Setelah lama terdiam, akhirnya skena musik hardcore di Kota Metro, Lampung kembali menggeliat. Bisa dibilang, pemicunya adalah sepak terjang Freedom, sebuah unit hardcore yang baru rebranding di awal 2017 lalu, lewat sebuah karya rekaman album mini (EP) bertajuk “Revolusi Keadilan” yang diluncurkan secara resmi pada 10 Oktober 2017 lalu.

Animo terhadap musik underground di Kota Metro nampaknya sangat tinggi. Namun sayangnya beberapa tahun belakangan ini, event dan gairah terhadap musik bawah tanah ini menurun. Hal ini didasari dengan menurunya semangat pemusik underground di Kota Metro untuk mengadakan event independen.

Meski usianya masih belia, namun kehadiran Freedom yang tumbuh di kalangan komunitas ‘bawah tanah’ di Lampung ini telah mampu membangkitkan kembali semangat bermusik dan menggairahkan penyelenggaraan acara-acara independen underground lokal.

“Tujuan kami untuk mengembalikan spirit musik underground, terutama hardcore di Metro Lampung,” cetus Dimex, vokalis Freedom, mewakili rekan-rekannya di band, yaitu Bastian (dram), Raes Katar (gitar) dan Joe (bass).

Freedom mulai menggarap “Revolusi Keadilan” sekitar Juli 2017 lalu. Rekaman enam lagu yang termuat di album tersebut mereka eksekusi di Canary Record, Kota Metro selama sekitar 7-10 hari. Walau sempat terkendala waktu karena setiap personel punya kesibukan pekerjaan masing-masing, namun akhirnya mereka bisa merampungkannya.

Dan hasilnya, dari segi musikal, sangat membanggakan. Menurut mereka, masing-masing lagu mempunyai karakter. Namun jika harus memilih, Freedom menunjuk lagu berjudul “Penuh Ancaman” dan “Revolusi Keadilan” yang paling istimewa buat mereka.

“Karena dari segi lirik lagu, kami susun berdasarkan keadaan dan situasi yang sedang kita alami sekarang ini. Sekarang hukum keadilan di Indonesia ini gimana? Kami beranggapan sebagian hukum di negara kita masih bisa diperjualbelikan. Dari situ kami berharap ada ‘Revolusi Keadilan’ di negeri ini. Dari segi arasemen musik, ‘Penuh Ancaman’ dan ‘Revolusi Keadilan’ paling padet pukulan dram dan distorsi gitarnya… hehehe. Jadi bisa memanjakan telinga pendengar deh,” urai pihak band kepada MUSIKERAS.

Hardcore sendiri menjadi pegangan utama Freedom untuk mengantarkan pesan-pesan musiknya, yang lebih mengacu pada gaya Newskul dan Beatdown seperti Rise of The North Star, Pro Pain dan lain-lain. “Tapi ya buat kami, inspirasi atau referensi konsep musikal dalam menulis lagu nggak terlalu idealis ke satu titik. Bahkan terkadang genre pop punk pun bisa kami jadiin refrensi. Misalnya Rocket Rockers gitu. Bisa dibilang agak nyimpang sih, hahaha. Tapi beneran referensi kami banyak, nggak cuma ke genre yang itu-itu aja.”

Namun terkhusus soal hardcore, bagi Freedom karakter musiknya yang enerjik menjadi daya tarik utama yang membuat mereka memilihnya sebagai ‘agama’ utama. “Beat-nya unik! Dengan down dan funk-nya. Dan kalau buat moshing lebih enjoy aja rasanya. Intinya, jiwa kami dapet deh feel-nya dengan ‘agama’ yang satu ini, hahaha. Dan keistimewaannya, menurut kami, sama dengan band metal underground lainnya. Karena memang setiap band metal itu relatif punya keistimewannya masing-masing.”

Namun saat ini, yang menjadi fokus Freedom adalah menggiatkan kembali skena hardcore di kota mereka. “Makanya saat launching (album) kemarin kami beri nama (acaranya) ‘Hardcore is Back’. Kami pengen kasih tau ke blantika musik lokal bahwa hardcore itu masih ada dan siap kembali di era modern ini!” (Mdy)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY