Kelompok Penerbang Roket (KPR) tak lama lagi bakal merasakan pengalaman sensasional dari panggung teater legendaris Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Peristiwa bersejarah berformat konser tersebut dijadwalkan terjadi pada 17 Desember 2017 mendatang. Hajatan istimewa tersebut bertajuk “A Night at Schouwburg”, dan digodok secara kolektif oleh kerjasama antara Jababa Records, Locker Event dan Berita Angkasa Management.

Adalah Emil Husein, pembetot bass grup NAIF, bersama rekan-rekannya; Coki Singgih, Chico Hindarto dan Aria Baja yang membentuk kolektif Jababa, dan memutuskan untuk menjalankan konsep malam pertunjukan musik di Schouwburg secara berkala, karena menyadari daya sihir yang ditawarkan gedung bersejarah itu.

Gagasan sarat idealisme tinggi ini mengemuka karena terinspirasi pengalaman Emil saat manggung bersama NAIF di GKJ pada 20 September 2008 silam. Momen itu disebut Emil sebagai konser terbaik yang tak terlupakan hingga hari ini. Sebuah pertunjukan berkesan sepanjang tiga jam penuh yang mengombinasikan kecakapan bermain musik, hiburan segar, petualangan audio-visual serta interaksi alami yang terjalin hangat dengan penonton. Satu paket kekuatan pertunjukan maksimal yang belum pernah ditampilkan NAIF sepanjang karirnya.

“Itu manggung terbaik di karir gue, sampai berminggu-minggu setelahnya masih terasa dan terus diobrolin sama anak-anak Naif. Gue pengen band-band lain ngerasain apa yang gue rasain, ngerasain panggung terbaik di karir mereka,” ungkap Emil mengenang. 

Hanya, kali ini, aksi panggung KPR yang diperkuat formasi Rey Marshall (Rey), John Paul Patton (Coki) dan I Gusti Vikranta (Viki) tidak sebatas konser. Namun bakal diabadikan dalam bentuk rekaman audio secara live, dan selanjutnya dirilis dalam format cakram padat (CD) serta piringan hitam (vinyl). 

“Musisi populer Indonesia itu potensinya gila, sehingga penting banget punya panggung yang bener, terkonsep, dengan tempat yang ideal untuk merekamnya untuk hasil terbaik. Tempat itu adalah Gedung Kesenian Jakarta. Apa yang dicapai Naif saat tampil di sana itu memang merupakan inspirasi, dan kami ingin membawa ‘A Night at Schouwburg’ ke tingkatan yang lebih luas. Harus ada dokumentasi dalam bentuk album, untuk mendapatkan sebuah pencapaian dalam sejarah musik populer di Indonesia,” ujar Coki Singgih, salah satu penggagas Jababa Records.

“Pokoknya, cuma di sini kita bisa menikmati musik tanpa pagar, sebuah konser terjujur, dan tanpa melalui proses editan,” cetus Emil kepada media yang hadir di konferensi pers “A Night at Schouwburg”, di The Fifth Kemang, Jakarta Selatan, 16 November 2017 lalu.

Menjawab tantangan untuk tampil di tempat ‘angker’ seperti GKJ, KPR berjanji akan mengerahkan segenap kemampuan mereka. “Kami tentunya sangat senang dan excited banget… karena telah diundang untuk tampil di konser istimewa ini. Akhirnya, semua yang pernah kami rencanakan bisa dituangkan di sini, ide-ide yang selama ini terkubur karena keterbatasan (dalam konser),” urai Coki, bassis KPR.

“Ini akan menjadi show tunggal pertama dan terpanjang kami,” sambung Viki, penggebuk dram KPR. “Akan ada lagu-lagu yang belum pernah dibawakan secara live, lagu-lagu lama dengan aransemen baru, dan beberapa hal yang belum pernah kami eksekusi sebelumnya.”

Nama “Schouwburg” sendiri merupakan nama lama Gedung Kesenian Jakarta yang dibangun pada 1821 silam. Nama populernya saat itu adalah Theater Schouwburg Weltevreden atau terkadang disebut Gedung Komedi. Gedung ini menjadi saksi bagi banyak pertunjukan budaya yang bersejarah, tetapi tercatat tidak banyak pertunjukan musik populer yang pernah ditampilkan di sana. Apalagi dengan bunyi-bunyian yang sarat distorsi ingar bingar, pernah ditampilkan di sana.

“Penampil di GKJ selalu menyesuaikan dengan tempatnya, dan KPR akan tampil dengan ekspresi khas mereka secara penuh, bisa jadi menjadi musik terbising yang pernah tampil di tempat bersejarah tersebut,” ujar Aria Baja dari Locker Event.

Dewan Kesenian Jakarta sebagai lembaga yang mengurasi penampil di GKJ mendukung sepenuhnya konsep “A Night at Schouwburg” yang bakal menghadirkan sesuatu yang baru bagi tempat tersebut. Konsep “A Night at Schouwburg” sendiri akan dihadirkan secara reguler dalam beberapa kesempatan lain di tahun depan. Setiap pertunjukannya akan direkam dan hasilnya akan dirilis dalam bentuk DVD untuk format audio visual, serta compact disc deluxe, dan piringan hitam untuk format audio dalam jumlah terbatas.

Untuk menyaksikan konser “A Night at Schouwburg” tersebut, penjualan tilet tersedia dalam beberapa paket, yaitu paket Pencarter Roket II sebesar Rp. 500.000 (mendapatkan T-shirt dan Double CD), lalu Pencarter Roket I Rp 850.000 (T-Shirt dan Double Vinyl) dan Penerbang Roket Rp 1.200.000 (mendapatkan T-shirt, Double CD, Double Vinyl dan Pin). Nama-nama penonton akan tercetak di masing-masing T-shirt tersebut secara terbatas. Sementara untuk perilisan CD dan piringan hitam akan dilakukan pada Februari 2018 sekaligus pengumuman nama musisi “A Night At Schouwburg” berikutnya.

Setelah resmi terbentuk, KPR mendapatkan kesempatan manggung pertama kali pada November 2013. Band ini, tanpa sungkan, mendeklarasikan pengaruh musikalnya dari para pahlawan rock Tanah Air dari masa lampau seperti AKA, Duo Kribo hingga Panbers. Bukan Led Zeppelin atau Deep Purple. Bahkan inspirasi nama bandnya pun dipetik dari salah satu judul lagu Duo Kribo (Ahmad Albar dan Ucok Harahap) yang bertajuk “Mencarter Roket”, rilisan 1978 silam. Sementara kata ‘kelompok’ sengaja dipakai ketimbang ‘grup’ atau ‘band’ agar lebih meng-Indonesia. Sejauh ini, setelah meluncurkan single pertama berjudul “Mati Muda”, KPR telah menghasilkan dua album studio, yakni “Teriakan Bocah” dan “HAAI” yang dirilis pada 2015.

Saat ini, KPR tengah menyiapkan materi untuk album mini (EP) yang rencananya akan dirilis tahun depan dalam format piringan hitam atau vinyl. Lebih jauh tentang KPR, baca ulasannya di majalah digital MUSIKERAS #12 yang bisa diunduh secara gratis di kanal musikeras.com. (Mdy)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY