Masih mengemas distorsi rapat dengan ketukan yang catchy nan young-ish, Starwick akhirnya berhasil lepas dari jebakan kevakuman lewat sebuah album mini (EP) debut bertajuk “Picture of Tomorrow” yang bakal dirilis pada 21 April 2018 mendatang.

Starwick sendiri bukan nama baru di skena musik independen Jakarta. Terbentuk sejak 2004, band yang sejak 2011 dihuni formasi tersolidnya, yakni Dindin (gitar/vokal), Arvi (bass), Arman (gitar) dan Anto (dram) ini kerap disebut sebagai salah satu kompatriot pengusung geek rock.

Sebelumnya, karya-karya rekaman mereka sudah tertuang di berbagai rilisan kompilasi, di antaranya lagu “In My Room” yang termuat di album “Pesta Bintang Compilation” rilisan Musick Entertainment-Invect Arts, Malaysia (2006), lalu single “Skinny Gigantica” di album “Geek Rock Compilation” rilisan Paviliun Records, Indonesia (2009) dan single “Just Fair” yang menghiasi rilisan kaset “A Typical Moment You Would be Happy to Put on Repeat Compilation” (2012, Bah! Records, Indonesia).

Di “Picture of Tomorrow” sendiri memuat enam trek, yakni “Intro-Domestic Violence”, “One with Harmony”, “Just Fair”, “Star”, “Picture of Tomorrow” dan “How the Story Ends”, yang digarap Starwick di Studio Ario, Bekasi dan di Studio Teras Belakang, Tangerang. Saat menjalani penggarapan rekamannya, para personel Starwick selalu didampingi Ario Hendarwan (The Adams) yang mengeksekusi mixing sekaligus merangkap sebagai produser. Sosok Ario inilah – yang menurut Starwick – memegang andil besar dalam menjaga benang merah konsep musikal Starwick di “Picture of Tomorrow”. Maklum, mereka menjalani proses rekaman tanpa konsistensi jadwal.

“Sesuai dengan berkembangnya waktu, maka (ada) keinginan untuk mengembangkan materi menjadi lebih baik. Pusat produksi ada di produser kami, Ario Hendarwan. Dia selalu ada di proses perekaman materi dan menjaga benang merah hasil produksi rekaman sehingga secara kualitas dan materi tetap terjaga sesuai dengan koridor tujuan akhir produksi,” urai pihak Starwick kepada MUSIKERAS, menegaskan.

Selain Ario, beberapa musisi lainnya juga turut berkontribusi dalam melancarkan proses produksi rekaman “Picture of Tomorrow”. Ada Rully Pratama Putra, Gigih Suryoprayogo (The Adams) serta Pandu Fathoni (The Adams, Morfem) yang menangani urusan teknikal rekaman. Sementara untuk proses pelarasan suara (mastering), mereka mempercayakannya pada Steve Corrao di Sage Audio, Nashville, Amerika Serikat.

Sebenarnya, bisa dibilang enam trek yang menghiasi “Picture of Tomorrow” tersebut merupakan rangkuman dari perjalanan karir Starwick yang tidak bisa dibilang pendek! Mereka menyebar materi di beberapa kompilasi bahkan situs-situs media sosial sejak 2004-2012, dan beberapa materi lama itulah yang kini bertemu dengan sejumlah materi baru dalam sebuah rumah bernama “Picture of Tomorrow”.

“Sebenarnya sejak 2011 sampai 2013, itu kami terus melakukan proses rekaman, tapi memang belum waktunya aja kali ya, sehingga hanya lagu ‘Just Fair’ yang bisa diselamatkan dan kemudian menjadi rilisan Bah! Records (A Typical Moment You Would be Happy to Put on Repeat Compilation, 2012),” urai Dindin.

Secara musikal, konsep dasar yang diterapkan Starwick di “Picture of Tomorrow” menampilkan rock alternatif yang dieksekusi dengan terapan produksi jaman sekarang. “Karena kami tumbuh dan berkembang di era ‘90an,  maka musik yang tersampaikan melalui ‘Picture of Tomorrow’ sangat terasa aroma Weezer, Ozma, Pavement dan influence band lain pada masa keemasan itu.”

Ya, ihwal terbentuknya Starwick sendiri memang tak jauh-jauh dari Weezer, tepatnya lahir dari komunitas Weezerian. Namun pada 2006 silam, mereka mulai serius memainkan karya sendiri, saat situs Myspace sedang booming. Nama Starwick sendiri diambil dari nama kibordis Ozma, sebuah band rock asal California yang secara musikal juga sangat terpengaruh Weezer. Arvi dan Dindin adalah kakak-beradik yang sudah ada sejak band ini mulai memainkan lagu sendiri di era Myspace. (Mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY