Kesulitan mencari waktu luang di antara kesibukan para personelnya memang selalu menjadi masalah klasik di sebuah band. Tak terkecuali unit thrash metal asal Semarang ini. Geram butuh waktu selama hampir tujuh tahun untuk berkontemplasi, lalu merangkumnya selama setahun dalam format album mini (EP) bertajuk “Rimba”.

“Rimba” telah dirilis pada awal April 2018 lalu dalam format cakram padat via Scattered Brains Society Records, memuat tujuh lagu yang direkam di Coco Home Studio dan melewati tahap mixing dan mastering di iWod Creative Labs. Walau progresi penggarapannya terbilang lamban, namun para personel Geram – yakni Rio (vokal), Hatta (gitar), Oky (gitar), Adi (bass) dan Eza (dram) – mengaku tak mengalami kendala berarti selama menjalani proses rekaman.

“Yang sulit adalah bagaimana kami dapat mencari waktu di sela kesibukan masing-masing personel. Tapi pada akhirnya, semua bisa terselesaikan dengan baik,” ungkap pihak Geram kepada MUSIKERAS.

Mengapa memilih judul “Rimba”?

Menurut pihak Geram, dalam rimba belantara ada berbagai macam mahluk hidup. Di dalamnya pula, terdapat suatu hukum yang mengatur di mana yang kuat adalah yang berkuasa. Hal itulah yang mereka angkat sebagai representasi atas situasi dalam negeri, bahkan di belahan dunia mana pun. Gambaran ‘Rimba’ sendiri sebenarnya sudah dirangkum oleh para nenek moyang lewat ‘Gunungan’ dalam tradisi pewayangan, yang lantas disepakati menghias desain sampul album “Rimba”, garapan seniman sekaligus musisi asal Semarang, Lutfi ‘Debronzes’ (Syndrome).

Di luar urusan lirik, konsep musikalitas juga menjadi fokus utama Geram, sebagai identitas tersendiri bagi band cadas ini. Mereka menyodorkan komposisi thrash metal yang groovy dengan tipikal suara modern, yang sarat bauran pengaruh dari band-band panutan mereka seperti Sepultura, Exodus, Pantera, Metallica, Slayer, Amthrax dan Megadeth. Lantas ramuan itu dibubuhi elemen kebudayaan lokal seperti Geguritan dan juga representasi secara visual di sampul albumnya, “Gunungan Wayang”. Sebuah kolaborasi apik antara thrash metal dengan budaya tradisional, yang mana sesuai dengan misi Geram sebagai agen Nguri-uri Budaya Jawa.

Untuk menajamkan konsep tersebut, Geram tidak mengeksekusinya sendiri. Terdapat beberapa karya hasil kolaborasi, salah satunya bersama pentolan grup veteran Radical Corps, Rudy Murdock. Rudy mengisi lini vokal di lagu berjudul, “Regulasi Penindas”. Tak hanya itu, Geram juga melibatkan Kholis Ketawang, seorang mahasiswa jurusan Sastra Jawa, untuk membacakan Tembang Macapat, “Serat Kalatidha” pada nomor pembuka berjudul “Serat”, serta melantunkan tembang “Dhandanggula” pada nomor “Religion In Peace”.

Lagu yang disebut terakhir, serta komposisi lain yang berjudul “Konspirasi Ambisi” menjadi dua lagu yang cukup membanggakan dan memuaskan bagi Geram dari segi musikalitas.

“Kedua lagu tersebut merupakan materi yang benar-benar fresh setelah sekian tahun, kami tidak bersama-sama membuat lagu baru. Selebihnya ada pada referensi dan eksplorasi riff yang lebih segar, dibalut ketukan yang cepat sehingga menjadi kepuasan tersendiri bagi kami. Untuk ‘Religion In Peace’, kami ingin lagu ini bisa mengangkat isu pluralisme dengan melakukan kolaborasi bersama seorang mahasiswa jurusan Sastra Jawa untuk mengisi beberapa tembang dan serat-serat Jawa. Ini juga menjadi kebanggaan kami dapat mengolaborasikan unsur kebudayaan tradisional dengan musik yang kami mainkan,” urai pihak band lebih lanjut.

Geram terbentuk di Semarang pada 23 September 2009 silam dengan formasi yang masih bertahan hingga hari ini. Mereka kebetulan menuntut ilmu di bangku sekolah yang sama, lalu sepakat mengibarkan thrash metal yang belum banyak dianut band-band Semarang saat itu. Cikal bakalnya dimulai sejak 2007 lalu mencetuskan nama Geram dua tahun kemudian. Walau saat ini ada beberapa band yang juga menggunakan nama Geram, namun Rio, Hatta, Oky, Adi dan Eza tidak mau ambil pusing.

“Ya, kami tahu betul (banyak band menggunakan nama Geram) dan menyadari itu. Bahkan dulu, sempat ada yang mamakai nama dan mengusung genre musik yang sama dengan kami. Menurut kami tidak ada yang perlu dibawa terlalu serius untuk membedakan. Toh, dari penulisan dan logo saja sudah beda,” cetus Geram diplomatis. (Mdy/MK02)

.

 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY