Karena disibukkan oleh rumitnya kehidupan orang dewasa membuat King Of Panda (atau kerap pula disebut “Kinopan”) sempat tertidur pulas. Cukup lama, tujuh tahun lebih menjalani masa hibernasi, sejak merilis album “Me Vs Space Army” pada 2010 silam. Tapi kini, unit pop punk asal Bali tersebut telah bangkit kembali dan mengumumkan “Back in the Game”, sebagai judul album terbarunya.

Jejak rekam yang telah dirilis 10 Mei 2018 lalu tersebut memuat sembilan trek enerjik yang keseluruhan rekamannya digarap Choqy Satria (gitar,vokal), Wahyu Indira (gitar/vokal), Wiwin Wijanar (bass/vokal) dan Gungde Yudistira (dram) di Rockness Recording Studio dengan dibantu oleh Teguh Nerakusuma untuk eksekusi mixing dan mastering.

Lirik-lirik lagunya sendiri banyak menceritakan kehidupan sehari-hari, mulai dari lagu yang menggambarkan kebanggaan para personel yang hidup di Bali sampai ungkapan blak-blakan mengenai generasi muda kita yang dilanda ketergantungan pada media digital serta sempitnya kebebasan berpendapat dan sifat tak acuh dengan situasi di sekitar mereka.

Lalu, selain menyisipkan pesan-pesan moral tentang kehidupan sehari-hari di lagu-lagunya, Kinopan juga masih mengandalkan geberan pop punk yang berbeda. “Untuk para pendengar yang sudah lama mengikuti kami, kalian harus denger album ‘Back In The Game’ dan menjadi saksi proses pendewasaan King of Panda,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, berpromosi.

“Secara musikalitas sih, sounds kami lebih bagus dibanding album sebelumnya, mulai dari distorsi yang lebih kencang sampai riff gitar yang padat. Secara keseluruhan aransemen kami kali ini lebih mateng,” ulas Choqy Satria menambahkan.

“Untuk gitar, karena sebelumnya melodi merupakan bagian dari synthesizer, di album ini melodi balik lagi ke gitar, jadi kami berusaha untuk memaksimalkan fill-fill gitar biar kerasa gak kosong,” imbuh Wahyu.

Penggarapan “Back in the Game” sendiri berlangsung beberapa bulan, dan kebanyakan musik dan aransemen dibuat bersama-sama oleh para personel, lalu digodok lagi di studio. Menurut para personel Kinopan, mereka sempat kesulitan menemukan waktu yang tepat untuk rekaman karena kesibukan masing-masing, yang di lain sisi juga harus disesuaikan dengan jadwal kosong studio. “Karena kami semua diwajibkan hadir waktu proses rekaman,” ungkap Wahyu.

Khusus untuk Wiwin yang sebelumnya mengoperasikan synthesizer, juga sempat mengalami kesulitan adaptasi untuk memainkan bass empat senar. “Karena saya baru pertama kali memainkan bass, kesulitannya jelas membiasakan bermain bass empat senar dan juga untuk mencari sound yang sesuai dengan King Of Panda.”

Namun terlepas dari kendala teknis yang mereka hadapi, Choqy, Wahyu, Wiwin dan Gungde mnegaku puas dengan kerja keras mereka dalam merampungkan “Back in the Game”. Dan ungkapan itu tertuang di lagu yang berjudul sama dengan judul album.

“Lagu yang membanggakan sih ‘Back in the Game’. Lagu itu benar-benar kehidupan nyata kami sebagai musisi dan sebagai pekerja. Sesibuk-sibuknya kami bekerja untuk kebutuhan hidup, kami tetap berusaha berkarya untuk kebutuhan passion dan hobi kami di musik untuk menyenangkan orang-orang yang sebelumnya sudah mendengarkan lagu-lagu kami.”

King of Panda yang terbentuk pada 2008 silam mulai mendapat perhatian skena pop punk Tanah Air setelah memenangkan kategori Band pendatang Baru Terbaik di ajang ICEMA (Indonesia Cutting Edge Music Award) pada 2010. Band ini meramu konsep musiknya dengan menyerap inspirasi musikal dari band-band punk rock era 2000an seperti Four Year Strong, New Found Glory, Fall Out Boy, A Day to Remember, Blink 182 hingga Set Your Goals. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY