Salah satu unit deathcore paling berbahaya di skena musik independen saat ini, Byebye Bunny belum lama ini akhirnya meluncurkan video klip terbarunya. Kali ini yang terpilih adalah single “Legacy”, yang ditarik dari album debut bertajuk sama, rilisan Beholder Records pada 2016 lalu. Sebelumnya, band asal Bandung yang kini dihuni Anggun (vokal), Hanang (bass), Panda (dram) dan Arie (gitar) tersebut juga telah menggulirkan video klip untuk single “Luka” serta versi live lagu “Anagram”.

Baik “Legacy”, maupun tujuh lagu lainnya di album tersebut digarap Byebye Bunny dengan memaksimalkan referensi musikal masing-masing personelnya. Dan deathcore adalah muara yang dialiri berbagai pengaruh sub-genre lain seperti death metal modern, hardcore dan metalcore.

“Genre tersebut memiliki keistimewaan dalam hal teknik vokal, blasting drum, riff-riff gitar yang berat dan breakdown yang merupakan ciri khas musik hardcore dan metalcore. Dan sebagian besar influence di tiap personel merupakan band-band ber-genre deathcore. Oleh sebab itu Byebye Bunny memilih deathcore sebagai ‘agama’-nya,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS, menegaskan.

Sedikit menengok ke belakang, album “Legacy” sendiri memuat karya Byebye Bunny yang terkumpul sejak awal 2013, atau sekitar tiga tahun sejak terbentuk. Saat itu, formasi Anggun, Hanang, Panda dan Arie masih diperkuat gitaris Avian Mow. Materi lagu yang kebanyakan dimulai dari ide-ide permainan gitar Arie dan Avian direkam secara sederhana secara bertahap mengunakan soundcard. Setelah itu, Panda dan Hanang melengkapinya dengan isian dram dan bass. Tahap terakhir lantas dieksekusi dengan pengisian lirik oleh Anggun dan Avian.

Tapi, menurut Byebye Bunny, mereka baru benar-benar merekam materi album secara lebih serius pada 2015, yang dilakukan di Tattva Studio, dimana Anggun cs dibantu oleh pemilik studio, Yoga (Nineball) yang sekaligus bertanggungjawab dalam urusan teknis rekaman. Dan untuk memperkaya komposisi “Legacy”, Byebye Bunny mengajak kerabat mereka, Camila Triani untuk pengisian suara clean perempuan serta Agit (Lunatic Records) untuk penambahan beberapa part.

“Setelah selesai rekaman, kami sepakat menginginkan sound yang modern dengan menambahkan efek-efek sound. Setelah kami mendapatkan (proses) mixing dan mastering di luar negeri, dan sesuai yang dengan yang kami inginkan, akhirnya 2016 menjadi tahun yang tepat untuk merilis album ‘Legacy’,” ulas pihak band lagi.

Berbicara tentang konsep, ada dua hal unik yang melekat pada band Byebye Bunny ini. Pertama, adalah penerapan ‘Death Cartoon Symphonies’ pada musiknya. Menurut mereka, istilah itu mengacu pada film-film kartun horor dari Amerika Serikat yang sering mereka tonton saat kanak-kanak. “Kami lahir di tahun ‘90an, kami banyak nonton film horror kartun dari US, di antaranya berjudul ‘Ghostbuster’, ‘Count Duckula’, ‘Tales from the Cryptkeeper’. Oleh sebab itu, kami jadi suka memasukkan unsur-unsur theme song dari film-film kartun tersebut. Tidak terlalu gelap dan seram, tapi bisa untuk diterima para metalheads!”

Keunikan kedua adalah, ya… tentu saja nama bandnya. Mereka justru menghindari penggunaan nama yang ‘seram’ seperti tipikal band-band penganut musik keras. “Alasannya, kami ingin memberikan ‘efek kebalikan’, (menggunakan) nama yang ‘lucu’ tapi dapat menampilkan musik yang ‘hard’. Nama ByeBye Bunny tidak memiliki filosofi dan arti apa-apa, namun dari yang tidak berarti apa-apa ini, kami berharap bisa menjadi apa-apa!” (Mudya)

.

 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY