Maraknya berita tentang aktivitas para politisi koruptor belakangan yang membuat banyak masyarakat merasa jengah atau ‘boring’ (bosan) telah menginspirasi Dandelions untuk melahirkan sebuah lagu bertajuk “Blues Boring”. Dan bertepatan dengan hari bela negara, 19 Desember 2017 lalu, video klip untuk single tersebut diluncurkan secara resmi di berbagai kanal media sosial resmi – termasuk YouTube – milik unit rock & roll asal Surabaya tersebut. “Blues Boring” sendiri merupakan salah satu lagu yang termuat di album mini (EP) bertajuk “Mantra Sakti” yang telah dirilis sejak 4 Desember 2016 silam.

Konsep dari video “Blues Boring” digarap oleh Dibba Nugroho dan Arie Ruse, mahasiwa yang mengambil prodi sinematografi di salah satu kampus ternama di Surabaya. Mereka berkeinginan menyampaikan pesan dari lirik yang tersirat di “Blues Boring” sebagai bahan dari tugas kampus. Di video tersebut, Dibba dan Arie menyampaikan simbolisasi kejenuhan situasi politik dan masyarakat lewat sosok Anja yang bertatto, sebuah karakter yang digambarkan sangat lekat dengan tipikal manusia yang biasanya ‘ditolak’ masyarakat dan aspek pemerintahan. Jadi selain permasalahan politik, Dibba dan Arie juga menyoroti keadaan sosial. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana masyarakat memiliki standar masing-masing terhadap hal-hal yang dianggap ‘baik’ dan ‘benar’. Karakter Anja di sini muncul untuk ‘breaking the sterotypes’ yang bosan dengan aturan-aturan yang berlaku.

Referensi seputar rock ’n roll dan blues sangat mendominasi pengolahan aransemen di lagu “Blues Boring”. Malah menurut Ucup, bassis Dandelions, ada suntikan nuansa Texas blues di sana. “Karena influence masing-masing personel datang dari Jimi Hendrix sampai Janis Joplin,” paparnya kepada MUSIKERAS.

Dandelions yang dihuni formasi Njet. S (vokal), Bayu (gitar), Rafzan (dram) dan Ucup juga mendengarkan The Rolling Stones, The Doors dan bahkan gitaris blues Stevie Ray Vaughan. “Saya menulis lagu ‘Blues Boring’ setelah mendengarkan lagu ‘Roadhouse Blues’-nya The Doors,” cetus Njet. “Kalo ngomongin referensi jelas nada blues yang menginspirasi kami buat lagu ini, dan juga (setelah) ngeliat konser Stevie Ray Vaughan di YouTube,” imbuh Bayu mempertegas.

Selain “Blues Boring”, album “Mantra Sakti” juga memuat lagu berjudul “Mantra Sakti”, “Bukan (Playboy)”, “Seperti Rolling Stone” dan “Impor”. Semuanya digarap selama kurang lebih 3-4 tahun dikarenakan terjadinya bongkar pasang personel d itengah proses penggarapannya. Satu lagu direkam di studio Tiang Api, Sidoarjo dan sisanya di Kharisma Studio, Surabaya. “Lagu di dalam album mini ini bercerita tentang kehidupan sehari-hari hingga isu politik,” ujar Njet.

Secara keseluruhan, para personel Dandelions sangat puas dengan penggarapan album “Mantra Sakti”. Rafzan menyebut lagu “Impor” sebagai favoritnya karena kualitas musikalitas serta liriknya yang mengumandangkan kritikan terhadap pemerintah. “Indonesia kaya akan alam dan kenapa harus impor,” cetusnya.

Sekadar catatan tambahan, lagu “Impor” sendiri pernah termuat dalam album kompilasi kanal KPK RI dan dikeluarkan dalam bentuk cakram padat (CD) yang diproduseri oleh Erwin (eks Dewa19). Namun, CD kompilasi tersebut tidak untuk diperjual-belikan karena hanya digunakan sebagai materi kampanye KPK yang menyuarakan anti korupsi melalui kanal resminya.

Lain lagi pilihan Ucup. Ia menunjuk lagu “Blues Boring” dan “Seperti Rolling Stone” sebagai lagu andalannya, jika dilihat dari segi musikalitas. “Karena topiknya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dan lagu tersebut dimaksudkan untuk menceritakan ulang kejadian tersebut.” Lagu “Bukan (Playboy)” dipilih oleh Bayu karena alasan mendapatkan benih inspirasi untuk lick gitar setelah melihat permainan Jimi Hendrix. “Lagu sakral yang pernah Dandelions ciptakan menurut saya,” tandasnya. Sementara menurut Njet, kepuasan dirinya tersalur di lagu “Mantra Sakti” yang dianggapnya kental nuansa musik era 1970-1980-an. “Lagu ‘Mantra Sakti’ juga merupakan lagu pertama yang direkam dan pertama kali saya rekaman, jadi punya kesan tersendiri bagi saya.”

Jauh sebelum Dandelions terbentuk, Njet udah mengumpulkan beberapa materi lagu dan membayangkan punya band seperti The Rolling Stones. Dan setelah bertemu dengan gitaris Adiee, lalu disusul Ucup, Bayu dan Rafzan, Njet pun merasa impiannya itu terwujud. Pada awal 2013, Dandelions pun resmi terbentuk. Nama Dandelions sendiri diambil dari nama bunga liar berwarna kuning yang dipilih untuk membawa kembali semangat Flower Generations (generasi bunga). Generasi bunga adalah sebutan generasi anak-anak muda Amerika kulit putih pada era akhir ’60-an hingga pertengahan ’70-an, yang muncul sebagai counter culture terhadap budaya kemapanan. Generasi ini juga sering disebut sebagai kaum Hippies dengan semangat “fight with flower” (lawanlah dengan bunga) yang konsisten menyuarakan perdamaian, kesetiakawanan, ketidakadilan, anti pemerintahan korup dan kepedulian terhadap lingkungan. “Energi itu yang ingin kami tularkan pada generasi muda Indonesia!” (Mdy)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY