Kekesalan atas pemberitaan televisi yang mereka anggap simpang siur dan seringkali menyebarkan isu kebohongan menjadi inspirasi utama kelompok grunge/alternative rock asal Malang, Guns untuk merilis sebuah album debut bertajuk “Telievision”. Sebuah judul nyeleneh, yang merupakan plesetan dari ‘television’ yang diubah menjadi ‘tell-lie-vision’.

Sebelumnya, setelah dua tahun berkarya, kelompok yang ‘sulit diatur’ ini telah mendahului eksistensinya lewat tiga single pembuka, yang masing-masing berjudul “Melawan Arus” (Maret 2015), “Roda Dua” (pertengahan 2016) dan “Jennytalia” (Juni 2017). Kini, lewat “Telievision”, Guns yang dihuni formasi Alif (vokal), Refo (gitar), Farhan (gitar), Eldy (bass) dan Eben (dram) menyodorkan delapan lagu, termasuk tiga single yang disebut tadi. Lima lagu baru konon mereka rancang benar-benar untuk mendobrak industri musik lokal yang masih terpusat di kota-kota besar. “Telievision” siap menjadi peluru bagi Guns untuk ditembakkan ke industri musik nasional.

Mereka menyampaikan lirik-lirik yang didasari pengalaman dan keresahan sehari-hari para personel Guns lewat geberan rock yang tetap konsisten ‘tak beraturan’ dengan mengandalkan ritmik musik ala punk rock serta melodi rock yang kental, yang lantas dicampurkan elemen bernuansa era ‘70an hingga akhir ‘90an.

Perlawanan terhadap kebohongan para oknum pertelevisian juga ditunjukan lewat aksi panggung Guns dengan membawa TV ke atas panggung tanpa menyalakan channel TV apa pun dan hanya membiarkannya menyala agar nyentrik di mata penonton. Dengan gaya khas urakan para personel Guns melengkapi pertunjukan musiknya, yang tidak jarang ditambahkan dengan aksi banting gitar di akhir lagu untuk memantik teriakan antusiasme penonton.

Album “Telievision” sendiri diproduksi secara independen di Malang, dieksekusi sendiri oleh band dan timnya, mulai dari proses rekaman, mixing dan mastering, produksi album hingga penataan merchandise dilakukan. Sementara untuk pemasarannya, Guns menyasar lingkup nasional dengan memaksimalkan teknologi media sosial dan digital serta rilisan fisik cakram padat (CD) untuk mempermudah para penikmat musik negeri.

Paham grunge/alternative sendiri sebenarnya tidak dikonsep secara sengaja oleh para personel Guns. Yang mereka lakukan pada awal terbentuk di Malang pada awal 2015, adalah bermain musik dan jamming sekencang-kencangnya dan sebebas-bebasnya, tanpa merasa ada tekanan atau arahan dari siapa pun.

“Sampai akhirnya setelah kami lakukan terus-menerus dan mulai berkarya, munculah anggapan dari beberapa teman kami bahwa musik yang kami mainkan cenderung masuk dalam genre grunge/alternative. Dari situlah kami mulai dicap sebagai band grunge/alternative. Padahal sebelumnya, kami berlima memang muncul dari basic (musik) yang berbeda-beda.”

Alip misalnya. Sebelum tergabung di GUNS, ia dulunya adalah seorang vokalis band hardcore. Begitu juga dengan Refo yang menjadi gitaris di sebuah band harcore. Lalu Farhan dan Edy, berangkat dari sebuah band punk rock. Dan yang terakhir, Eben, tadinya adalah seorang dramer jazz. Kelimanya lantas bergabung dan membiarkan aliran musik mereka terbentuk dengan sendirinya.

“Sebenarnya kami tidak pernah membatasi refrensi musik yang masing-masing kami dengarkan. Ya kalau bisa sebanyak-banyaknya justru lebih bagus. Tapi tetap ada yang kami jadikan benang merah untuk musik kami, beberapa band grunge era ‘90an seperti Nirvana pastinya, lalu Sonic Youth dan Soundgarden. Lalu untuk band lokal kami suka Besok Bubar, Cupumanik dan Navicula yang kami anggap sebagai orang-orang berjasa di dunia grunge Indonesia. Di luar itu kami juga suka menggabungkan antara musik-musik heavy metal, punk rock dan alternative, seperti Motorhead, Ramones, Sex Pistols dan Foo Fighters. Bagi kami, makin banyak referensi semakin memperkaya ide dan kreatifitas kami.” (MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY