Berawal dari ketidaksengajaan, akhirnya menjadi serius. Itulah yang dialami para personel Undead Cadaver, sebuah unit cadas asal Samarinda yang akhirnya memilih mengeksplorasi kontur Slamming Death Metal sebagai identitas musikalitasnya. Genre yang lantas mendominasi “Slamarinda”, album debut mereka yang juga bakal dirilis di negara tetangga Malaysia pada 1 April 2018 mendatang.

Namun, sepanjang proses penggarapan album, warna Slamming Death Metal tersebut juga mengalami pengembangan, dimana aksen groove ikut mewarnai karakter musik Undead Cadaver dan sekaligus menjadi warna baru di skena Samarinda.

“Yang menarik dari genre Slamming ini, dibanding death metal lainnya adalah lebih menonjolkan tema darah dan pembunuhan, atau bisa dibilang sangat kental akan explicit content. Padahal kami sendiri bisa dibilang takut terhadap darah yang mengalir atau bahkan bisa dibilang phobia. Tapi justru dari rasa takut itu kami berusaha menjadikannya sebuah karya. Kami ekspresikan melalui sebuah karya musik yang akhirnya mengantarkan kami membawa nama Samarinda dan nama Indonesia ke negara tetangga. Inti pesan yang ingin kami sampaikan adalah jangan pernah beri kesempatan terhadap ketakutan untuk mengendalikan otak kreatif kalian, dan Slamming sudah memberi kami ruang di sini,” urai pihak Undead Cadaver kepada MUSIKERAS, menjelaskan.

“Slamarinda” – yang asal katanya diambil dari paduan ‘slamming’ dan ‘samarinda’ – direkam Resky Mandala (vokal/gitar), Kiky Bongkeng (bass/bass) dan Candra Camo (dram) di sebuah home recording milik teman mereka, Ardee yang merupakan gitaris dari grup The Last Destiny. Proses penggarapannya berlangsung selama sekitar tiga bulan, yang diselingi beberapa kendala teknis seperti biaya dan manajemen waktu. “Karena kami memiliki kesibukan masing-masing yang sulit ditinggalkan pada waktu tertentu.”

Tentang perilisan “Slamarinda” di Malaysia sendiri, menurut Undead Cadaver, merupakan sebuah proyek yang tak terpikirkan sebelumnya. “Kami mendapat kepercayaan dari EO (event organizer) di sana yang bernama Apo Jang, manajer Secret Agenda, untuk melaksanakan perilisan album kami di kota mereka, Kuala Lumpur. Tepatnya di Rumah Api, dimana Rumah Api itu sendiri adalah wadah skena lokal di sana yang rutin melaksanakan event setiap bulan, dan sering dikunjungi oleh kawan-kawan dari Eropa maupun Asia.”

Undead Cadaver terbentuk di 2014, yang berawal dari tongkrongan sederhana di kawasan Samarinda Seberang. Diawali oleh formasi Andra (vokal), Aji (gitar), Hari (bass) dan Candra (dram), serta sempat pula diperkuat oleh vokalis Odie dari Crixalis. Dari segi musikalitas, Undead Cadaver banyak dipengaruhi oleh band-band slamming seperti Acranius, Carbine, Begging For Incest, Traumatomy dan Extermination Dismemberment. (Mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY