Tidak mudah menjaga keeksisan sebuah band jika salah satu personel berada di lokasi berbeda. Manumanasa salah satu contohnya. Unit heavy rock asal Tangerang Selatan ini kesulitan mengatur waktu untuk merampungkan materi album pertamanya karena bassisnya, Nikolas “Bas” Bastanta harus bekerja di negara tetangga, Malaysia.

Meski demikian, perlahan tapi pasti, band yang juga dihuni Anbiya “Biya” Yasmine (vokal), Yohanes “John” Devin (gitar) dan Apriano “Ano” Prasetyo (dram) bisa mengakali kendala tersebut dan tetap menggarap proses rekamannya.

“Sejauh ini progres sudah sekitar 30% – 40%, karena beberapa materi ada yang belum direkam dan kesulitan mencari waktu untuk rekaman. Dan juga ada sedikit ubahan pada beberapa materi yang sudah direkam,” ungkap pihak band kepada MUSIKERAS, optimistis.

Sambil terus menjalani fase pengumpulan materi album, salah satu lagunya yang bertajuk “Mind Tricker” pun diluncurkan secara resmi via kanal Bandcamp, Soundcloud dan YouTube sejak akhir 2017 lalu. Di lagu tersebut, Manumanasa mengisahkan seseorang yang mengonsumsi sesuatu hal secara berlebihan. Terbutakan, merasa gelisah, merasa takut tetapi telah terperangkap oleh hal tersebut. Penyesalan hadir tanpa henti.

“Untuk tema lirik, kami lebih sering terinspirasi dari keadaan sekitar pertemanan kami. Lebih ke keadaan sosial,” cetus Manumanasa menegaskan.

Para personel Manumanasa mengantarkan kisah di lagu tersebut dengan geberan musik berkontur Desert Rock yang cepat, konstan dan keras. Diberi sentuhan vokal yang mengawang, gitar yang kasar, bass yang menggelegar serta entakan dram yang kotor. Hasil dari leburan kontribusi dan ide-ide para personel saat latihan. 

“Mind Tricker” sendiri direkam di Rebuilt 40.1.24 Studio di Bandung. Penggarapan rekamannya hanya menghabiskan waktu selama lima hari. “Alhamdulillah, tidak ada kendala dan semua berjalan lancar. Karena saat itu kami masih dalam masa kuliah dan lebih mudah untuk melakukan aktivitas-aktivitas band.”

Adalah gagasan Ano dan John pada 2014 silam yang menghidupkan Manumanasa, yang dipicu keinginan keduanya membentuk band yang lebih serius. Pada pertengahan 2015, Manumanasa pun lahir dengan serapan referensi musikal dari band-band seperti Black Sabbath, Sleep, Kyuss, Truckfighters, Lowrider, Acid King dan masih banyak lagi.

Setelah Biya dan Bas bergabung, mereka mulai fokus menggarap demo lagu. Dan pada Januari 2016, Manumanasa pun merekam demo pertamanya di ALS Studio, Rempoa, Tangerang Selatan. Lalu pada April 2016, mereka merilis demo lagu “Unknown World” via kanal Soundcloud dan YouTube. Pada Januari 2017, demo kedua berjudul “The Land of Lost” juga dirilis lewat Soundcloud dan YouTube.

Rencananya, sekitar pertengahan 2018 mendatang, Manumanasa akan merilis album penuh dalam bentuk rilisan fisik maupun digital. (Mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY