Trio rock asal Bandung yang memilih berkarya di balik karakter animasi,  Aksi Sophie, akhirnya menelurkan karya rekaman baru setelah berhibernasi selama hampir dua tahun. Sebuah single baru bertajuk “Ular” mereka luncurkan via label BERAKsi Records, yang diikuti pula peluncuran video musik berunsur animasi yang digarap duo sutradara abnormal BoGue dari Dago Lost Area Workshop dan Rucitra. Video tersebut kental akan nuansa psikadelika bertema tragedi sinemata, yang kini sudah dapat disaksikan di kanal resmi YouTube Aksi Sophie.

Kenapa harus berada di balik karakter animasi? Para pria pengejar mimpi masa remaja; Gono (bass/vokal), BoGue (gitar/vokal latar) dan Johan (dram) punya alasan tersendiri. “Kami lebih senang karya kami didengar tanpa kami terlihat,” cetus mereka kepada MUSIKERAS.

Demi mempertegas identitas itu, maka dalam video musik “Ular”, mereka menciptakan karakter animasi yang mewakili para personel Aksi Sophie. Mereka adalah PiKe (bass/vokal), Gerilyawan (gitar/vokal latar) dan Ming (dram). “Entah sampai kapan karakter-karakter tersebut mewakili kami,” ulas mereka lagi.

“Ular” sendiri direkam di RED Studio, Bandung dengan juru rekam Hadiyan. Sementara untuk penataan suara (mixing) serta pelarasannya (mastering) dieksekusi oleh sound engineer kawakan, Indra Severus dari Neverstop Records. Saat penggarapannya, Aksi Sophie terlebih dahulu menggarap konsep aransemen sebelum menulis lirik. “Itu merupakan kebiasaan kreatifitas kami. Liriknya kami tulis dengan mengalir bégitu saja dan baru đisadari cerita lagu itu setelahnya,” ungkap mereka.

Lewat lagu ini, Aksi Sophie mendeskripsikan mimpi mereka, yang berkisah tentang seseorang yang tinggal di negeri antah berantah. Seseorang yang sakit hati, yang terluka karena dipisahkan dari sahabat-sahabatnya oleh isu-isu yang dihembuskan melalui seruan para ular bangsat. Padahal yang dia tahu, Sang Kuasa lewat wahyuNya mewajibkan dia untuk mencintai semua ciptaanNya. Namun pada kenyataannya, para ular bangsat itu dengan anggunnya menggunakan supremasi dan legitimasinya untuk mengubah nilai dan paradigma dengan norma-norma baru untuk kepentingan kaumnya, sehingga dengan disadari sahabat-sahabatnya mulai mundur teratur meninggalkannya.

“Itu adalah isu-isu lama yang ada di lingkungan kami tinggal dan terus berkembang hingga saat ini. Kami sering mengalami mimpi buruk dalam tidur kami, yang lalu membuat kami resah.”

Selain “Ular”, Aksi Sophie saat ini juga telah merampungkan empat materi lagu baru untuk kebutuhan perilisan album mini (EP) yang akan dirilis segera, setelah mereka menerbitkan satu single baru lagi. Tema liriknya juga digali dari penafsiran mimipi-mimpi saat berhibernasi. Mulai dari mimpi tentang para dewa yang resah lantaran pestanya mulai diusik oleh para hamba sahaya, para bangsawan yang mulai keranjingan madat yang membuat mabuk kepayang hingga para anjing yang menggigit majikannya.

Untuk musik sendiri, trio yang terbentuk pada 2013 lalu ini tidak ingin mematok genre. Selama itu keras, distorsif, kasar dan misterius, maka itulah konsep musik mereka. “Kami tidak mempersoalkan genre musik kami. Kalau kawan-kawan kami atau siapa pun menyebut genre​ musik kami ​itu ​a, b atau c,  ya kami manut saja.”

Kendati demikian, beberapa referensi musikal yang menjadi acuan mereka menegaskan darah rock Aksi Sophie yang kental. Terbentang luas mulai dari rock era ‘70an Tanah Air seperti Dara Puspita hingga God Bless. Sementara untuk referensi luar, mereka juga menyimak Joy Division, Sex Pistols era Glen Matlock, Stone Roses, The Smith, Anthrax, D.R.I., Helloween era vokalis Michael Kiske, Iggy and the Stooges, Patti Smith, Ramones dan sebagainya. (Mdy)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY