Sebuah unit musik keras hasil peranakan hardcore, metal dan punk bernama Baladhugal telah meluncurkan sebuah single perkenalan bertajuk “Di Ujung Tanduk”. Novianto Fajar Dwinanto (vokal), Ajie Wisnu Wardhana (gitar), Dimas Nugroho (dram) dan Febrian Wisnu (bass) yang berasal dari Solo, Jawa Tengah memilih “Di Ujung Tanduk” sebagai penggambaran identitas musik yang dipilih Baladhugal.

Single tersebut, menurut uraian pihak band, merupakan salah satu dari lima lagu hasil rekaman sesi pertama di Winsome Studio, Solo Baru. “Pada saat proses penulisan dan aransemen lagu, frasa ‘Di Ujung Tanduk’ muncul duluan di kepala saya. Entah nanti tema dan liriknya mau bagaimana, yang penting harus ada frasa tersebut dan judulnya pun harus itu,” seru Fajar menguak latar belakang single perdananya.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya Baladhugal memutuskan bahwa “Di Ujung Tanduk” akan menjadi semacam lagu pesta mereka. Bila Beastie Boys punya “You Gotta Fight for You’re Right (To Party)” dan Anthrax punya “Caught In A Mosh”, maka Baladhugal punya “Di Ujung Tanduk”. Kira-kira begitu analogi mereka.

“Sangat tidak original? Memang,” cetus Fajar menegaskan. “Kami ingin bersenang-senang di band ini. Bukan ingin jadi pahlawan penyelamat skena atau apa. Jadi masalah originalitas itu tidak pernah kami ambil pusing. Tidak ada hal yang baru di bawah matahari saat ini.”

Bagi Fajar, Ajie, Dimas dan Febrian, musik adalah salah satu sarana rekreasi dari penatnya rutinitas sehari-hari. Terdengar klise mungkin, tapi memang itulah salah satu alasan yang melatar belakangi terbentuknya entitas bernama Baladhugal pada Oktober 2016 lalu. Dan di samping itu, kegiatan menulis lirik dan bernyanyi di Baladhugal itu juga menjadi semacam terapi agar tetap waras di dunia yang semakin tidak baik-baik saat ini. “Daripada semuanya ditumpahkan di media sosial dan jadi ambil bagian dalam kegilaan, mending band-band-an.”

Dari sudut pengonsepan musik, Baladhugal menggambarkan komposisi musiknya disarati geberan suara gitar down tuned, bass distortif yang tetap terjaga tune dan low-nya, gebukan drum yang bertenaga serta vokal yang kasar tapi tetap terdengar jelas artikulasinya, plus lirik-lirik multidimensi yang enggan terjebak dalam stereotip tema persaudaraan maupun sosial politik.

“Ada sedikit pengaruh dari band-band metal akhir ‘80an dan awal ‘90an macam Entombed, Obituary hingga Terrorizer. Dan tentunya The Exploited era ‘Beat The Bastard’ dan ‘Fuck The System’,” ungkap Ajie memperjelas.

Pengaruh band-band metal, terutama death metal juga bisa dilihat dari logo band, desain gambar merchandise hingga kebiasaan Fajar melumurkan darah (palsu) ke wajah dan tubuh di tiap kali manggung. “Banyak yang mengira kalau kebiasaan melumurkan darah itu terinspirasi GG Allin. Padahal sebenarnya ide itu datang beberapa tahun lalu, ketika saya menyaksikan video ‘Bloodbath: Wacken Carnage’. Mikael Akerfeldt dan kawan-kawan terlihat keren dan pastinya kejam dengan badan berlumuran darah. Dari situlah sebenarnya datangnya ide tersebut.”

Saat ini, “Di Ujung Tanduk” sudah bisa dinikmati di halaman Soundcloud (soundcloud.com/baladhugal) dan Bandcamp (baladhugal.bandcamp.com). (MK03)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY