Setelah merilis format cakram padat EP perdana mereka, “Pra-Karya” (Rekaman Pots) pada 24 Maret 2017 lalu, band rock asal Potlot, Rachun kini meluncurkan album mini tersebut dalam format digital melalui sejumlah layanan streaming dan gerai digital. Melalui album ini, Yudhis (gitar/vokal), Firas (bass/vokal) dan Ode (drum) mengumandangkan pentingnya arti sebuah kejujuran.

Yudhis menjelaskan kepada MUSIKERAS melalui pesan WhatsApp, ide awal penggarapan album mini “Pra-Karya” tercetus dari tugas sekolah salah satu rekan Rachun, Bayu Perkasa yang tengah menyelesaikan tugas akhir dari pendidikan sound engineering yang diambilnya. Bayu sendiri lantas berperan sebagai produser album ini yang sebelumnya sudah sering bekerja sama dengan para personel Rachun di beberapa proyek lain. 

“Awalnya teman kami, Bayu Perkasa dapet tugas buat ngerekam EP. Karena udah sering kerja bareng, akhirnya Bayu ngajak Rachun. Karena berawal dari tugas kuliah itulah tercetus nama ‘Pra-Karya’, karena mulanya memang tugas sekolah dan karena lagunya cuma sedikit jadi dikasih pemisah (-) untuk nandain kalau ini cuma tahap awal dari sesuatu yang lebih panjang lagi.”

“Pra Karya” sendiri direkam secara live untuk mengumandangkan semangat kejujuran dari para personel Rachun, dimana saat proses mixing Rachun meminta Bayu tidak mengedit dan menggunakan teknologi yang manipulatif. “Tapi, untuk vokal kami tetap menerapkan sistem overdub,” seru Yudhis lebih lanjut.

Untuk referensi, sambung Yudhi, Rachun lebih mengarahkan pandangan pada sisi keresahan mereka terhadap keadaan sekitar. Itulah mengapa, pesan yang terkandung di dalam barisan liriknya banyak berbicara tentang keseharian. Namun untuk sisi musik, mereka tidak memiliki referensi yang seragam. “Sejak dari awal kebentuk, referensi kami nggak pernah sama. Jadi waktu garap ‘Pra-Karya’ pun tetap nggak ada acuan yang seragam.”

Selera musik ketiga personel Rachun memang tergores dari masa pertumbuhan yang mereka lalui di kawasan Potlot, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Seperti diketahui, Potlot merupakan komunitas musik yang sukses melahirkan musisi-musisi rock Tanah Air jempolan semisal Slank, Imanez, The Flowers, BIP hingga yang terbaru The Sidhartas.

“Menjadi estetika musik yang mereka tawarkan memiliki unsur-unsur distingtif dari generasi awal Potlot,” cetus pihak Rekaman Pots, dilansir dari siaran pers yang diterima redaksi.

Pengaruh band-band kawakan Potlot tadi bisa disimak dari paparan lirik yang bersemayam di sekujur lagunya dimana di sini mereka kerap menggunakan gaya ‘slengean’ dan blak-blakan dalam memuntahkan segala keresahan yang ada di dalam benak mereka. “Memahami tidak adanya urgensi untuk berbelit-belit, kami berbicara langsung kepada lawan bicara yang dituju,” urai Rachun.

Selain merilis album mini “Pra Karya”, Yudhis dkk juga telah meluncurkan video musik perdana mereka, “Baling-Baling Bambu” pada 20 Mei 2017. Video musik ini digarap oleh Sinema Pinggiran dan dirilis melalui kanal YouTube rumah produksi tersebut.

“Pra Karya”, kata Yudhis, adalah sebuah jati diri Rachun dan rekam jejak sejarah band muda asal Potlot ini. Dengan mendengarkan dan membeli karya mereka, maka pendengar musik rock Tanah Air memiliki entitas dari sejarah Rachun. Tapi, Yudhis tidak bermaksud memaksa para pendengar untuk menyukai apa yang mereka hidangkan melalui “Pra Karya”.

“Kami tidak memaksakan orang harus mendengarkan lagu-lagu kami. Kalau memang tertarik, ya silahkan denger, siapa tau suka. Tapi kalau nggak juga nggak apa-apa, Toh masih banyak band lain yang mungkin lebih cocok di telinga masing-masing. Tapi yang pasti, saat band-band lain mulai lelah bermusik, kami masih akan terus bernyanyi!” (Riki Noviana)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY