Butuh alternatif mendengarkan musik dengan distorsi dan lirik yang mengandung keresahan? Dengarkan album terbaru Remissa yang bertajuk “Tegangan Tinggi”. Telah dirilis bulan lalu via Srawung Records dalam format fisik (CD), dan memuat isu-isu yang berkembang belakangan ini, dengan penegasan bahwa kita harus percaya siapa pun kecuali politisi!

Lewat “Tegangan Tinggi”, Remissa mengharapkan ada perubahan sederhana dalam diri para pendengar. Bahwa, kondisi di sekeliling kita masih memprihatinkan, semua harus diubah mulai dari diri sendiri lalu bersolidaritas. Konten lirik yang mengusik pendengaran, membuat hati bergetar dan pikiran berkecamuk di album ini lantas dibalut geberan distorsi garang nan berat plus tabuhan drum yang cepat.

“Dari segi musik, album ini berbeda dibanding album sebelumnya, karena formasi kami bertambah menjadi empat orang,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS, yang merilis album debutnya, “Manifesto Mimpi” pada pertengahan 2016 lalu.

Tadinya Remissa dihuni tiga musisi, yakni Bintang Mahatma (dram), Rizkytoar (vokal/gitar) dan Baron Wisnumurti (vokal/bass). Sedangkan di “Tegangan Tinggi” ini, posisi dram diemban oleh Rufa Hidayat dan Rizqtsany memperkuat lini gitar. “Dengan adanya dua personil baru tersebut tentu kami merasakan dan mendapatkan hal-hal yang baru. Proses pengerjaan materi lebih rumit dibandingkan album sebelumnya, menyatukan empat pemikiran yang berbeda-beda. Butuh waktu yang lama. Yang sangat terasa adalah nuansa musiknya, banyak riff baru yang muncul. Ketika Rizqtsany bergabung sangat mempengaruhi musik yang kami mainkan.”

Proses kreatif rekaman “Tegangan Tinggi” sendiri dimulai sejak Juli tahun lalu. Hampir satu tahun para personelnya menghabiskan waktu bersama untuk menyelesaikan album tersebut. Mereka merekamnya di Audiolectica Records,  salah satu studio rekaman di Kota Malang. Keseluruhan produksi, termasuk tracking sampai mixing dan mastering dikerjakan sendiri oleh Remissa.

“Kebetulan Rizqtsany dan Rizkytoar merupakan operator di studio rekaman tersebut, sehingga kami beruntung diberi fasilitas oleh Gus Dakar (pemilik studio Audiolectica Records) untuk menyelesaikan album ‘Tegangan Tinggi’ ini. Secara teknis kami mengambil cara yang paling gampang dikerjakan saja, tentu disesuaikan dengan biaya produksi. Contoh, kami tidak muluk-muluk harus mengikuti ‘standar rekaman’ yang ‘mayoritas’ orang sarankan. Berdasarkan pengalaman kami, yang terpenting adalah karya harus jadi. Jika alat sangat minimalis, tugasnya adalah bagaimana kita harus bisa memaksimalkan alat yang ada, dan jangan sampai karena kebanyakan mau akhirnya tidak pernah terselesaikan,” ulas para personel Remissa meyakinkan.

Adalah RizkyToar yang mulai melempar ide-ide riff, aransemen serta beberapa lirik lagu sebagai awal pengolahan “Tegangan Tinggi”. Ide-ide tersebut lantas diperdengarkan ke seluruh personel. Lantas di beberapa bagian penulisan lirik lagu, juga melibatkan Baron dan bahkan ikut menyanyikan beberapa lagu. Setelah semuanya dirasa pas, mereka pun langsung masuk proses rekaman.

“Karena kebetulan kami garap produksinya sendiri, jadi prosesnya lebih santai. Di tengah proses rekaman, kami juga melibatkan Melody (Latief), keyboardis dari Marigold, Sabiella Maris gitaris dari Closure dan Devina Abigail buat mengisi female background vocal. Dan prosesnya tergolong cepat hingga jadi sepakat, menyatukan banyak ide menjadi satu kesimpulan yang kami rasa mantap. Kerja rodi. Makanya nama albumnya ‘Tegangan Tinggi’!”

Remissa terbentuk pada 2014 di lingkungan kampus Universitas Brawijaya, di kota Malang. Diawali pertemuan Rizkytoar yang merantau ke Malang dengan  Baron yang lantas memunculkan inisiatif untuk membentuk sebuah band ber-genre grunge atau alternative rock. Di awal karirnya, Remissa kerap didera bongkar-pasang formasi. Saat merilis album debut “Manifesto Mimpi”, Rizkytoar dan Baron diperkuat oleh Bintang Mahatma. Namun beberapa kemudian, Bintang memutuskan keluar tanpa alasan yang jelas. Remissa kemudian mengajak Rufa Hidayat dan Rizqtsany untuk untuk memperkuat formasi “Manifestour 2017” yang berlangsung di tujuh kota di seputaran Pulau Jawa. (Mdy/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY