Menurut mitos, hewan kucing terkenal punya sembilan nyawa. Dan sepertinya, kondisi itu pula yang berlaku pada Kucing Dapur, unit alternative rock/post-grunge asal Jakarta yang sudah terbentuk sejak 1997 silam. Setelah vakum selama 14 tahun, kini band dengan formasi baru yang diperkuat oleh Tubagus Eko ‘Bango’ Nurdiyanto (vokal), Julianto ‘Ijoel’ Sitompul (dram), Faisal ‘Ical/FSL’ (gitar), Martinus ‘Tommy’ Nugroho (gitar) dan Simon ‘Duce’ (bass) tersebut mendapatkan kesempatan hidup keduanya. Mereka bangkit kembali lewat karya rekaman baru, sebuah album mini (EP) bertajuk “Shit ’N Die” telah diluncurkan ke pasaran digital dan fisik belum lama ini.

 

Sebelumnya, tepatnya pada 2001 silam, Kucing Dapur pernah merilis album penuh bertajuk “Hidup Itu Apa?”, memuat 10 lagu yang direkam secara live di Studio K Jatiwaringin. Dari album ini, sempat melejitkan lagu “Insect Food”, “Terkam” dan “Kotor” di skena komunitas grunge di Jakarta.

Kelamaan vakum, dan hanya bermodalkan pengalaman rekaman secara live, membuat proses penggarapan “Shit ’N Die” terbilang sangat menantang bagi para personel Kucing Dapur, terutama buat Bango yang mengaku kali ini harus merekam vokal secara terpisah dengan iringan metronom.

“Ini pertama kalinya bagi saya rekaman per-track, karena sebelumnya belum pernah rekaman take khusus vokal, agak grogi sedikit karena vokal direkam terpisah dengan musik dan disertai metronom sebagai pengatur tempo. Lalu tantangan lainnya adalah, jadwal studio rekaman yang padat (Plug Studio Project, Cibubur). Kami harus booking jauh hari seperti satu atau dua bulan sebelumnya untuk bisa dapat jadwal rekaman di akhir minggu. Anak-anak (para personel Kucing Dapur) juga pernah bolos kerja karena jadwal rekaman di hari kerja, mengorbankan pekerjaan demi rekaman,” urai Bango kepada MUSIKERAS, mengenang.

Penggarapan “Shit ‘N Die” sendiri dieksekusi dalam waktu yang singkat. Keempat lagu berhasil direkam dalam waktu delapan bulan pada Desember 2016 hingga Juli 2017. Kesamaan referensi musik dan visi yang kurang lebih sama membuat proses interaksinya lebih mudah. Keseluruhan produksi album dikerjakan sendiri secara independen, mulai dari duplikasi CD, desain sampul hingga penyetakan sampul dan pelabelan.

Roda karir Kucing Dapur dimulai oleh formasi oleh Bango dan Bima setelah Punkrango, band mereka sebelumnya bubar. Keduanya lantas mengajak Dodo dan Kai yang kebetulan teman sekampus mereka di Universitas Sahid dan juga sama-sama tergabung di organisasi UMUS (Unit Musik Univ. Sahid). Tapi setahun kemudian, Dodo dan Kai memutuskan mundur dan digantikan oleh Lulu (gitar) dan Rully (bass). Pada 1999, giliran Bima yang mundur untuk fokus dengan X-Part, sebuah band proyek beraliran progressive metal. Tahun yang sama, Rully mengenalkan Ijoel untuk mengisi kekosongan di posisi dram. Namun setelah perilisan album “Hidup Itu Apa?”, Kucing Dapur mengalami stagnan dan vakum pada 2002 dikarenakan kesibukan masing-masing personel.

Nama ‘Kucing Dapur’ sendiri muncul begitu saja. Menurut Bango, kebetulan saat itu, semua personil memelihara kucing. Tapi di samping itu, sekitar 1997, saat Bango masih kuliah dan sering begadang cari inspirasi buat nulis lirik-lirik lagu, ia sering menjumpai kucing di dapur saat mencari makan ketika kelaparan. “Kucing piaraan saya itu suka keluar masuk dapur lewat jendela yang sengaja tak ditutup. Suka kaget juga kalau pas dia loncat terus nabrakin perabotan dapur, spontan saya nyebut, ‘Dasar lu kucing dapur!’. Jadi kalau begadang, temen gue cuma kucing itu. Terus kepikiran, norak juga nih kalau band dikasih nama Kucing Dapur. Dan kayaknya emang cocok dengan kelakuan personel bandnya. Dulu kalau kami main ke rumah temen, malem-malem, kami suka ke dapurnya cari makanan, hahaha.!”

Grunge sendiri menjadi pilihan musik yang juga dirasa pas dengan referensi latar belakang para personel Kucing Dapur. Karena pada pertengahan era ‘90an, mereka sama-sama ‘menyembah’ Kurt Cobain dari Nirvana. “Pas lagi gila-gilanya Alternative Nation di TV Swasta, band-band macam Nirvana, R.E.M, Stone Temple Pilots, Foo Fighters, Weezer, Sonic Youth dan masih banyak lagi yang sering kami liat dan denger di TV maupun radio.”

Selain itu, style grunge juga dianggap selaras dengan para personel Kucing Dapur yang nyeleneh, urakan, anti-mainstream, melawan arus, anti kemapanan, dan menyuarakan hati dari dalam jiwa melalui musik. Tak perlu rapih dalam bermain musik asal kompak, walau dengan skill bermain musik yang ‘seadanya’. “Distorsi gitar dan beat dram kenceng, riff-riff gitar yang kotor ditambah suara vokal yang parau kadang berat kadang fales. Pada saat itu, grunge udah cocok bangetlah sama kami.” (Mdy)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY