Salah satu kuartet punk rock di Kota Malang, Rebel In Saint akhirnya menuntaskan tidur panjangnya. Lewat sebuah single terbaru bertajuk “Silent But Deadly”, formasi barunya, yakni Aldi (gitar/vokal), Aceng (gitar), Panji (bass) dan Naufal (dram) mengakhiri kelesuannya. Rebel In Saint terakhir kali merilis karya rekaman pada 2012 lalu, yaitu album mini (EP) bertajuk “In Love and Hate We Rise”.

Kini, mereka menggelontorkan balutan musik dengan nuansa yang lebih dewasa yang terbentuk dari kombinasi beat rock n’ roll, punk dan hardcore yang kencang. Banyak dipengaruhi oleh gaya bermusik band-band seperti Anti Flag, Rise Against, Againts Me dan Social Distortion. Pelampiasan “Silent But Deadly” sekaligus menandai usia enam tahun Rebel In Saint yang jatuh tepat 11 November 2017 lalu. Lagu tersebut juga dipersembahkan khusus untuk para pecinta skena musik rock.

Saat proses penggarapan lagu “Silent But Deadly” yang sudah bisa didapatkan di berbagai gerai digital seperti iTunes, Spotify dan Deezer, sebenarnya sempat muncul reaksi pro kontra dari segi musik dan lirik. Karena menurut para personel Rebel In Saint, geberan musiknya kencang tapi liriknya malah membahas soal ‘buang gas’, alias kentut.

“Artinya sederhana, yang pasti semua orang pernah merasakannya,” urai pihak band kepada MUSIKERAS. “Kami mengungkapkan pengalaman pribadi sang vokalis ketika sedang berkumpul dengan teman-teman dan tanpa disadari ada teman di sebelahnya kentut tanpa ada suara sama sekali, namun baunya sangat menyengat, sehingga membuat teman-teman lainnya saling menuduh, hahahaha…!”

Namun dari sisi musikal, Rebel In Saint melakukan eksplorasi gaya bermusik di lagu tersebut untuk menghindari kejenuhan. “Kami coba untuk eksplor gaya bermusik dengan pola drum beat cepat dipadukan dengan beatdown, lalu nuansa gitar kami buat seperti ada sedikit pemanis blues dan rock n roll. Ada juga lead-lead ringan sehingga beat cepatnya tidak monoton untuk didengar.”

Dalam perjalanan karir Rebel In Saint, lanjut pihak band lagi, dari awal terbentuknya pada 2011 mereka telah merasakan bahwa musik yang diusung jauh lebih berkembang dibanding sebelum-sebelumnya. “Materi baru, masuk personel baru sehingga membuat nuansa bermusik ada perbedaan seperti tempo yang diambil dalam part-part di setiap lagu jauh lebih cepat daripada lagu-lagu yang ada di EP sebelumnya.”

Kelahiran Rebel In Saint berawal dari perbincangan tiga personel awal; Aldi, Acenk dan Agung (bass) yang saat itu masih duduk di bangku SMA. Karena memiliki selera musik yang sama, ketiganya lantas memutuskan membentuk sebuah band yang mengusung musik punk rock ala Rise Against, Anti-Flag, Bad Religion, Gaslight Anthem, Living End, Against Me serta yang sejenis. Tak lama setelah terbentuk, Awan bergabung mengisi kekosongan pada instrumen dram.

Makna nama ‘Rebel In Saint’ sendiri memiliki arti bahwa sesuci apa pun seseorang, pasti pernah melakukan sebuah kesalahan atau dosa – entah itu besar atau kecil, disengaja atau tidak, dan secara sadar maupun tidak – pasti berbuah sesuatu yang berdampak baik atau buruk di kehidupannya.

Sayangnya, pada 2013, Agung dan Awan memutuskan untuk mengundurkan diri karena alasan pekerjaan dan sehingga membuat Rebel In Saint mengalami fase vakum. Dua personel yang tersisa sempat shock karena kebetulan hubungan yang terjalin sudah cukup lama sehingga tidak ada keinginan untuk mencari additional player. Tapi setelah sekitar tiga tahun berlalu, akhirnya Aldi dan Acenk memutuskan untuk kembali menjalankan roda karir Rebel In Saint dan menyambut bergabungnya dua personel baru. Tanpa membuang waktu, formasi ini langsung  menggarap materi baru untuk album debut perdana dan telah selesai pada pertengahan 2017 lalu. Rencananya, album tersebut bakal dirilis tahun depan.

“Luka itu sudah sembuh dan kami tetap harus jalan melangkah ke depan,” cetus Rebel In Saint optimistis. (Mdy)

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY