Januari 2018 bisa dibilang menjadi awal tahun yang lumayan menyedihkan bagi publik musik keras di seluruh dunia. Ya, setelah kematian vokalis The Cranberries, Dolores O’Riordan pada 15 Januari lalu, kini muncul berita mengejutkan dari kubu dua unit rock/metal legendaris dunia, yakni Rush dan Slayer. Kedua band tersebut – baru-baru ini – mengumumkan sudah atau bakal menyudahi perjalanan karir mereka.

Rush, setelah berkarir selama empat dekade, akhirnya menyatakan penutupan perjalanan karirnya. Kepada media Globe And Mail, gitaris Alex Lifeson menegaskan niat tersebut. “(Kini) sudah lebih dari dua tahun sejak tur terakhir kami, kami tak ada lagi rencana untuk melakukan tur atau rekaman lagi. Pada prinsipnya kami sudah selesai. Setelah 41 tahun, kami merasa sudah cukup.”

Salah satu pemicunya adalah kondisi kesehatan dramer mereka, Neil Peart yang membuatnya enggan melakukan tur lagi. Dan bagi Alex dan Geddy Lee (vokal/bass/kibord), situasi tersebut merupakan pertanda untuk menghentikan laju band mereka. Karena Rush tidak akan meneruskan karir jika salah satu di antara mereka tidak bisa berpartisipasi.

“Kami tidak akan merekrut personel baru dan melanjutkan karir. Rush bukan band semacam itu, dan kami tak pernah mau melakukannya,” cetus Alex menegaskan.

“Kami selalu menyatakan bahwa jika salah satu dari kami tidak terlibat, maka kami tidak ingin melakukan apa pun,“ timpal Geddy Lee. “Jika ada satu orang yang tak mau lagi melakukan hal yang justru saya sukai, itu menyedihkan. Tapi tak ada lagi yang bisa kami lakukan karena (keputusan) itu bagian dari kesepakatan kami. Itu cukup adil.”

Karir Rush mulai bergulir di Kanada pada 1968 silam. Namun formasi trio terbaiknya yang diperkuat Alex, Geddy dan Neil baru terbentuk enam tahun kemudian. Rush telah melahirkan 20 album studio dengan angka penjualan keseluruhan diperkirakan telah mencapai lebih dari 65 juta keping di seluruh dunia.

Mike Portnoy, mantan dramer Dream Theater, menyatakan kesedihannya atas berakhirnya karir Rush. Namun kepada radio The Chainsaw Symphony, Mike yang mengidolai Neil Peart sangat menghargai keputusan tersebut. “Saya tumbuh mendengarkan Rush dan menjadi fans berat mereka saat saya masih remaja di era ‘80an. Menyedihkan semuanya harus berakhir, tapi kita harus menghormati (keputusan) itu. Jika mereka tidak bisa melanjutkan karena alasan kesehatan fisik, maka mereka tentunya tidak akan bisa memenuhi apa yang diinginkan para penggemarnya.”

Slayer sendiri mengumumkan rencana pengunduran dirinya lewat sebuah siaran video yang menayangkan potongan-potongan artikel koran, poster-poster dari awal karir hingga foto-foto formasi sejak era awal hingga kini. Slayer yang kini dihuni formasi Kerry King (gitar), Tom Araya (vokal/bass), Paul Bostaph (dram) dan Gary Holt (gitar) tersebut berencana bakal menggelar tur dunia yang terakhir kalinya, yang dimulai di wilayah Amerika Utara bersama Lamb Of God, Anthrax, Testament dan Behemoth.

Sejak tahun lalu, lewat wawancaranya dengan media Loudwire, Tom Araya sebenarnya memang sudah memberi sinyal mengenai akhir karir Slayer. Saat itu ia mengungkapkan keinginannya untuk beristirahat dan memilih lebih fokus pada urusan keluarga. “Setelah 35 tahun, sudah saatnya saya mengambil pensiun. Ini sebuah pergerakan karir. Saya sangat bersyukur kami bisa bertahan selama 35 tahun, sebuah waktu yang sangat panjang. Saat kami memulainya, segalanya seru karena kami masih muda. Dan kini datang saat dimana saya menjadi kepala keluarga, dan mulai merasa berat untuk bepergian ke mana-mana.”

Setelah pengumuman pamit dari Slayer tersebut ditayangkan, pentolan Megadeth, Dave Mustaine langsung bereaksi via akun Twitter resminya. “Saya berharap paling tidak ada satu konser “Big 4” lagi sebelum tur final Slayer berakhir. Itu yang paling tepat. Ada yang setuju dengan saya?”

Slayer yang dibentuk oleh duo gitaris Kerry King dan mendiang Jeff Hanneman di Huntington Park, California AS pada awal era ‘80an merupakan salah satu raksasa dalam sejarah thrash metal dunia, bersama tiga monster “Big 4” lainnya, yakni Metallica, Megadeth dan Anthrax. Salah satu album yang melejitkan nama mereka adalah “Reign in Blood” (1986). Sampai saat ini, Slayer telah merilis 12 album studio dan dua album konser. Hasil penjualan seluruh albumnya, hingga hari ini, sudah mencapai lebih dari lima juta keping.

“Repentless” adalah album ke-12 Slayer yang dirilis pada 11 September 2015 lalu, dan merupakan album pertama yang menghadirkan kontribusi permainan gitar dari Gary Holt, gitaris Exodus, album pertama yang melibatkan dramer Paul Bostaph sejak album “God Hates Us All” dan juga album pertama yang tidak melibatkan mendiang gitaris Jeff Hanneman yang meninggal pada 2013 silam. (MK02)

Kredit foto: Andrew Stuart (Slayer)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY