Sesuai namanya, unit pop punk asal Jakarta, Sunday with Chocolate memilih Minggu sebagai hari perilisan resmi album mini debutnya yang bertajuk “Adolescence”, yang kini sudah bisa didapatkan di berbagai gerai digital seperti Spotify, Apple Music, iTunes dan kanal YouTube.

“Album ini kami buat dengan penuh persiapan yang matang. Mengapa hari Minggu? Karena, hari Minggu adalah hari terbentuknya Sunday With Chocolate and so it’s special of day for us,” cetus pihak band via siaran pers resminya.

Sunday with Chocolate (disingkat menjadi “Sunwich”) yang dihuni formasi Ravel Thomas (vokal/gitar), Ibek (bass), Fatih (gitar) dan Icha (dram) menggarap “Adolescence” di antara jeda kesibukan para personelnya yang cukup padat. Mereka mengeksekusinya bersama-sama di studio, mulai dari pencarian materi hingga pelarasan suara (mastering). Dan dari segi lirik, tema yang mereka angkat di album mini yang memuat lima lagu tersebut mewakili pengalaman kehidupan yang mereka alami saat remaja. “Itu yang kami tuangkan ke dalam nada, dan kami realisasikan di album,” ungkap Ibek memperjelas.

Dari album yang menyodorkan single pembuka, “Sinari Masa Muda” tersebut, Sunday with Chocolate merasa sangat bangga pada hasil akhirnya. Misalnya di lagu “When You Stuck and You’re Gonna Through It All”. “Secara musikalitas, kami terbilang sangat sukses memadukan alunan pop punk modern sambil menjaga rasa easy listening dan emosi yang ada dalam lirik. Semuanya bisa tersampaikan,” urai pihak band kepada MUSIKERAS.

Lalu di lagu “Diary for My Friends”, para personel Sunday with Chocolate menyebutnya sebagai lagu akustik pertama yang mereka ciptakan. “Benar-benar sarat akan emosi, ego, dan kehidupan pertemanan kami. Konsep akustik membuat kami bisa bangga membutikan bahwa pop punk yang kami suguhkan bukan hanya lewat amplified, tapi bagaimana pop punk bisa kami diresapi dalam alunan akustik yang sederhana.”

Genre pop punk sendiri menyimpan pesona tersendiri bagi Sunday with Chocolate. Karena memang banyak inspirasi yang mereka serap dari situ, dimana akhirnya mereka bisa mendapatkan formula dari paduan pop punk yang modern dari serapan pengaruh band-band luar seperti Neck Deep dan State Champs serta inspirasi lokal mereka, Pee Wee Gaskins dan Rocket Rockers.

Geliat Sunday with Chocolate diawali dari pertemuan Wahyu (vokal) dan Ravel Thomas (gitar/vokal) yang meng-cover sebuah lagu lalu diunggah ke media sosial. Kemudian Icha (dram) melihat unggahan tersebut dan mengomentarinya. Singkat cerita, dari persinggungan itu, pertemanan berlanjut dan berujung pada kesepakatan membentuk band. Formasi lantas dilengkapi dengan bergabungnya Ibek (bass) dan Ucup (gitar). A Rose For Juliet dipilih sebagai nama awal band tersebut, yang kemudian secara resmi diubah menjadi Sunday with Chocolate pada 16 Agustus 2015. Sayangnya, di tengah perjalanan Wahyu dan Ucup memutuskan mengundurkan diri dan langsung digantikan oleh Fathy, sementara Ravel mengambil alih posisi vokal. (Mdy)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY