Berawal dari ‘curhatan’ sang dramer yang sering dicemberuti istrinya gara-gara terlalu asik bermain-main dengan gawai (gadget) ketimbang meluangkan waktu bersama keluarga, maka tercuatlah ide di kepala para personel unit rock asal Semarang, Distorsi Akustik untuk menulis lagu bertajuk “Tuhan Baru Bernama Gadget”.

Ide tersebut lantas meluas, saat melihat fenomena masyarakat sekarang ini yang cenderung berubah menjadi manusia-manusia virtual yang lebih menuhankan jempol, memberi ‘like’ dan ‘comment’, ketimbang bersosialisasi dengan manusia lain di ranah kehidupan nyata. “Pelan tapi pasti, gadget merenggut bagian dari diri kita, sebagai makhluk sosial nyata tergantikan menjadi makhluk sosial media,” urai pihak band kepada MUSIKERAS.

Single “Tuhan Baru Bernama Gadget” sendiri dirilis Viko Yudha Prasetya (vokal/synth), Hersan Dipta Putra (gitar), Bahar Syafi’i (gitar), Taufik Adi (bass) dan Ragil Pamungkas (dram) sebagai pemanasan sebelum merilis album kedua berjudul “Puan”, yang kini sudah berada di tahap pengolahan mixing dan mastering. Tapi disamping itu, “Tuhan Baru Bernama Gadget” juga diikutsertakan dalam sebuah album kompilasi band indie Semarang berjudul “Peniti 6”, produksi Kayken Studio (2018).

Ada beberapa musisi, penyair dan band di Semarang yang dilibatkan Distorsi Akustik saat menggarap “Puan”. Seperti di lagu “Tuhan baru Bernama Gadget”, mereka mengajak vokalis Rahmanika (Rahmanika And The Brightside/Fat In Diet/Confess) serta komplotan pop punk, New Face New Wave untuk berkolaborasi.

Dan secara keseluruhan, konsep musikal yang diterapkan Distorsi Akustik masih berusaha mengombinasikan karakter rock band-band seperti Radiohead, Smashing Pumpkin hingga Mew. Sementara dari segi lirik, Nirvana dan NOFX menjadi kiblat prioritas mereka. “Menurut kami, di sana ada komparasi antara penulisan lirik Kurt Cobain dan Fat Mike. Keduanya pandai bermain kata dan metafora.”

Distorsi Akustik yang mulai ditasbihkan pada 2007 silam (sempat menggunakan nama Left Wing), mengambil filosofi namanya dari sinergi bunyi antara sound distorsi dan clean pada gitar sebagai pemaknaan nama band. Bagi mereka, filosofi tersebut menjadi semacam keyakinan, bahwa yang bising, sebenarnya bisa juga dimaknai sebagai sebuah kesepian. Pada 2015, Distorsi Akustik merilis album debut berjudul “Pu7ie Utomo” via label Valetna Records, dimana di salah satu lagunya yang berjudul “Mesin Pemahat Waktu” mereka dedikasikan buat Puji Utomo, gitaris mereka yang meninggal dunia sebelum album tersebut dirilis. (Mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY