Bertempat di Spasial, Bandung pada Jum’at, 20 April 2018 lalu, kerumunan Koilkillers yang antusias bersuka cita merayakan peringatan 17 tahun perilisan album “Megaloblast”, milik unit rock senior Bandung, Koil. Koilkillers sendiri merupakan sebutan untuk para pemuja Koil. 

Malam itu, formasi terkini – JA “Otong” Verdijantoro (vokal), Donnijantoro (gitar), Leon Ray Legoh (dram) dan Adam Vladvamp (bass) – menjamu audiens dengan menggeber seluruh lagu yang termuat di “Megaloblast”, di antaranya seperti “Dosa Ini Tak Akan Berhenti”, “Kesepian Ini Abadi”, “Ini Semua Hanyalah Fashion”, “Mendekati Surga” dan “Kita Dapat Diselamatkan”. Tapi sebelumnya, mereka sempat pula menggelindingkan beberapa komposisi Koil lainnya yang juga sangat dikenal. Ada lagu “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi” serta “Aku Lupa Aku Luka”.

Perayaan bertajuk “Koil Megaloblood” yang digelar dengan konsep intimate showcase tersebut cukup unik. Panggung ditebari hiasan ratusan pangsit goreng gantung berbentuk pentagram. Dan ya… pangsit tersebut asli dan kemudian ludes dimakan!

“Megaloblood” sendiri berlangsung sukses. Belum ada sepekan, tiket pra jual sudah habis terjual. Maklum, Koil lumayan lama tidak menunjukkan taringnya kembali di sebuah event spesial. Mereka terakhir kali menggelar pertunjukan khusus pada 2015 lalu, di sebuah show bertajuk “Latihan Bareng Koil” yang diadakan di Maja House, Bandung.

Selain sebagai konser perayaan 17 tahun, “Koil Megaloblood” juga merupakan bagian dari pesta pengesahan perilisan ulang album “Megaloblast” dalam format digital dan kaset. Showcase ini sengaja mengangkat album “Megaloblast” karena materi lagu-lagunya dianggap masih relevan untuk diperdengarkan hingga saat ini.

Sedikit menengok ke belakang, “Megaloblast” yang merupakan album kedua Koil banyak dianggap sebagai karya masterpiece mereka. Sebuah album yang membawa nama Koil semakin dikenal banyak orang. Dan video klip salah satu lagunya, “Mendekati Surga” sempat nangkring di chart MTV Indonesia. “Megaloblast” juga merupakan titik peralihan Koil dalam proses penggarapan yang mengarah ke ranah industrial. Proses pengerjaannya pun mulai menggunakan elemen-elemen digital seperti saat mixing dan mastering. Berbeda dibanding album sebelumnya, album “Megaloblast” yang dirilis pada Februari 2001 silam digarap secara independen dan tanpa dukungan label rekaman.

Adam Vladvamp yang baru bergabung resmi di formasi Koil pasca perilisan “Megaloblast” menyebut album tersebut berhasil menjadi lanjutan dari album pertama, tapi dengan sound yang lebih mutakhir. Di situ, Koil tetap konsisten membuat album yang bagus, baik dari segi lirik maupun musikal.

“Pada saat proses awal pembuatan ‘Megaloblast’, gua sedang bekerja di New York City (AS) selama dua tahun, jadi begitu pulang dari sana, mereka sudah punya banyak materi dan sedang proses rekaman. Gua inget nemenin Leon editing dram, dan akhirnya gua terlibat men-supervisi proses mixing dan mastering-nya. Banyak yang bilang album ‘Megaloblast’ sangat berbeda dibanding album pertama, gua kurang setuju dengan pendapat itu. Cuma memang ‘Megaloblast’ terdengar lebih berisik dibanding album pertama.”

Koil terbentuk pada 1993 silam dengan formasi awal JA Verdijantoro, Donnijantoro, Leon Ray Legoh dan gitaris/bassis Ibrahim Nasution. Pada 2007, Adam Vladvamp dari Kubik bergabung dalam formasi Koil. Namun sayangnya, dua tahun kemudian, Ibrahim Nasution memutuskan mundur dari band. Sampai saat ini, Koil telah menelurkan album “Koil” (1996), “Megaloblast” (2001), “Blacklight Shines On” (2007) dan “Blacklight” (2010). (MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY