Sebuah karya, apa pun bentuknya, layak untuk diabadikan, dengan harapan bisa menginspirasi atau berguna bagi orang banyak. Seperti yang dilakukan unit progressive rock asal Jakarta, Montecristo. Konser mereka yang bertajuk “Once Upon A Time… A Concert by MONTECRISTO”, yang digelar Exodus Lounge, Kuningan City Mall, Jakarta beberapa bulan lalu telah dipatrikan ke dalam sebuah kepingan DVD.

“DVD ini akan kami bagikan secara gratis,” cetus Eric Martoyo, vokalis dan penulis lirik Montecristo, di sela acara peluncuran resmi karya rekam berdurasi 60 menit tersebut, yang dilakukan di Queenshead Kemang, Jakarta, Jumat, 3 November 2017 lalu.

Pernyataan Eric tersebut diperkuat oleh kibordis Fadhil Indra yang menegaskan bahwa sasaran distribusinya tentu saja menyasar ke para penikmat musik-musik berkontur rock progresif. Buat para personel Montecristo yang juga dihuni Rustam Effendy (gitar), Haposan Pangaribuan (bass), Alvin Anggakusuma (gitar) dan Keda Panjaitan (dram), perilisan DVD ini juga merupakan wujud apresiasi serta penegasan keeksisan Montecristo yang ternyata mampu merebut perhatian di skena musik progresif global.

“Lagu-lagu kami rupanya banyak didengarkan (streaming) di luar Indonesia, terutama di negara-negara Latin,” ungkap Eric bangga.

“Once Upon A Time… A Concert by MONTECRISTO” sendiri merupakan konser kedua Montecristo yang direkam ke dalam format DVD. Sebelumnya, penampilan istimewa mereka di Bentara Budaya Jakarta dengan bintang tamu musisi legendaris, Yockie Suryo Prayogo pada 2012 silam juga mengalami perlakuan yang sama. Saat itu, Montecristo tengah mempromosikan album debut “Celebration Of Birth” (2010).

Penggarapan DVD yang ditangani oleh tim produksi arahan Gatot Ganyut menghadirkan konsep pertunjukan bernuansa teatrikal dengan memaksimalkan teknologi multimedia dan narasi sebagai pengantar di tiap lagu. Di konsernya sendiri, Montecristo menggeber sembilan lagu yang diambil dari dua album yang telah mereka rilis, yakni “Celebration Of Birth” dan “A Deep Sleep” (2016). Pertunjukan dibuka dengan lagu “Celebration Of Birth” yang berkisah tentang pesan seorang ayah kepada anaknya yang baru lahir. Beberapa tembang berikutnya yang dibawakan adalah “Rendezvous”, tentang kebhinekaan – persatuan dalam perbedaan, “Crash” tentang ketamakan korporasi yang menyebabkan runtuhnya bursa saham global pada 2008 silam, “A Blessing Or A Curse?” yang mempertanyakan apakah kehidupan sebuah berkah atau kutukan, dan “A Romance Of Serendipity” yang mengekspresikan tentang cinta yang hilang.

Seorang penari balet muncul di atas panggung di tengah lagu “Ballerina”. Penampilan sang ballerina sungguh memukau: melangkah, berlari, berputar dan melayang di udara, lalu berdiri tegak bagai sebatang lilin. Tubuhnya seringan bulu namun sekuat baja, sekokoh karang tetapi sehalus sutera. Sang ballerina tampil bak seekor angsa yang anggun nan gemulai dan kehadirannya membuat konser ini terasa lebih berwarna.

Komposisi “Mother Nature” dan “Ancestral Land” lantas mengisi reportoar berikutnya. Masing-masing lagu berkisah tentang Ketapang, sebuah kota kecil di Kalimantan Barat dimana industri kayu telah merusak alam yang asri serta tuturan seorang gadis Indonesia keturunan Cina yang ‘terbakar’ oleh propaganda pemerintah Cina dan pulang ke tanah leluhurnya dengan menumpang sebuah kapal pada 1952. Beberapa tahun setelah itu, kondisi sosial-politik di Cina berubah secara gagal panen berkepanjangan sehingga membuat rakyat tidak welcome terhadap para pendatang. Gadis ini kemudian dituduh sebagai spionase yang sengaja datang ke sana untuk memata-matai negara itu. Sejak itu hidupnya berubah menjadi sebuah tragedi yang panjang. Di penghujung konser, Montecristo mengajak penonton berkontemplasi tentang kematian lewat lagu “A Deep Sleep”.

“Celebration Of Birth” dan “A Deep Sleep” bisa dipesan melalui situs www.demajors.com, atau secara online via gerai digital seperti iTunes, Joox dan Spotify. (Mdy)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY