Hampir setahun setelah mengibarkan nama baru, unit death metal asal Bandung, Oblivium pun meluncurkan single perdananya, “Poltergeist” yang mengangkat kisah horor legendaris sebagai tema utama liriknya.

Para personelnya, yakni Gilang Praver (gitar), Diki Anugrah Senage (vokal), Yowdi Santiar (bass), Benny Juliansyah (dram) dan Ramadhani Topatunru (gitar) mengeksekusi rekamannya di Masterplan Studio serta proses penataan suara (mixing) di Sanwa Home Recording. Kini, “Poltergeist” yang dilepas sejak 17 Desember 2017 lalu ini bisa didengarkan di berbagai kanal dan gerai musik digital seperti iTunes, Spotify, YouTube, Apple Music, Amazon Music, Deezer dan sebagainya.

Lirik “Poltergeist” yang ditulis bersama oleh Gilang, Diki dan Ramadhani mengacu pada sebuah kisah tentang Anneliese Michel, seorang gadis Katolik kelahiran Jerman yang hidup pada periode 21 September 1952 hingga 1 Juli 1976 silam. Menurut penuturan Oblivium kepada MUSIKERAS, selama lebih dari 10 tahun, sosok Anneliese dirasuki oleh makhluk atau roh jahat. Ketika usianya menginjak 23 tahun, seorang teman lama keluarganya mencatat bahwa Anneliese tidak mampu berjalan melewati ikon Yesus Kristus dan menolak untuk minum air suci. Dia menyimpulkan bahwa Anneliese menderita kerasukan setan dan menyarankan untuk membawanya ke paranormal.

Anneliese lalu dibawa ke seorang dukun di kota terdekat dan kembali diperiksa. Michel diagnosis kerasukan setan. Pada saat ini, Anneliese mulai menghina, memukul, dan menggigit orangtuanya. Dia menghancurkan gigi di dinding, mulai memotong tubuhnya dengan pisau, menolak untuk makan atau minum, dan menjelaskan bahwa setan tidak akan mengizinkannya. Setelah Gereja Katolik memberikan izin, ritus eksorsisme dilakukan selama sekitar 10 bulan pada 1976. Sebanyak 67 sesi eksorsisme diadakan, satu atau dua kali setiap minggu, beberapa berlangsung hingga empat jam. Selama sesi, Anneliese menunjukkan kekuatan hampir tak seperti wanita, kadang-kadang membutuhkan tiga orang dewasa untuk menjatuhkannya. Saat ia tumbuh lebih kuat, rantai digunakan untuk mengikat dirinya di tempat tidur. Dia berbicara dalam bahasa yang berbeda dan berbagai suara. Berbicara dalam bahasa Ibrani, ia mengatakan, ‘Kami adalah orang-orang yang diam di dalamnya. Saya salah satu yang tinggal di dalam Kain!’

Selama masa eksorsisme, orang-orang di seluruh rumah bisa mendengar suara berteriak-teriak dan memecahkan kaca. Anneliese enggan ditunjukan benda-benda keagamaan hingga ia mendorongnya dan memecahkan gambar Yesus dan memisahkan rosario. Dia sering menanggalkan pakaiannya, kencing dan buang air besar di lantai. Hari terakhir dari ritus Eksorsisme dilakukan pada 30 Juni 1976. Untuk ibunya, Anneliese mengucapkan kata-kata terakhir, ‘Ibu, aku takut.’ Malam itu., Anneliese Michel meninggal dalam tidurnya. Laporan otopsi menyatakan bahwa kematiannya akibat dari kekurangan gizi dan dehidrasi.

Kepada MUSIKERAS, vokalis Diki Anugrah menuturkan, lewat lagu “Poltergeist” yang berdurasi 05:28 tersebut, Oblivium ingin menyampaikan bahwa pesan inti bahwa pada akhirnya, kebaikan akan selalu menang atas kejahatan. “Orang akan tahu bahwa iblis itu nyata. Orang mengatakan bahwa Tuhan sudah mati, tapi bagaimana mereka bisa berpikir bahwa jika saya menunjukkan iblis kepada mereka. Iblis atau setan bukanlah makhluk yang sering kali kita temui atau rasakan, melainkan sisi gelap yang selalu ada dalam jiwa manusia.”

Kisah mencekam “Poltergeist” tersebut – dari sudut penyampaian musikal – dieksekusi Oblivium lewat penerapan geberan tempo death metal yang tidak begitu cepat demi menonjolkan aksen. “Kami memasukkan unsur-unsur diminished dan minor karena faktor dari referensi yang kami serap.”

Ramuan death metal bernuansa ‘kelam’ yang dihasilkan Oblivium sendiri merupakan serapan dari musik-musik karya John Williams, Sergei Prokofiev, The Black Dahlia Murder, Cradle Of Filth, Vader, Behemoth hingga Wretched yang mereka sebut sebagai sumber referensi dan inspirasi. “Kami sangat ingin membawa pendengar untuk masuk ke dalam atmosfir musik ini,” cetus Oblivium meyakinkan.

Cikal bakal Oblivium sendiri sebenarnya sudah terbentuk sejak 27 Maret 2009 dengan nama Flesh Autopsy. Namun pada awal 2017 lalu, secara resmi diganti menjadi Oblivium berdasarkan alasan konsep musikalitas yang berbeda dibanding sebelumnya. “Selain itu, kami juga ingin mencoba suasana baru dengan nama band yang lebih ‘proper’ bagi kami.”

Saat ini, Oblivium telah memulai proses penggarapan materi untuk album perdana, yang rencananya bakal dimuati 10 amunisi lagu, terdiri atas tiga komposisi medley, enam trek reguler serta sebuah komposisi instrumental. (Mudya)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY