Berdakwah lewat lirik lagu menjadi prinsip utama Blackswan, unit metalcore asal Malang, Jawa Timur. Dengan konsep one finger movement – atau biasa pula disebut dengan istilah ‘metal satu jari’ – band yang dihuni formasi Kevin (vokal), Deryl (gitar/vokal), Ninis (gitar), Wisnu (bass) dan Kholil (dram) meluncurkan single terbarunya yang bertajuk “Malhamah Kubra”. Lagu yang digarap bekerja sama dengan Rama Project Studio tersebut merupakan nomor pemanasan sebelum peluncuran album penuh mereka tahun depan.

Perang besar akhir zaman menjadi titik sentral tema lirik di lagu “Malhamah Kubra”. Menurut pihak band, ‘Malhamah Kubra’ merupakan perang penutup atas umat manusia yang dimulai dengan serangkaian perang yang berlarut-larut di tanah Syam. “Orang-orang sering menyebut perang ini sebagai perang Armageddon. Dan ini akan menjadi masa yang sangat carut-marut, tetapi juga akan menjadi masa yang penuh berkah, karena saat itu Imam Mahdi dan Nabi Isa ‘Alaihi Salam akan muncul untuk memerangi dajjal,” urai pihak band lewat siaran pers resminya.

Ya, dakwah yang dimaksud Blackswan tentu saja dalam konteks agama Islam. Dan “Malhamah Kubra” dilepas sebagai single yang diharapkan bisa selalu mengingatkan tentang semakin dekatnya perang akhir zaman.

Menurut Kevin, si penulis lagu sekaligus vokalis dari Blackswan sendiri, lagu tersebut merupakan sebuah karya yang memiliki pesan yang begitu mendalam, yang disampaikan lewat olahan musik yang kental akan nuansa peperangan.

Gerakan ‘metal satu jari’ yang dianut Blackswan sendiri terinspirasi dari Ombat Nasution – vokalis band metal senior Tanah Air, Tengkorak – dimana ‘satu jari’ dimaknai sebagai umat Muslim harus selalu ingat akan satu pencipta, yakni Allah Subhanahu Wa Ta’ala. “Visi misi Blackswan sendiri sebagai jalan dakwah. Selain itu ‘metal satu jari’ ini juga sebagai counter culture terhadap salam metal pada umumnya,” cetus Blackswan kepada MUSIKERAS.

Walaupun dalam kajian dunia Islam sendiri muncul penafsiran berbeda mengenai keberadaan musik dalam konteks ibadah, namun para personel Blackswan tetap fokus menjalani keyakinan mereka. “Kalau ditanya halal dan haramnya musik, kami tidak berkompeten untuk menjawab pertanyaan tersebut, karena kami semua di Blackswan masih dalam tahap belajar. Yang jelas, banyak ulama’ yang mengharamkan maupun membolehkan, dan perbedaan pendapat tersebut masing-masing memiliki dalil sebagai pedoman. Kembali kepada tujuan kami, bahwa Blackswan berdakwah dengan lirik kami.”

Blackswan sendiri terbentuk pada September 2014 dibawah naungan salah satu UKM Ikabama di Universitas Muhammadiyah, Malang. Daris egi konsep musik, Blackswan banyak terinspirasi band-band metalcore asal Amerika Serikat seperti As I Lay Dying dan Miss May I. Sejauh ini, Blackswan telah mengantongi tiga karya lagu – termasuk single terbaru yang bakal diluncurkan pada Januari 2018 mendatang – sebagai pengantar album perdana. (mdy)    

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY