“Saat saya menulis album ini, saya bangun pukul 4.30 pagi, hampir setiap hari, dan menulis lagu.”

Ungkap Robb Flynn, vokalis dan gitaris unit metal Machine Head, tentang awal proses penggarapan album terbaru bandnya, “Catharsis” yang telah dirilis kemarin, 26 Januari 2018 via Nuclear Blast Records. Karya rekaman tersebut diedarkan dalam berbagai format, termasuk digital serta sebuah paket CD/DVD digipak yang memuat rekaman aksi panggung Machine Head di Regency Ballroom, San Fransisco pada 2015 lalu. Proses rekaman “Catharsis” digarap di Sharkbite Studios, Oakland, California bersama produser Zack Ohren dan Robb Flynn sendiri.

Penulisan lagu yang dilakukan Robb menghasilkan 80% materi yang ia sebut ‘sampah’. Tapi 20% sisanya – yang ia rangkai di “Catharsis” – adalah ‘emas’. “Hal yang saya sukai kali ini adalah, kami benar-benar bersih dan tanpa basa-basi. Benar-benar tanpa bahasa metaforis, kasar atau vulgar. Kami sekarang menggunakan bahasa yang dipakai orang-orang di jalan. Anda akan tahu persis tentang apa yang kami nyanyikan. Kami melepas banyak ekspresi emosional di album ini,” ulas Robb lewat siaran pers “Catharsis”.

“Catharsis” yang berdurasi 75 menit memuat 15 trek tentang erupsi kepedihan dan kemarahan, serta harapan dan kebahagiaan, baik dari segi lirik maupun sisi musikal. “Album ini seperti sebuah film, film yang berdurasi sangat panjang, semacam ‘Lord Of The Rings’. Banyak sekali lagu istimewa di dalamnya. Ada beberapa yang brutal, tipikal Machine Head. Tapi kami juga memasukkan elemen pop. Saya merasa metal bisa menembus mainstream dengan album ini. Banyak pemikiran dalam pembuatan lagu-lagunya agar bisa menggapai pendengar yang lebih luas. Ide-ide dan hook-nya dibuat lebih sederhana. Sebuah album yang sangat berpotensi untuk menjadi kuat,” papar Robb percaya diri.

Dan saat menggarap “Catharsis”, Robb, Jared dan personel lainnya, yakni Phil Demmel (gitar) serta Dave McClain (dram) tak ingin melakukannya secara terpisah. Tak ada proses saling mengirim ide via email. Setiap personel saling berkontribusi, saling berkolaborasi.

“Dianggap aneh saat ini, (jika) ada empat musisi berkumpul bersama dalam satu ruangan,” ujar Robb lagi. “Kami menjalani petualangan ini bersama-sama, membentuknya bersama… dibutuhkan kerja keras untuk menjadi sebuah band. Orang selalu bertanya; ‘Kenapa musik-musik jauh lebih bagus sebelumnya (masa lalu)?’ Karena mereka bekerja keras untuk itu. Anda mendengar The Beatles berlatih selama 100 hari berturut-turut di Hamburg, (Bruce) Springsteen merekam album ‘Born To Run’ selama enam bulan, atau (Lynyrd) Skynyrd berlatih 6 jam sehari di Florida…. Buat kami, itulah sebabnya kenapa musik di masa itu sangat kuat… (karena) mereka benar-benar kerja keras sebagai sebuah band dan berkarya sebagai sebuah band.”

Machine Head lahir di California, AS pada Oktober 1991, di tengah ganasnya gelombang grunge. Berawal dari ketidakpuasan Robb Flynn di bandnya sebelumnya, Forbidden dan Vio-lence. Ia lantas hengkang dan mengajak Adam Duce (bass), Logan Mader (gitar) dan Tony Constanza (dram) untuk membentuk Machine Head. Saat merilis album debut “Burn My Eyes”, Machine Head mendapat sambutan positif di Eropa dan langsung menarik perhatian acara MTV’s Headbangers Ball di Amerika. Sayangnya, gempuran grunge di Amerika mengaburkan sosok Machine Head dari perhatian. Pada 2002, Robb dan kawan-kawan hampir membubarkan Machine Head setelah mendapat tekanan dari labelnya saat itu, Roadrunner Records serta para media, setelah salah satu video lagunya yang bertajuk “Crashing Around You” menampilkan gedung-gedung yang terbakar. Para media menarik penayangan video tersebut karena perilisannya hanya sekitar tiga minggu setelah tragedi serangan teroris yang merubuhkan gedung kembar Wall Trade Centre pada 11 September 2001 silam.

Namun setahun kemudian, Machine Head kembali bekerja sama dengan Roadrunner dan merilis beberapa album, termasuk “The Blackening”, album rilisan Maret 2007 yang berhasil masuk nominasi Grammy Awards ke-50 untuk kategori “Best Metal Performance” lewat lagu “Aesthetics of Hate”. Sampai saat ini, keseluruhan penjualan album Machine Head mencapai angka lebih dari tiga juta keping di seluruh dunia. Pada 22 Februari 2013, bassis Adam Duce dipecat dari formasi Machine Head sehingga hanya menyisakan Robb Flynn sebagai satu-satunya pendiri Machine Head yang masih bertahan. (MK03)

Kredit foto: Albert Tatlock

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY