“Kita berada di masa dimana manusia punya kuasa mengakhiri nyawa manusia lain, dan itu salah satu alasan yang membuat kami hadir….”

Itu kutipan kalimat yang diproklamirkan Digerogot, sebuah unit psychotic black metal dari Selatan Andalas, Palembang, mengenai kemunculannya di skena musik keras yang gelap di Tanah Air. Mereka – yang dihuni Ghoibdeath (vokal), Dieart (gitar) dan Rzki (dram) – mendeskripsikan lirik-lirik kegelapan yang tidak astral, melainkan denting lonceng yang bermuara dari keburaman diri sendiri yang disebut manusia. Mengubur dalam-dalam sebuah stigma tentang setan yang selama ini dikambinghitamkan mengambil peran puncak dalam setiap goresan kelukaan, ketersesatan dan kematian.

Kini, agresi awal Digerogot diutarakan melalui “Kromosom Maniak”, sebuah racikan demo yang memuat dua trek di dalamnya, berjudul “Kromosom Maniak” dan “Immoral Gelap”. Karya rekam ini telah dimuntahkan di perayaan Record Store Day 2017 dalam bentuk cakram padat (CD) terbatas yang lantas juga dirilis dalam format kaset oleh label Kota Palembang, Bujang Head.

Lewat demo tersebut, Digerogot yang terbentuk pada 20 November 2016 lalu mengangkat premis dari tragedi yang tertulis dari ujung mata pisau, hasrat nafsu jahat manusia, dendam, bencana yang dilakukan manusia secara sadar, jasad yang terkubur di halaman belakang rumah, kedepresian dan pengakhiran hidup.

“Lagu ‘Kromosom Maniak’ merupakan gerbang pembuka dari perjalanan Digerogot untuk lagu-lagu selanjutnya. Di lagu ini, kami mengisahkan sedikit sebab nalar seseorang menjadi pisikopat, melakukan tindakan seperti pembunuhan,k esenangan menyakiti diri sendiri atau orang lain. Sedangkan di lagu ‘Immoral Gelap’ menceritakan keadaan di masa sekarang, dimana perilaku kejahatan menjadi hal yang biasa. Setan bukan lagi kambing hitam, manusia punya kuasa mengakhiri hidup orang lain. Lagu ini terinspirasi dari tragedi yang terjadi di negeri ini seperti kasus Anjeline di Bali, Yuyun yang diperkosa dan dibunuh serta kasus Ryan Jombang yang menggemparkan dengan mengubur korban-korbannya di belakang rumah,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, panjang lebar.

Niat untuk menggarap demo sendiri, menurut para personel Digerogot, memang langsung tersepakati saat Digerogot terbentuk. “Karena sebuah band pada hakekatnya harus memiliki lagu yang bisa diperdengarkan,” cetus mereka.

Dalam penggarapan demo, walau masing-masing personel dihimpit aktivitas masing-masing di luar band, tetap mencoba memberikan sesuatu yang serius walau hanya dua track. Dimulai dari penentuan tema, dan lantas mendukungnya dengan perangkuman berbagai literasi sebagai referensi lirik.

Meski secara visual dan musik tergurat jelas sebagai penganut black metal, namun Digerogot yang kini tengah menggarap materi album debutnya tak ingin terseret ke tipikal lirik yang bernuansa astral. Mereka lebih memilih berkonsentrasi pada kecacatan manusia itu sendiri secara psikis. Lantas, semuanya disemburkan lewat ramuan musik yang banyak terinspirasi dari band-band seperti Archgoat, Devourment, Vulvectomy dan Dark Funeral.

“Kromosom Maniak” bisa didengarkan lewat tautan ini:

https://soundcloud.com/digerogot/kromosom-maniak

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY