Dari daerah terpencil di pesisir Labuan, Banten, End of Circle bertekad menunjukkan karya musikal mereka ke segala penjuru komunitas underground dengan memaksimalkan kekuatan internet dan media sosial. Tepatnya 25 Desember 2017 lalu, penggeber metalcore yang dihuni formasi Jehan Rinaldi (vokal), Vaisal Abduh (gitar), Nurhilman Azaidan (bass), Egi Norman Younaldi (dram) dan Aldy Faisal (gitar) ini telah meluncurkan single bertajuk “We Find the Light”. Sebuah lagu yang menjadi nomor pemanasan kedua untuk album perdana bertajuk “Resurgence”. Sebelumnya, sekitar setahun lalu, End of Circle telah melepas single pembuka bertajuk “Naungan Kepedihan”.

Banyak sekali tahapan perombakan yang terjadi saat penggarapan aransemen “We Find The Light”, baik dari segi lirik maupun musik. Menurut ungkapan pihak band kepada MUSIKERAS, lagu tersebut juga merupakan lagu terakhir yang direkam untuk album “Resurgence”.

“Lagu itu juga sangat berkaitan dengan tajuk album kami. Pesan yang ingin disampaikan, jika kalian masih memiliki impian, selama itu juga kalian akan terus menemukan cahaya kalian. Meskipun terkadang cacian dan makian selalu menghadang, kalian hanya perlu menjadikannya sebagai sumber motivasi kalian untuk berkarya lebih baik dan lebih baik lagi. Terkadang kalian diremehkan, dikucilkan, dan dijatuhkan bahkan kalian dianggap sampah yang tidak ada keberadaannya. Kalian tidak usah mengenal kata menyerah dan kata kekalahan, kalian hanya perlu bangkit dari hal yang sudah mereka robek dan kalian boleh berhenti untuk sejenak. Setelah itu berjalan lagi tidak usah mengambil jalan lain, kejar terus apa yang kalian impikan, apapun hasilnya, dari pada tidak sama sekali. Jika kalian lebih memilih untuk benar-benar berhenti saat itu pula kalian kehilangan cahaya kalian untuk hidup di dunia ini.”       

Saat ini, proses penggarapan “Resurgence” sendiri telah menyelesaikan tahapan penataan (mixing) dan pelarasan suara (mastering) dan telah memasuki proses produksi fisik yang rencananya bakal dirilis dalam kemasan boxset yang berisikan beberapa merchandise band. Proses rekaman “Resurgence” sendiri digarap selama kurang lebih dua tahun. Pihak End of Circle mengakui prosesnya agak lambat karena beberapa masalah teknis. Misalnya, para personelnya tidak bertemu setiap hari karena disibukkan kegiatan kuliah dan pekerjaan lain. Saat rekaman, mereka memanfaatkan kinerja studio sendiri hasil swadaya band, di salah satu rumah personelnya yang kebetulan juga menjadi barak utama End of Circle.

“Kami memilih rekaman (home recording) sendiri untuk meminimalisir pengeluaran. Soalnya kami mikirnya, untuk hidup di indie kalau nggak kreatif susah, apalagi jika udah dibenturin sama masalah finansial nggak bakalan panjang umur bandnya. Tapi untuk mixing dan mastering kami bekerja sama dengan salah satu studio rekaman di Bandung. Ya inilah kami, walaupun di daerah terpencil di pesisir dan dengan alat seadanya kami mencoba terus dan terus berkarya,” ulas pihak band terus terang.

Secara resmi, End Of Circle yang banyak terpengaruh pola musikal dari band-band dunia seperti Asking Alexandria dan Miss May I ini mulai menggeliat pada 8 Oktober 2011, namun cikal bakalnya sudah eksis sejak September 2008 silam saat masih menggunakan nama Raining In April. Dalam perjalanannya, perbedaan konsep di antara personel End of Circle lantas menggiring band tersebut untuk memutuskan ganti nama. Nama End of Circle dipilih karena menggambarkan filosofi siklus kehidupan, dimana manusia terlahir dari tidak ada dan pada akhirnya akan kembali ke tidak ada saat ajal menjemput. “Jadi kita di dunia bukan apa-apa, nggak perlu ada yang disombongkan dari diri kita. Jadi mendingan ngelakuin hal yang ingin kita kejar dari pada tidak sama sekali.”

Untuk mendapatkan perhatian dari skema metal di Indonesia, para personel End Of Circle sama sekali tidak menganggap jarak geografis sebagai penghambat laju karir mereka. Sampai hari ini, mereka sudah pernah menjajal berbagai panggung di Tangerang, Jakarta, Bekasi, Depok, Bandung higga Surabaya, serta tentunya, daerah seputaran kota kelahiran mereka, seperti Labuan, Pandeglang, Rangkasbitung, Serang dan Cilegon. “Meskipun kami berasal dari daerah terpencil, jarak tidak menjadi batasan kami untuk bermusik. Kami selalu percaya, hal yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan hasil yang maksimal. Yang penting happy, nikmatin prosesnya!” (Mdy)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY