Berangkat sebagai penggeber lagu-lagu Japanese punk seperti Shank, Monoeyes, Totalfat dan Four Get Me A Nots, perlahan unit rock asal Bandung yang terbentuk pada pertengahan 2017 lalu ini mulai mengguratkan karakter musiknya sendiri. Punk dalam defenisi No Stack For Luck – atau yang biasa disingkat NSFL – menjadi lebih lebar dan bebas. Lewat dua single demo yang sudah mereka rilis, yakni “Go My Way” dan “Saddest Scale”, NSFL berhasil menyalurkan jiwa rebel dan freedom mereka secara lebih total.

Bagi NSFL, seperti yang mereka utarakan kepada MUSIKERAS, punk mempunyai visi yang konkret dalam menyampaikan aspirasi personal bertemakan ‘pemberontakan dan kebebasan’ yang akan selalu ditemui di setiap tingkatan usia dengan beragam problematikanya sendiri.

“Hal ini, mungkin, yang secara tidak langsung menjadi pemicu kami bersatu. Karena secara rentang usia tiap member cukup jauh satu sama lain, yang pada akhirnya juga melahirkan sudut pandang berbeda yang variatif dan unik, sehingga tidak mudah dalam menentukan konsep bermusik. Praktis punk-lah satu-satunya yang cocok untuk mewakili tingkatan pemikiran kami masing-masing.”

Meski begitu, lanjut NSFL lagi, mereka tidak ingin sepenuhnya dikenal sebagai band punk. Karena rencananya, ke depannya mereka akan lebih banyak bereksperimen di ranah rock yang lebih progresif. “Namun secara rasa, unsur punk akan tetap menjadi semangat yang mewakili setiap rilisan NSFL!”

“Saddest Scale” sendiri merupakan single demo terbaru yang diluncurkan sejak 13 Januari lalu, dengan konsep aransemen yang lebih melodius berjudul Saddest Scale. Di sini, Nara (vokal), Mr. Pur (gitar), Chandra (bass) dan Qays (dram) berbicara tentang sedalam apa indikator keterpurukan akan kehilangan seseorang yang kita cintai dapat diukur serta bagaimana seharusnya kita menyikapinya.

Sebenarnya, tadinya “Saddest Scale” tidak disiapkan sebagai single, melainkan hanya sebagai pendamping single demo perdana, “Go My Way” yang telah diluncurkan sejak 31 Agustus 2017 lalu. Format awalnya pun akustik. Namun berhubung beberapa materi yang mereka siapkan untuk demo-single kedua dirasa belum ada yang memenuhi ekspektasi, maka para personel NSFL pun memutuskan untuk memermak aransemen “Saddest Scale” ke format band.

“Jujur saja hasilnya pun di luar perkiraan, sehingga tanpa pikir panjang lagi, kami mencapai kata sepakat untuk merilis lagu itu sebagai demo-single kedua. Kesulitannya juga jauh lebih menantang, terutama dari segi aransemen musik yang lebih variatif serta di sektor vokal yang secara teknis perlu penghayatan emosional yang lebih dalam. Karena kami harus membuat nuansa sedih dalam balutan ketukan punk yang mengentak. Seluruh proses produksi dari mulai rekaman sampai mixing kami lakukan di sebuah home studio di Bandung dan tidak terlalu memakan waktu lama, namun melalui lebih banyak pertimbangan, terutama soal rasa.”

Setelah kedua single tersebut, NSFL selanjutnya bakal merilis dua single lagi, yang merupakan bagian dari rangkaian empat conceptual demo-single. Dua single berikutnya juga akan dirilis tahun ini. Dan secara konseptual, aransemen musiknya pun kembali akan membawa nuansa yang berbeda.

“Namun tetap dalam satu benang merah, yakni semangat punk; baik dari segi musik maupun liriknya. Itulah mengapa kami lebih senang dengan istilah demo-single ketimbang single, karena masih bersifat eksperimental dan konseptual. Jadi masih belum ada wacana untuk meneruskan ke pembuatan album,” urai mereka diplomatis.

Jika ingin mendengarkan “Go My Way” dan “Saddest Scale”, silakan mengunduhnya secara gratis di http://nsfl.wagomu.id/. (Mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY