Sebuah komplotan metal ekstrim/deathcore asal Jakarta, Crows As Divine mengaku mampu membuat adrenalin menjadi menggebu-gebu sekaligus menyugesti pendengarnya untuk merasakan kesedihan, jika menyimak album terbaru mereka, “Exaggeration” yang secara resmi dirilis hari ini. Selain dipasarkan dalam format digital, album tersebut juga diedarkan dalam bentuk fisik.

Para personelnya, yakni Fauzza Malaudin Tamanbali (bass), Miracle Chisara Ibrahim (dram), Hendro Prasetyo Wibisono (vokal) dan Daniel Asido (gitar) menggarap proses rekaman “Exaggeration” di Bulp Records, sebuah studio milik Ijal dari Last Goal! Party. Saat menjalaninya, mereka berhasil memenuhi target periode rekaman dan merasakan banyak kemajuan dari sisi musikal.

“Waktu rekamannya pas satu bulan, kami udah targetin biar nggak molor lagi. Ya, pasti ada beberapa kendala (saat menjalaninya), (tapi) banyak atau sedikit kendalanya nggak usah dibahas, yang penting album kami cepat selesai, siap dirilis dan bisa menyenangkan teman-teman Martyrs (sebutan untuk fans Crows As Divine). Kemajuan yang kami rasain dalam album ini sih banyak banget, cuma yang lebih menonjol itu ‘rasa’ kami menjadi lebih peka sih,” cetus Fauzza mewakili bandnya, kepada MUSIKERAS.

Keseluruhan album eksekusi musikal di “Exaggeration” sendiri didominasi geberan deathcore yang menurut para personel Crows As Divine lebih memberikan kebebasan dalam berkreativitas membuat lagu. “Mau liriknya kemetalan masuk, lirik lagu yang sedih juga masuk,” ungkap vokalis Pras menegaskan.

Setelah terbentuk pertama kali pada awal 2015, tidak sampai setahun Crows As Divine pun berhasil menelurkan sebuah album mini (EP) bertajuk “Sovereignty Of The Lions”. Di album “Exaggeration” sendiri memuat delapan lagu, di antaranya “Taring” dan “Martyrs Blood” yang telah dibuatkan video klip. Di lagu berjudul “Embrace the Darkness”, mereka menghadirkan vokal Daniel dari Deadsquad. Untuk referensi musik, Crows As Divine menyebut Burgerkill, Deadsquad, Jasad dan Noxa sebagai acuan mereka.

Oh ya, makna di balik penggunaan nama Crows As Divine sendiri diartikan para personelnya bukan sebagai pembawa sial, seperti yang selama ini banyak dipercaya orang. “Maksud dan tujuan adalah, kami ingin membuat kebalikannya, mematahkan tahayul tersebut. ‘Burung Gagak sebagai pertanda kebaikan’, untuk meyakinkan bahwa musik yang kami bawakan itu bukan tentang main asal gerabak-gerubuk aja. Musik keras ini bisa jadi hal yang indah, (karena) ada seni di dalamnya!” (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY