, tampil pula para pendekar musik cadas terbaik di Tanah Air seperti band rock legendaris God Bless, Roxx, Power Metal, Pas Band, Burgerkill, Death Vomit, Something Wrong dan Kelompok Penerbang Roket. (Mikhail Teguh Pribadi dari Yogyakarta)

Kredit foto: Mikhail Teguh Pribadi

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY